
Kami sama-sama terdiam. Merebahkan tubuh yang sama-sama lelah, menatap langit-langit kamar.
Apa mungkin sekarang dia sedang merasa bersalah padaku? Kulirik dia dengan ekor mataku, kulihat dia menghela nafas perlahan berkali-kali. Kutahu, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
Apa ini tentang kebohongannya? Rasanya sangat perih, ketika harus mengingat kebersamaan suamiku dengan wanita itu. Apakah wanita itu masa lalunya mas Irsyad? Apa dia saudaranya? Atau teman kulianya dulu?
Ah, aku rasa bukan! Selama aku dekat dengannya, aku tidak pernah melihat dia berteman dengan wanita, kecuali aku. Lalu, siapa wanita itu? Sungguh, perasaanku sangat kacau balau.
Rasa penasaran yang sangat menggebu, tentang wanita yang bisa membuat suamiku langsung memujinya. Tanpa terasa, air mata lolos begitu saja. Padahal, sekuat hati aku menahannya.
"Mas..." panggilku lirih. Dia menoleh ke arahku, tak ada jawaban dari bibirnya.
"Bolehkah aku meminjam dadamu?" Kataku terisak, mas Irsyad mengulurkan tangannya. Mengusap lembut pipiku.
Kutenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Aku menangis sesenggukan. Mas Irsyad mengelus kepalaku, sesekali menciumnya.
Betapa nyamannya berada dalam pelukannya. Namun, terasa dingin. Tak ada kehangatan lagi dalam dekapannya. Aku tak tahu karena apa.
"Kamu kenapa Sayang? Apa ada masalah?" Tanyanya lembut, aku benar-benar merasa aneh padanya.
Kenapa dia tak merasa berdosa sedikit pun?
"Aku tidak apa-apa kok, hanya sedikit lelah saja. Hanya saja, aku merindukan ayah dan ibu, Mas." Kilahku, aku masih belum berani memberitahukan yang sebenarnya.
"Kirimkan do'a untuk mereka, semoga Allah menempatkan mereka di sisi terbaikNya, Aamiin." Aku hanya mengangguk saja.
Bahkan dia masih berusaha untuk menutupi kebohongannya. Ya Allah, apakah ini benar-benar mas Irsyad, suamiku? Kenapa dia berubah begitu cepat.
"Sekarang, ayo kita tidur! Kamu harus banyak istirahat Yang. Jangan sakit, aku tak bisa melihat itu. Aku sayang kamu," ucapnya penuh dengan kekhawatiran.
"Tapi kamu sendiri yang membuatku merasakan sakit Mas. Bahkan lebih dari itu," jerit batinku.
Dia semakin mengeratkan pelukannya. Aku pun berusaha untuk tenang, menghentikan isak tangisku.
Beristighfar dalam hati, agar perasaanku lebih tenang. Dia terus mengusap kepalaku, sehingga aku mulai merasakan mataku begitu berat.
__ADS_1
Perlahan, mataku terpejam. Memasuki alam mimpi, dan aku berharap, apa yang terjadi saat ini adalah mimpi buruk. Dan aku terbangun semuanya baik-baik saja. Ya, semoga saja.
******
Pagi sudah menjelang, kulihat jam menunjukkan pukul 6. Kutatap wajah mas Irsyad yang sangat tenang ketika tidur.
Huh! Aku menyesal sekali tidur lagi tadi sehabis shalat subuh, sekarang kepalaku terasa sedikit pusing. Sebaiknya aku segera ke dapur untuk membuat sarapan, jangan sampai nanti mas Irsyad bangun, tetapi makanan belum tersedia.
30 menit bertempur dengan alat masak dan segala sayuran, akhirnya capcay ala kadarnya sudah tersaji di meja makan. Segera kuberlari ke kamar, untuk segera mandi dan bersiap berangkat ke kantor.
Tumben suamiku sudah bersiap, kulihat dirinya yang sudah rapi. Sedang memasang dasinya, segera kuhampiri dirinya.
"Mas, tumben sudah siap?"
"Iya, mumpung aku udah bangun. Langsung saja ke kamar mandi, mau ngajakin kamu, tapi kamunya gak ada." Senyum jahilnya mulai kumat.
