
Aku mengerjapkan mata, saat kurasa ada sesuatu yang menyentuh keningku. Mataku membulat sempurna, kala mendapati mas Irsyad tengah mencium mesra keningku.
Aku menatapnya nanar, jutaan luka kusorotkan padanya. Dia diam, tak bergeming. Apa sekarang dia merasa bersalah? Aku tidak boleh terus menerus seperti ini. Semuanya harus jelas!
"Mas, kapan kamu pulang?" tanyaku seraya bangun dan duduk bersandar ke kepala ranjang.
"Beberapa menit yang lalu," jawabnya datar.
Kulihat tubuhnya yang sudah segar. Aroma dari rambutnya yang basah begitu menyeruak ke hidungku, Mas Irsyad duduk di sampingku.
Kuberanikan diri untuk menanyakan wanita tadi. Kuremas ujung piyamaku, aku takut akan jawaban mas Irsyad. Aku takut akan kejujurannya.
"Mas ...." Panggilku lirih.
"Iya," dia menjawab cepat seraya menoleh ke arahku.
"Seharian ini, kamu ke mana saja?"
"Aku di kantor, lalu tadi meeting di sebuah restoran."
"Benar hanya itu? Tadi aku melihat seseorang yang mirip denganmu di rumah sakit, Mas."
Kutatap wajahnya lamat-lamat, matanya sudah berembun. Apa dia akan menangis di hadapanku?
__ADS_1
"Mas ... jangan bilang itu kamu!" kataku lagi, bahkan suaraku nyaris tak terdengar.
Tenggorokanku terasa tercekik. Aku menundukkan wajahku.
Bulir bening sudah deras mengalir. Direngkuhnya aku ke dalam pelukannya. Aku melepaskan pelukannya. Bukan ini yang aku inginkan, tapi kejujurannya.
"Maafkan aku ..." ujarnya lirih.
"Semudah itu?" Balasku cepat.
Berarti secara tidak langsung Mas Irsyad
mengakui kesalahannya.
"Kamu jangan salah paham Sayang, dia hanyalah ..." dia menggantungkan kalimatnya.
Sebaiknya aku dengarkan saja penjelasannya. Bukan kah komunikasi yang baik sangat penting dalam menjalani hubungan? Apalagi hubunganku dan mas Irsyad adalah sepasang suami-istri.
"Ceritakan semuanya, Mas. Aku tidak mau terus berprasangka buruk terhadapmu. Perlu kamu tahu, ini bukan yang pertama aku melihatmu dengannya ..." aku menjeda ucapanku.
"Di restoran favorit kita, aku pernah melihatmu bersamanya. Kau begitu nyaman dan bahagia saat bersamanya dan kamu ... begitu mudahnya memuji kecantikannya. Padahal, kamu jarang sekali memujiku dengan semudah itu!"
Kukeluarkan isi hati yang sudah kupendam lama. Kulihat mas Irsyad terkejut.
__ADS_1
Mungkin dia tak menyangka kalau aku sudah mengetahui segalanya. Kuhapus kasar air mata di pipi, benci sekali harus terlihat lemah di hadapannya.
"Maafkan aku," hanya itu jawabannya.
"Apa sekarang kau akan jujur padaku, Mas? Ceritakan tentang wanita itu!" Kesalku pada mas Irsyad.
"Baiklah, memang sebaiknya kamu mengetahui semuanya. Agar kamu percaya, kalau aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Aku sangat mencintaimu Raina."
Dia menghela nafas sejenak, sebelum memulai ceritanya. Tatapannya lurus ke depan.
"Dia adalah Nadin, teman SMA-ku dulu. Memang kami sempat dekat, sampai kami lulus SMA. Lalu kami terpisah, dengan alasan dia akan kuliah di luar kota."
"Namun, tak berapa lama, aku mendapatkan kenyataan pahit. Ternyata, dia pergi ke luar kota untuk menjauhiku. Orangtuanya tidak setuju, karena perbedaan status sosial. Dia dari keluarga kaya raya, sedangkan aku..."
Wajahnya sudah sendu, aku merasa bersalah memaksanya untuk bercerita. Apa tanpa sengaja aku sudah membuka kembali luka lama yang sudah dia kubur? Menabur garam pada luka yang menganga, bukan kah itu akan sangat perih? Maafkan aku Mas.
"Dia menghilang tanpa kabar, sampai aku mendengar kabar bahwa dia sudah mempunyai kekasih, bahkan bisa dikatakan bahwa lelaki itu calon suaminya."
"Sejak saat itu, aku bertekad untuk membantu usaha Papa yang tak seberapa itu. Sembari kuliah, aku curi-curi waktu untuk belajar bisnis. Hingga akhirnya, bisnis yang dirintis Papa berkembang pesat."
"Papa bangga padaku, berkat campur tanganku usahanya kini semakin maju dan setelah semuanya berhasil, aku fokus dengan kuliahku. Sampai akhirnya, aku mulai memperjuangkan gadis cantik yang berhasil mencuri perhatianku saat OSPEK dulu."
Dia tersenyum pada akhir kalimatnya. Perasaanku menghangat, kini aku percaya, bahwa dia sangat mencintaiku.
__ADS_1
"Peracayalah Rai, aku takkan sejahat itu. Aku sangat mencintaimu, kamu adalah separuh napasku. Jangan pernah pergi dari kehidupaku, Rai." Pintanya lirih, kulihat matanya berkaca-kaca.
Aku berhambur ke pelukannya. Bagaimana bisa aku pergi meninggalkannya? Sedangkan aku sudah sangat mencintainya, duniaku telah dipenuhi oleh bayang-bayang dirinya. Di mataku tak ada yang lain selain dirinya. Terimakasih telah mencintaiku dengan sabar Irsyad Adi Prayoga.