
Jam menunjukkan pukul 12 siang. Ah lelahnya ... kuregangkan kedua tangan, agar otot-otot tak lagi pegal.
"Rai, ke kantin yuk? Laper nih," ajak Laras seraya bangkit dari duduknya.
Aku hanya mengangguk, lagi pula aku lagi malas makan di luar.
"Aku ikut, main tinggal aja." Ucap Billy dan langsung mengejar langkah kami.
Kami berjalan beriringan, sembari sesekali Billy menggodaku. Dan entah kenapa juga, Laras selalu kesal dibuatnya.
"Mba Rai, tunggu." Panggil seseorang, aku tak terlalu mengenalnga. Mungkin ia dari divisi lain.
"Iya Mba, ada apa?" Tanyaku seraya berhenti melangkah.
"Nanti setelah makan siang, Mba di suruh menghadap ke ruangan Bu Risma." Katanya sopan.
Aku masih menecerna ucapannya, aku merasa tak membuat kesalahan. Kenapa aku harus menghadap Bu bos?
"Saya permisi dulu, Mba." Pamitnya, seraya tersenyum manis.
"Eh iya, Mba." Jawabku gugup, aku masih memikirkan tentang kesalahanku.
"Duh Mba, cantiknya pake banget lagi. Samperin ah," oceh Billy.
Kulihat air muka Laras yang menjadi masam. Laras mendelik sebal ke arah Billy. Apa mungkin Laras cemburu?
__ADS_1
"Awas aja ya, kalau kamu ngejar Mba tadi." Geram Laras, membuat Billy menoleh seketika.
"Dih! Apa urusannya sama kamu? Suka-suka aku dong." Billy yang selalu ngeyel.
"Kamu kan janji mau teraktir kita. Ayo sekarang kita ke kantin."
Dengan segera Laras menyeret tubuh Billy. Dan pemuda itu hanya bisa pasrah.
*******
Detak jantungku semakin berpacu cepat, kini aku sudah berada di depan pintu ruangan Bu bos.
Aku berdehem untuk menetralkan rasa gugupku. Kuketuk pintu pelan, takut sekali mengganggu Bu Risma.
"Masuk," sahut dari dalam.
Aku segera membuka pintu, perlahan memasuki ruangan yang sangat besar ini.
Cat dengan warna biru langit dan putih ini, sangat cocok dengan karakter bu Risma yang ceria. Padahal, usia beliau telah menginjak usia 45 tahun.
"Silahkan duduk Rai," titahnya dan menunjuk kursi yang berada di hadapannya.
Segera kudaratkan bokong di kursi itu. Aku menelan ludah perlahan. Dadaku semakin berdebar-debar saja. "Kenapa pucat begitu, Rai?" Tanyanya tertawa kecil.
"Ehh, itu Bu ... saya takut berbuat salah, sehingga Ibu memanggil saya." Ucapku jujur, aku tak tahu harus berkata apalagi.
__ADS_1
"Tenang saja Rai, bukan itu kok. Maksud saya memanggilmu kemari adalah ..." beliau menggantungkan ucapannya.
Membuatku semakin takut saja.
"Saya ingin kamu menjadi asisten pribadi saya. Ke manapun saya pergi, kamu harus ikut, dan membantu presentasi saat meeting dengan klien. Apa kamu bersedia?" Tanyanya, aku terperangah mendengar tawarannya.
Apa bu Risma tidak salah memilih orang? Apalah aku yang hanyalah remahan rengginang ini? Masih banyak karyawan lain yang lebih hebat dariku.
"Gajinya lumayan Lho Rai, kamu juga bakalan sering ke luar kota atau luar negeri menemani saya. Ya hitung-hitung jalan-jalan Rai." Bujuknya, tapi aku masih bingung harus menjawab apa.
"Mm ... apa Ibu tidak bercanda?" Tanyaku ragu. Kulihat raut wajah Ibu Risma sangat serius.
"Maksud saya, pasti banyak karyawan yang jauh lebih hebat dari saya, Bu."
"Tidak Rai! Di mata saya, kamu yang paling hebat. Terbukti bukan, saat kamu menggantikan asisten saya dalam presentasi beberapa waktu lalu. Kamu sukses, membuat semua klien menyetujui untuk bekerjasama dengan perusaan saya." Jelasnya, memang waktu itu aku sempat menggantikan asisten bu Risma yang sedang sakit.
Lalu sekarang, kemana asisten bu Risma? Sampai harus aku yang menggantikannya.
"Asisten saya akan menikah Rai. Dan dia akan diboyong oleh suaminya ke luar kota. Jadi saya butuh pengganti secepatnya." Paparnya lagi, seolah tahu apa yang aku pikirkan.
"Saya butuh waktu Bu. Saya harus berdiskusi dulu dengan suami saya. Apa Ibu tidak keberatan?" Tanyaku ragu, jujur aku sangat tertarik dengan penawaran ini.
Bukan karena gajinya, tapi aku ingin belajar bisnis lebih lagi. Aku yakin bisa belajar dari Ibu Risma.
Beliau pengusaha wanita sukses, terbukti dengan anak cabangnya yang berada di mana-mana.
__ADS_1