Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 45


__ADS_3

Suasana kafe begitu ramai, mungkinkah karena sebentar lagi menjelang malam? Aku masih menunggu kehadiran Mba Diya.


Sepertinya jalanan macet atau aku yang datangnya terlalu awal? Sembari menunggu Mba Diya, jemariku jalan-jalan dulu ke sebuah aplikasi WA. Kulihat lima menit yang lalu suamiku memakai aplikasi tersebut. Namun, dia tak  ada menghubungiku sama sekali.


Aku tahu dia seseorang yang kurang peka dan begitu kaku. Entah kenapa semenjak pertengkaran malam itu, hatiku selalu dilanda khawatir. Pikiranku selalu saja buruk padanya.


"Hei, Rai! Ngelamun aja, kenapa sih? Maaf ya aku lama," ucapnya mengejutkanku.


"Eh Mba Diya, gak apa-apa, Mba," jawabku gugup.


Kami duduk saling berhadapan. Kulihat raut wajah Mba Diya begitu bahagian. Berbanding terbalik dengan raut wajah dan suasana hatiku.


Ya Tuhan ... rasanya hari ini aku begitu menyedihkan. Bayangan Mas Irsyad dan Nadin terus saja menari-nari di kepalaku.


Memang benar kata anak zaman sekarang, jangan menyimpan nomor mantan. Karena, mantan zaman sekarang bisa di daur ulang. Ah rasanya aku ingin mati saja!


"Raina! Kamu dari tadi melamun ya?" tanya Mba Diya, lagi-lagi mengejutkanku.


"Mm ... maaf Mba, aku--aku hanya lelah saja. O iya, kita pesan makanan dulu deh, Mba." Tawarku mengalihkan pembicaraan. Aku melambaikan tangan ke arah pelayan.

__ADS_1


Seorang pelayan wanita menghampiri meja kami. Aku langsung saja memilih menu makanan favoritku, begitupun dengan Mba Diya. Kami berbincang ringan sembari menunggu makanan datang.


Aku begitu senang melihat raut wajah Mba Diya yang bahagia itu, aura kecantikannya begitu terpancar. Semoga dugaanku benar, Tuan Juna sudah bisa menerima wanita baik seperti Mba Diya ini.


Makanan telah tersaji di meja. Kami  segera menyantap makanan itu. Lapar sekali rasanya, apalagi hari ini, begitu banyak kejadian yang tak terduga. Rasanya tenagaku terkuras habis.


"Rai ... aku sangat bahagia sekali. Dia sudah mulai bersikap layaknya manusia padaku. Ini sungguh diluar pemikiranku, Rai." Ucapnya riang. Aku hanya tersenyum ke arahnya.


"Sekarang, kami sudah tidur dalam satu ranjang. Ya meskipun kami belum melakukan itu ...," lanjutnya.


"Setiap pagi dia selalu memakan sarapan yang telah aku buat. Kamu tahu, Rai? Dia selalu memuji masakanku, selalu memuji penampilanku. Ah ... senangnya kan Rai, dipuji oleh suami sendiri? Kamu pasti sudah sering diperlakukan seperti itu oleh Irsyad kan?"


"Pasti kau mau mengatakan kalau aku terlalu lebay mengatakan perubahan sikap Juna," Mba Diya tertawa diakhir kalimatnya.


"Aku tak perduli pendapatmu, Rai. Aku benar-benar bahagia sekarang. Semoga aku dan Juna semakin dekat dan semoga kami bisa menjadi suami-istri yang sesungguhnya," katanya lagi.


Aku hanya bisa tersenyum, apalagi yang bisa kulakukan? Aku meraih jemari Mba Diya yang berada di atas meja. Mba Diya menatapku, lalu tersenyum.


"Aku sangat bahagia melihat Mba Bahagia seperti ini. Teruslah bahagia Kakakku, semoga kalian secepatnya diberikan Juna junior," kataku tulus.

__ADS_1


Kulihat mata Mba Diya berkaca-kaca, begitupun dengan mataku. Aku yakin, bulir bening sudah menggenang di pelupuk mataku.


"Terimakasih banyak Raina, kamu memang adik terbaik di duni ini," ucapnya seraya mengelus punggung tanganku.


"O iya, Rai. Apa kau ingin mendengar ceritaku lagi?" tanyanya antusias.


Mana mungkin aku menjawab tidak! Sedangkan kulihat dia begitu bersemangat untuk meceritakannya. Memang ya, kalau hati sedang jatuh cinta selalu tidak mengenal tempat dan situasi.


"Iya Mba, boleh. Kok, aku jadi deg-degan begini ya? Pasti seru nih cerita Mba Diya sama Tuan Juna," gurauku. Kulihat semburat merah di pipi Mba Diya.


"Raina ... aku malu, jangan menggodaku!" Jawabnya seraya menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Aku terkekeh melihat tingkah Mba Diya. Bagaimana bisa wanita dewasa bisa menggemaskan seperti ini? Mba Diya benar-benar lucu.


******


Assalamu'alaikum Readers. Apa kabar? mudah-mudahan baik-baik saja, Aamiin.


Author mau curhat dikit gak apa2 ya 😆 tadinya aku mau berhenti saja menulia karena beberapa hal. Namun, aku takut dibilang gak profesional. Meskipun emang begitu sih kenyataannya. haha

__ADS_1


Takut ada yang penasaran juga, meskipun aku tahu gak ada yang nungguin aku up 😂 jadi aku mohon banget sama kalian, minta dukungannya agar aku semangat buat nulisnya.


Udah ah segitu aja dulu, takutnya kalian malah kesal 😆


__ADS_2