Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 27


__ADS_3

Aku tersenyum jahat ke arah Bisma. Ini sebagai pembalasan dendam, karena dia sudah membuatku kesal.


"Yasudah, buka mulutnya. Aku suapi," ujarku.


Dengan segera ia membuka mulutnya, aku langsung memasukan potongan bakwan ke mulutnya. Satu suap bakwan telah mendarat dengan sempurna. Aku menunggu reaksinya. Satu, dua, tiga!


"Aaaa ... pedas banget Rai. Kamu kasih cabe rawit ya di dalam bakwannya? Kau jahat sekali," kesalnya seraya mengipas-ngipas mulutnya dengan sebelah tangan. Aku tertawa melihatnya menderita seperti itu.


Sampai mataku mengeluarkan sedikit air mata. Kupegang perutku yang pegal, lalu kuhentikan tawaku. Memberikan botol minum ke arahnya.


Dia menepikan mobilnya, lalu menenggak habis minuman tersebut. Dia menatapku tajam, aku bergidik ngeri melihat tatapannya.


"Rai, kau!" Ucapnya kesal, nafasnya naik turun. Aku menelan ludahku perlahan.


Gawat! Dia sepertinya marah sekali.


Apa aku keterlaluan mengerjainya? Padahal, aku hanya memasukan 3 buah cabai saja. Aku memejamkan mata, saat tangan Bisma menggantung. Mungkin sebentar lagi dia akan menampar wajah cantikku.


Tapi... kenapa ini tidak sakit? Perlahan kubuka mata kembali, aku begitu terkejut melihat kedua tangannya menangkup pipiku seraya tersenyum manis. Hatiku menjadi berdebar-debar.


Perasaan apa ini? Padahal, ketika aku dekat dengan Billy atau pun tuan Juna, tidak berdebar seperti ini. Perasaan seperti ini? aku merasakannya ketika dengan mas Irsyad.

__ADS_1


Astagfirullah! Mas Irsyad? Aku hampir saja melupakannya. Aku langsung menepis tangan Bisma. Aku membenarkan posisi dudukku yang sempat berantakan karena ulah Bisma yang tiba-tiba mendekat.


"Jangan kurang ajar ya kamu! Curi-curi kesempatan." Tudingku, jari lentikku tepat di depan wajahnya.


Bisma hanya tersenyum saja. Entah apa yang ada dalam otak bodohnya. Dimarahi malah cengengesan seperti itu.


"Ayo cepat antar aku ke kantor! Banyak yang harus aku kerjakan."


"Iya Tuan Putri, bawel banget deh. Makin cantik tahu ngga? Ih ... gemesin banget deh kamu tuh," katanya ringan.


Jantungku semakin berdetak lebih kencang. Kata-katanya begitu membuatku tersipu. Mas Irsyad belum pernah mengatakan hal manis seperti ini. Kupalingkan wajahku yang aku yakini sudah memerah.


Tanpa sadar, senyuman telah terukir dibibirku.


Kulirik sekilas Si dia yang sedang fokus menyetir. Wajahnya tampan juga, dia juga orangnya asyik. Meskipun sisi menyebalkannya lebih banyak.


Terlalu lama bergelut dengan pikiranku, sampai-sampai aku tak menyadari bahwa kami telah sampai di depan kantor.


"Sampai juga, ayo Tuan Putri, kita turun!" Ajaknya seraya membuka sealt belt.


"Iya, aku juga tahu. Ini mau turun," jawabku datar.

__ADS_1


Segera kulangkahkan kaki ke ruanganku. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku, aku ingin masak sore ini.


Ya meskipun mas Irsyad pulang malam, tapi setidaknya harus ada makanan di rumah. Sebab, suamiku selalu menyempatkan makan di rumah.


Selarut apa pun pulangnya, apalagi jika makanan itu buatanku. Pasti ia akan mencicipinya meski dia sudah kenyang sekalipun.


Saat kuputar knop pintu, ternyata bocah tengil itu pun akan mengikutiku untuk masuk ke ruangan.


"Ngapain kamu ikut masuk ke ruanganku?" Bentakku padanya, seperti biasa, dia hanya cengengesan saja.


Cih! Menyebalkan sekali. Dia manusia bukan sih?


"Mau nemenin kamu kerja, apalagi coba?" Jawabnya polos, lalu menuju sofa yang berada di ruangan.


"Ih! Ingin sekali kusumpal mulutnya yang menyebalkan itu." Gerutuku dalam hati.


"Ruanganmu bagus juga, bersih dan cantik. Tapi kamu lebih cantik Rai," godanya seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Sok ganteng sekali dia ini! Gantengan mas irsyad kemana-mana. Hei, bocah tengil, pergilah! Aku ingin muntah melihat wajahmu yang menyebalkan itu." Ingin sekali aku mengucapkan itu.


Namun aku tahu, itu hanya akan buang-buang tenaga saja. Kubiarkan dia melakukan apa pun sesuka hatinya. Aku segera duduk di kursiku, mengerjakan pekerjaanku yang sempat tertunda.

__ADS_1


__ADS_2