"Apaan sih, Mas! Aku mandi dulu ya," jawabku berlalu pergi.
Setelah selesai dengan ritual mandiku, aku langsung mengenakan pakaian. Mas Irsyad ternyata masih duduk manis di sofa.
"Aku nungguin kamu, kita sarapan sama-sama," jawabnya.
Matanya masih fokus pada gawainya. Entah sedang apa suamiku itu. Tak lama, ponselnya berdering. Segera dia mengangkatnya.
Kuperhatikan wajahnya yang tiba-tiba terlihat cemas. Sebenarnya siapa yang menelfonnya sepagi ini.
"Baik, saya ke sana sekarang!" Katanya penuh dengan kekhawatiran.
Hati mendadak perih, pikiran burukku mulai bertaburan di benakku.
Dengan tergesa-gesa, dia memakai sepatu dan menyambar jas juga tas yang sudah berada di dekatnya.
"Sayang, aku pergi dulu ya? Maaf aku gak bisa nganterin kamu ke kantor," pamitnya seraya mencium keningku.
Aku hanya mematung, menatap punggungnya yang menghilang dibalik pintu.
__ADS_1
Mataku memanas, kupegang dada yang mulai sesak. Rinai gerimis sudah membasahi pipi. Bahkan, dia tak sempat memakan hasil masakanku pagi ini.
Bahkan, mengucapkan maaf karena tidak sempat memakannya pun, tidak ia ucapkan. Aku terkulai lemas, apa yang sebenarnya terjadi dengan suamiku. Apa aku harus mencari tahunya?
Tidak! Aku tidak seberani itu. Aku takut, akan semakin terluka jika aku terlalu banyak mencari tahu. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.
Bukankah Allah Maha Adil? Aku yakin, sebentar lagi Allah akan menunjukkan kebenaran padaku. Kubasuh wajahku agar tak terlihat sembab, kepalaku semakin sakit saja.
Apa mungkin efek banyak pikiran dan kurangnya tidur? Apalagi semalaman aku menangis.
Ah, kenapa aku mengalami hal seberat ini? Aku harus kuat, aku tidak boleh berprasangka buruk terhadap suamiku.
Lebih baik, aku fokus pada pekerjaanku saja. Setelah kurasa semuanya selesai, aku segera melangkah keluar dari kamar.
Lalu mengecek semua pintu, takut aku lupa menguncinya. Saat akan memesan taxi online, ponselku berdering. Tenyata bu Risma menelfon. Ada apa sepagi ini beliau menelfonku?
"Assalamu'alaikum, ada apa Bu?" Tanyaku to the point.
"Wa'alaikumsalam, Rai bisa bantu saya?" Ucapnya di seberang sana.
"Bantu apa Bu?"
"Tolong nanti kamu ke ruangan saya, lalu ambil map yang berwarna biru. Tolong kamu antar ke rumah saya, ya? Saya hari ini tidak ke kantor, Bisma sedang sakit. Apa kamu bersedia Rai?"
"Iya, baik Bu. Nanti saya akan antarkan ke rumah Ibu," jawabku.
"Terimakasih sebelumnya Rai, nanti saya kirim alamat rumahnya. Assalamu'alaikum," pungkasnya mengakhiri panggilan.
"Wa'alaikumsalam."
Bisma sakit? Pantas saja dia tidak main ke kantor. Baguslah, agar dia tak menggangguku terus.
Astagfirullah, apa yang aku katakan? Bisma maafkan aku. Semoga kau lekas sembuh. Tak berselang lama, taxi pesananku datang juga. Segera kuhempaskan bokongku ke kursi mobil. Menatap nanar ke arah luar kaca mobil. Melihat pepohonan yang saling berkejaran.
Pikiranku melayang-layang. Kembali pada sikap mas Irsyad yang mulai berubah. Dan siapa yang menelfonnya pagi ini? Sampai gurat kecemasan terlihat jelas di dahinya. Ah memikiran hal itu membuatku sangat ingin marah.
__ADS_1
Rasanya ingin sekali makan sesuatu yang pedas untuk melampiaskan rasa kesalku. Kok tiba-tiba ingin makan mie ramen level 5 ya?