Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 57


__ADS_3

Suamiku Mahal Pujian 66


Raina segera menelepon nomor tersebut, tetapi sudah tidak aktif. Ya, orang itu mengirimkan foto Irsyad dan Vania tengah bermesraan. Wanita itu berdiri di belakang suaminya, tangannya dia kalungkan di leher Irsyad. Betapa geramnya Raina.


“Dasar, cewek gatel! Awas aja kalo nanti ketemu,” ancam Raina.


Bisma yang mendengar hal itu terkejut. Mengapa Raina marah-marah. Lalu, dia menepikan mobilnya. Memberikan sebotol air meneral kepada Raina.


“Minum dulu, Kak. Biar tenang. Terus cerita sama aku. Ada apa?” ujar Bisma.


Tanpa berkata apa pun, Raina menyambar botol tersebut. Meneguknya hingga habis setengah.


“Lihat ini!” Raina menunjukkan foto yang ada di ponselnya.


Bisa membuka matanya lebar-lebar. Dia tidak percaya kalau itu foto sungguhan. Irsyad tidak mungkin melakukan itu. Bisma sangat yakin kalau suami Raina type lelaki setia.


“Pasti cewek rubah itu udah menjebak Bang Irsyad, Kak. Jangan langsung percaya gitu aja,” kata Bisma.


Raina berpikir sejenak. Betul juga, pikirnya. Suaminya itu tidak mungkin berbuat yang aneh-aneh. Akhirnya, keinginannya untuk makan nangka sirna sudah. Dia ingin segera kembali ke kantor dan menyelesaikan semua pekerjaannya. Ingin segera pulang, lalu beristirahat.


“Coba Kakak telepon Bang Irsyad,” saran dari Bisma.


Sebab terlalu kesal, Raina sampai tidak berpikir untuk menelepon suaminya. Wanita itu segera menekan nomor suaminya. Lama panggilan itu tersambung. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya di seberang sana menjawab juga.


“Asslamualaikum, Mas. Kamu di mana?” Raina tidak dapat menyembunyikan rasa kesalnya.


“waalaikumus salam. Aku sedang rapat, Sayang. Nanti aku telepon lagi, ya. Gak enak sama yang lain,” sahut Irsyad. Lalu, telepon terputus.


Raina tiba-tiba saja menangis. Bibirnya terus saja menggerutu. Bisma tidak tahu harus berbuat apa. Menghadapi tangis wanita lebih horor dari malam minggu.


Malam harinya, Raina ribut kecil dengan Irsyad. Lelaki itu sudah memakai berbagai cara untuk meyakinkan istrinya, kalau foto itu tidak benar. Vania memang datang, tetapi dia dan Vania tidak bermesraan..


“Sayang, kamu harus percaya sama aku,” ucap Irsyad lirih.

__ADS_1


“Baiklah, aku percaya. Tapi kamu harus jauh-jauh dari dia. Jangan mau dideketin!” Raina mengingatkan.


Akhirnya, mereka berbaikan. Raina menepis segala prasangka buruk tentang suaminya. Ya, meskipun Irsyad pernah melakukan kesalahan, dekat dengan mantan kekasihnya, tetapi itu dulu. Lagi pula, suaminya mengatakan hanya ingin membantu saja, tidak lebih.


Sementara itu, di tempat lain. Vania tengah tersenyum jahat. Dia kira, Raina dan Irsyad akan bertengkar hebat. Sebab, dia tahu kalau Raina pecemburu. Semakin lama, senyumnya berubah menjadi tawa menakutkan. Dia mengisap rokok, lalu mengeluarkan asapnya dari mulut.


“Irsyad, sebentar lagi kau akan menjadi milikku,” katanya. Dia sudah menyusun banyak rencana. Jika rencana satu gagal, dia masih mempunyai rencana lain. Apa pun yang dia inginkan harus tercapai.


“Jika aku tidak dapat memilikimu, jangan harap yang lain bisa untuk bersamamu.”


Tatapannya kosong ke depan. Dia jadi teringat dengan suami-suami orang yang berhasil ditaklukannya. Jika dia sudah jatuh hati, tidak peduli pria itu beristri. Baginya, kepuasan dalam ranjang adalah yang pertama. Dia tidak menginginkan harta dari setiap lelaki yang didekati. Namun, dia selalu membayangkan, bagaimana rasanya “bermain” dengan mereka. Sungguh, otak Vania semakin berfantasi liar.


Keesokan harinya, Vania mendatangi Irsyad kembali. Tanpa merasa berdosa dan malu, dia duduk di hadapan Irsyad. Lelaki itu sudah emosi sejak semalam. Dia tahu betul yang mengirimkan foto itu pasti Vania.


