
Senja telah tiba, mentari telah berada di ufuk barat. Aku melihat jam yang melingkar di tanganku. Sudah pukul 17.30 aku masih menunggu suamiku menjemput.
"Mungkin jalanan macet kali ya, kok dia belum sampai juga. Katanya udah berangkat dari tadi." Gerutuku sembari mengipas-ngipaskan tangan ke wajahku.
Cuaca begitu panas, meski hari telah sore. Tak berselang lama, mobil putih yang sangat aku kenal berhenti di depanku.
Pengemudinya turun dengan gaya coolnya. Dalam keadaan apapun dia terlihat tampan, ya dia suamiku. Mas Irsyad kesayanganku.
"Maaf Sayang, aku telat. Tadi harus antar Tuan Juna dulu ke rumahnya. Mobil tuan sedang masuk bengkel." Jelasnya, kutangkap nada menyesal diucapannya.
"Ngga apa-apa Mas, yang penting kan sekarang kamu udah di sini." Jawabku seraya tersenyum.
"Kamu memang selalu pengertian." Katanya seraya mencium pucuk kepalaku.
"Yaudah, pulang yuk? Aku udah gerah banget nih." Ajaknya seraya merangkul pinggangku.
Akhirnya kami segera pulang, untuk bersiap-siap shalat maghrib.
******
Sehabis shalat, kami makan malam. Suamiku menyempatkan membeli makanan saat pulang tadi.
Kutatap raut wajahnya yang gusar, aku tahu ada yang mengganggu pikirannya. Aku takkan bertanya, biarlah dia yang cerita terlebih dahulu. Aku takut dia mengira aku teralalu kepo padanya.
__ADS_1
"Mas, mau nambah lagi?" Tawarku basa-basi.
"Engga Sayang, aku udah kenyang." Jawabnya seraya menengguk segelas air putih.
Aku membereskan piring kotor lalu mencucinya. Aku berjalan ke arah ruang keluarga, di sana suamiku sedang menonton tv. Aku duduk di sampingnya.
Dia menatapku sekilas, aku penasaran sekali apa yang sedang ia pikirkan. Terlihat sekali air mukanya yang gusar.
Tiba-tiba Mas Irsyad merebahkan tubuhnya di pangkuanku. Menyusupkan wajahnya ke perutku. Tanganku mengelus lembut kepalanya.
"Ada apa Sayang?" Tanyaku lembut, aku sudah bosan menunggunya berbicara duluan.
Dia menatapku, lalu beranjak dari tidurnya. Dia berdiri, dan mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya seraya berdiri. Kutatap netra indah miliknya, banyak sekali kata yang ingin dia ucapkan. Aku yakin itu!
Dadaku berdebar-debar. Apa yang akan dia bicarakan?
Pikiran buruk sudah menari-nari di kepalaku. Aku takut ini seperti yang di sinetron-sinetron itu. Mas Irsyad memiliki hubungan dengan wanita lain, lalu menjatuhkan talak padaku.
Aaaa aku sangat frustasi membayangkannya. Aku takkan sanggup bila itu terjadi. Ini gara-gara kebiasaanku menonton sinetron yang mampu menyayat hati itu. Kami telah merebahkan diri saling berhadapan.
Dia tersenyum padaku, senyum yang dipaksakan. Aku dibuat sangat penasaran olehnya. Jangan sampai pikiran burukku benar adanya.
Duh aku jadi gemas sama suamiku. Ingin sekali aku berteriak untuk memaksanya bercerita. Dia masih tersenyum lebar padaku, sepertinya dia tahu kalau aku sudah mulai kesal.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik Sayang kalau lagi kesal begitu." Ucapnya terkekeh.
Huh dia menyebalkan sekali! Seandainya dia memujiku di waktu yang tepat. Bukan dalam keadaan tegang begini.
"Kamu nyebelin ih! Katanya mau bicara, aku udah penasaran banget lho ini." Rengekku, dia hanya tersenyum sembari mengusap kepalaku.
"Bukan hal yang serius Sayang, aku hanya mau bercerita saja soal pekerjaanku." Katanya menenangkanku.
"Yaudah cerita aja Sayang, aku siap menjadi pendengar yang baik untukmu."
"Yakin nih mau dengar? Nanti kamu kesel lho." Godanya yang berhasil membuat jantungku berdetak lebih kencang.
Aku masih meraba kemana arah pembicaraan suamiku.
Hatiku semakin tak karuan. Biasanya jika dia berkata 'nanti kamu kesal' itu berarti ada hubungannya dengan seorang wanita.
"Apa ada hubungannya dengan seorang wanita?" Tanyaku ragu. Dia memasang wajah seriusnya.
Menatapku dengan lekat. Tangannya terus mengusap kepalaku. Tuhkan dia bersikap seperti ini. Aku udah yakin ini ada hubungannya dengan seorang wanita.
"Ya Allah, apa suamiku selingkuh? Semoga dugaanku tidak benar, Aamiin." Do'aku dalam hati.
"Iya, kamu mau dengar kan?" Aku mengangguk pasti.
__ADS_1