Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 8


__ADS_3

Selamat datang hari senin. Aku begitu bersemangat pagi ini, setelah seharian kemarin jalan-jalan sekarang sudah saatnya melakukan aktifitas seperti biasa. Pagi ini aku membuatkan nasi goreng untuk kami sarapan.


Kupanggil Mas Irsyad yang masih berada di kamar. Tak lama, pemilik julukan 'Si mahal pujian' itu pun turun. Ia duduk di sampingku.


"Sayang, sepertinya aku tak bisa mengantarmu ke kantor. Aku sedang buru-buru. Tuan Juna sudah menunggu, ada meeting penting pagi ini." Katanya dengan menyesal.


"Iya Sayang, gak apa-apa kok. Nanti aku pesan ojek online saja." Jawabku tersenyum.


Aku mengerti dengan kesibukannya. Suamiku adalah asisten pribadi dari Tuan Juna. Bos besar dari sebuah perusahaan ternama. Ke mana pun Bosnya pergi, suamiku pasti selalu di sampingnya.


Bahkan sering sekali suamiku dinas ke luar negri atau pun luar kota. Maka dari itu, sebelum menikahiku dia sudah mempunyai rumah.


Karena gajinya yang fantastis. Kami berjalan beriringan keluar. Sebelum memasuki mobilnya, ia mencium keningku dan aku mencium punggung tangannya.


"Hati-hati di jalan ya Sayang. Nanti kuusahakan pulang cepat." Katanya seraya memasuki mobil.


Aku hanya tersenyum menjawabnya. Kupandangi mobil warna putih tersebut sampai benar-benar menghilang dari pandanganku.


Tak berapa lama, ojeg yang kupesan telah sampai. Aku segera menaikinya, waktu sudah menunjukkan jam 7.30 aku takut terlambat masuk kantor.


******

__ADS_1


Ojeg yang kutumpangi telah sampai di depan gedung yang menjulang tinggi. Ya, ini adalah kantor tempatku bekerja. Aku memberikan ongkos, dan ojeg itu pun berlalu pergi.


Dengan tergesa aku memasuki loby kantor, tanpa sengaja, mataku menangkap sosok yang paling menyebalkan sedari dulu. Dia tersenyum ke arahku. Menyebalkan sekali, aku ingin sekali memukul wajahnya.


Memang di kantor, tak banyak orang yang tahu kalau aku sudah menikah. Jadi ada saja beberapa karyawan pria yang mencoba menarik perhatianku. Aku tak menggubrisnya.


Temasuk dia, tapi itu dulu. Setelah dia mengetahui aku sudah menikah, dia sedikit berubah. Aku senang saat itu, dia sudah tidak menggangguku lagi.


Tapi ternyata, sikapnya hanya berubah sementara. Setelah itu, dia kembali menggodaku. Entahlah, sekarang hobbinya membuatku kesal.


Bagiku, suamiku sudah lebih dari siapapun itu. Aku sangat mencintainya, aku akan berusaha menjaga perasaanku untuknya. Untuk Mas Irsyad seorang.


"Hai ..." sapanya seraya tersenyum.


Padahal aku ini terkenal ramah dan juga cerewet. Tapi entah kenapa, terhadap Billy aku selalu saja marah-marah. Dia selalu membuatku kesal. Ya, walau pun begitu, pada dasarnya dia sangat baik dan humoris. Terbukti kan, selama ini aku dan Billy berteman baik, tak pernah bertengkar serius.


"Buru-buru banget Rai, santai saja. Bos belum dateng kok." Katanya seraya mensejajari langkahnya denganku.


"Kamu makin cantik deh kalau kesal begitu." Godanya masih dengan senyum meriahnya.


Huh! Aku sangat sebal mendengar pujiannya. Padahal aku selalu menantikan pujian itu dari suamiku. Ingin sekali aku menjitak kepala pria yang tak tahu malu ini.

__ADS_1


"Jangan mengangguku! Pergi sana!" Usirku, lalu aku duduk di kursiku.


Sialnya Si pria menyebalkan ini satu ruangan denganku.


"Kau semakin menggemaskan Rai." Godaan yang menyusul. Ingin sekali aku melakban mulutnya agar terdiam.


"Udah lah Rai, jangan dengarkan ocehan Billy. Dia kan memang begitu orangnya, gak jelas." Kata Laras menenangkanku.


Gadis manis dengan kulit kuning langsat itu adalah sahabatku.


Aku mengenalnya saat interview dulu. Dan Alhamdulillah kami di terima bekerja. Sudah hampir dua tahun lamanya kami bekerja di perusahaan ini.


"Apaan sih Ras, ganggu aja!" Ketus Billy pada Laras.


"Kau yang pengganggu! Huh dasar lelaki aneh, pantesan aja jomblo terus." Jawab Laras tak kalah ketus.


"Cih! Seperti kau punya pacar saja. Jangan galak-galak, nanti jadi perawan tua."


Billy membalas lagi sembari menjulurkan lidahnya.


Laras mengepalkan tangannya ke udara. Aku hanya menggelengkan kepala mendengar perdebatan mereka. Kalau dilihat-lihat, mereka serasi juga.

__ADS_1


Billy lumayan tampan, hanya saja di tidak kalem. Petakilan begitu deh. Terkadang sifatnya yang tengil itu membuat orang-orang jengkel, termasuk diriku dan Laras.


Setiap harinya ada saja yang diributkan Laras dan Billy. Aku hanya menyimak, toh mereka bukan anak kecil kan yang harus dilerai?


__ADS_2