“Selamat pagi, Mas,” sapa Vania.


“Apa maksudmu mengirimkan foto itu?” tanya Irsyad tanpa basa-basi.


Vania tersenyum licik. Dia berpura-pura membuka tasnya. Mencari sesuatu, entah apa.


Seketika tawa Vania memenuhi ruangan. Irsyad benar-benr muak. Wanita seperti Vania tidak bisa dianggap remeh. Dia lebih berbahaya dari yang Irsyad kira.


“Mengapa kau secerdas itu, Mas? Aku semakin jatuh hati padamu,” ujarnya.


Irsyad mengepalkan tangan. Wajahnya sudah memerah. Baru kali ini dia benar-benar emosi. Namun, wanita di depannya tak acuh. Seperti biasa, dia membuka dua kancing paling atas di kemejanya.


“Pergi! Jangan pernah menemui saya lagi!” teriak Irsyad.


“Tidak semudah itu, Mas,” sahut Vania dingin.


Vania bangun daru duduk, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Irsyad  wanita itu berbisik, “Jika aku tidak bisa memilikimu, wanita mana pun takkan bisa bersamamu.”


“Dasar wanita gila! Kau ....”

__ADS_1


Irsyad bangkit, mengacungkan telunjuknya ke wajah Vania. Wanita itu tertawa jahat. Bahkan, foto itu hanya permulaan saja. Dia akan melakukan hal yang lebih gila dari itu.


“Bye, Sayang. Tunggu kejutanku selanjutnya.” Vania pergi sembari melambaikan tangan.


Irsyad kembali duduk dengan tubuh lemas. Dia sangat takut wanita rubah itu mencelakai Raina. Kali ini, dia harus benar-benar memikirkan cara untuk membuat Vania jera.


Sementara itu, Vania mengamuk di dalam toilet. Di kaca, terlihat pantulan wajahnya yang sedang marah. Beberapa kali bayangan wajah Raina muncul mengejeknya. Seakan-akan berkata “Suamiku takkan tergoda olehmu”.


“Kurang ajar! Awas saja kau, aku tidak akan menyerah begitu saja. Kita lihat Raina, sejauh mana kau dan Irsyad bisa bertahan.” Seringai menakutkan tersungging dari ujung bibirnya.


Vania merapikan lagi rambutnya yang berantakan. Memakai lipstik merah menyala, senada dengan bajunya. Dia berniat untuk menghubungi Rama. Lelaki yang selama ini memuaskan hasratnya.


Sepanjang perjalanan, Vania berpikir. Bagaimana caranya dia menjebak Irsyad tanpa ketahuan. Saat sedang memikirkan hal itu, dia dikejutkan dengan seorang wanita yang menyebrang tiba-tiba. Akhirnya, wanita terserempet dan jatuh.


Vania syok, napasnya naik turun. Dia segera turun untuk mengecek keadaan si wanita.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Vania khawatir.


Vania membangunkan wanita itu. Lalu, membantunga berdiri dan menepuk-nepuk bajunya yang kotor.


“Saya ... saya tidak apa-apa, Mbak. Maaf, tadi saya sedang tidak fokus,” sahutnya gugup.


Vania hanya mengangguk. Lalu, memperhatikan raut wajah di wanita. Terlihat sekali kalau dia sedang mempunyai beban yang sangat berat. Kegelisahan tergambar jelas.


“Mbak, mau ke mana? Biar saya antar,” tanya Vania.


Wanita itu tidak menjawab, melainkan menangis. Terisak pilu. Tubuhnya bergetar hebat. Vania sangat bingung. Lalu, Vania kembali berkata, “Mbak, sebaiknya ikut ke mobil saya. Mbak ceritakan punya masalah apa. Siapa tahu, saya bisa bantu.”


Wanita itu memandang Vania. Dia yakin kalau Vania adalah wanita baik. Tanpa sadar, dia mengangguk. Vania menuntun si wanita memasuki mobilnya. Senyuman licik terlihat dari bibir Vania.


Wanita itu sudah lebih tenang. Dia mulai bercerita sedikit demi sedikit tentang permasalahannya. Vania mendengarkan dengan saksama. Sampai pada akhirnya, wanita itu berujar, kalau dia sudah tidur dengan seorang pria. Dia takut hamil. Vania tertawa. Dia merasa lucu dengan kekhawatiran wanita itu.


“Aku sudah telat seminggu, Mbak. Aku takut,” ucapnya lirih.

__ADS_1


Vania berpura-pura berpikir. Seperti ada puluhan lampu menyala di atas kepalanya. Dia menemukan ide cemerlang untuk menghancurkan Raina.


__ADS_2