Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 43


__ADS_3

Pagi ini cuaca mendung. Pun sama halnya dengan perasaanku. Waktu masih pukul 6 pagi. Di balkon kamar, aku masih menikmati sejuknya udara pagi. Menghirupnya banyak-banyak, lalu mengeluarakannya secara perlahan. Masih teringat jelas wajah sembabnya semalam.


Dia menangis begitu pilu, apa aku seberarti itu untuknya? Kenapa dia setega ini padaku? Disaat aku akan merelakannya, dia menarik lagi perasaanku. Begitu menyakitkan bukan? Lama aku termenung di kursi balkon, sampai tak terasa waktu sudah pukul setengah tujuh. 


Aku segera beranjak dan memasuki kamar mandi. Biarlah nanti kubangun kan dia setelah aku selesai bersih-bersih.


Tak butuh waktu lama, aku sudah menyelesaikan ritual mandiku. Kulihat dia sedang menatapku dengan hangat. Netra indahnya begitu teduh. Aku sangat menyukainya.


Kami merasa canggung, sebab pembahasan semalam. Dia menghampiriku, entah kenapa kakiku begitu sulit untuk diajak melangkah.


"Kamu sudah selesai? Kenapa tidak membangunkanku?" tanyanya seraya membelai rambut basahku.


Jantungku berdetak dua kali lebih cepat darahku seakan beku. Aneh sekali rasanya, padahal ini bukan kali pertama.


"Kenapa diam aja, Sayang?" tanyanya lagi, aku pun tak tahu kenapa lidahlu kelu seperti ini.


"Mm ... aku-- kamu segera mandi sana! Ini sudah siang, nanti kita bisa terlambat." Jawabku akhirnya, aku segera berlari ke arah lemari.

__ADS_1


Ekor mataku menangkap senyuman kecil di wajahnya. Benarkah dia sudah kembali menjadi Mas Irsyad-ku lagi?


******


Selama sarapan kami saling diam. Aku merasa kacau-balau pagi ini. Rasa takutku semakin membelenggu. Bukankah seseorang yang berbohong sekali akan berbohong lagi? Tentu saja! Karena untuk menutupi kebohongan lainnya.


"Mas, aku berangkat dulu,"pamitku seraya beranjak untuk menghampirinya.


Kucium punggung tangannya lalu dia mengecup keningku.


Saat aku telah berada diambang pintu, dia memanggilku. Kakiku seakan berat untuk melangkah. Sungguh aku tak ingin menatapnya, apalagi satu mobil dengannya.


Hei! Aku belum menyetujui ajakanmu. Kenapa lidahku begitu kelu untuk membantahnya. Ah ternyata ... hatiku bilang tidak, tetapi reaksi tubuhku mengatakan hal sebaliknya.


"Jangan menghindariku, Rai!" ucapnya parau.


Aku pura-pura tak mendengar saja. Aku ingin tahu apa saja yang akan dia katakan. Hatiku masih belum bisa memaafkan sepenuhnya.

__ADS_1


"Aku tahu, aku salah. Maafkan aku, Sayang. Jangan pernah mengatakannya lagi. Aku akan memperbaiki kesalahanku," lirihnya.


Aku menggigit bibir bawahku agar air mataku tak tumpah lagi seperti semalam. Aku lelah harus menunjukkan bahwa aku sangat mencintainya.


"Maaf, Mas. Aku butuh waktu untuk percaya lagi padamu. Kamu tahu kan, Mas. Seperti apa itu kepercayaan? Kau menyalagunakan kepercayaan dariku, Mas," jelasku padanya.


Dia hanya diam, tak mampu menjawab kiasan dariku. Mungkin memang kami harus intropeksi diri masing-masing.


Hening! Tak ada lagi percakapan dalam mobil ini. Aku memilih melihat keluar jendela, melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi. Melihat pepohonan yang saling bekejaran. Mobil pun berhenti di parkiran gedung.


Aku segera membuka sealtbelt dan segera turun. Tak kuhiraukan lagi suamiku. Duniaku terasa jungkir-balik seketika. Suami yang sangat aku percaya, aku banggakan pada dunia, tega membohongiku.


Apa dia tidak tahu, seberapa kerasnya aku menghindari godaan dari para lelaki? Aku selalu menjaga perasaanku untuknya. Tetapi apa balasannya?


Memikirkan tentang kebohongan suamiku membuat kepala pusing saja. Segera kutekan tombol lift. Tak lama lift terbuka, aku sangat terkejut kala melihay Bisma tengah tersenyum ke arahku.


Duh Gusti ... cobaan apalagi ini? Baru saja aku ingin mengistirahatkan kepalaku yang pusing ini, tetapi sekarang aku malah harus bertemu dia yang selalu membuatku emosi.

__ADS_1


"Kenapa gak masuk? Nanti pintunya keburu ketutup, lho," ujarnya menyadarkanku.


Lihatlah senyum menyebalkannya. Apa coba tersenyum menyeringai seperti itu? Dasar bocah tengil!


__ADS_2