
TRING!
Suara notif ponselku, kuraih benda pipih itu. Lagi-lagi pesan dari dia! Pesan yang menyebalkan selalu datang setiap pagi.
"Selamat pagi Raina. Rindu sekali ingin melihat wajah kamu," pesannya.
Siapa lagi kalau bukan dari Bos ganjen itu. Heran sekali sama dia, tak pernah absen mengirim pesan padaku. Apa sih maunya? Tak kubalas, biarkan saja. Tak lama taxi berhenti.
Bokongku terasa panas, bagaiamana tidak, dari rumah menuju kantor, lalu pergi lagi menuju rumah bu Risma. Segera kuberi ongkos lalu beranjak keluar dari taxi.
Kutekan bell rumah, belum ada tanda-tanda orang yang akan membuka pintu. Kutekan lagi, sampai lima menit kemudian, pintu terbuka.
"Assalamu'alaikum," salamku pada bu Risma.
"Wa'alaikumsalam, Ayo masuk Rai!"
"Maaf menunggu lama, Bu. Ini berkas yang Ibu minta," kataku seraya menyerahkan map biru tersebut.
"Terimakasih, ya Rai. Sebentar ya, saya ambilkan minum dulu."
"Tidak usah Bu! Saya akan langsung kembali ke kantor," tolakku.
"Tapi ... sebentar ya Rai, saya terima telfon dulu," pamitnya seraya menjauh dariku.
Aku mengedarkan pandangan, melihat-lihat rumah bu Risma, besar juga rumahnya. Ya iyalah, kan bu Risma pengusaha sukses. Aduh Raina, pagi-pagi udah error saja.
"Raina, saya bisa minta tolong lagi ngga?" Tanyanya gugup, perasaanku sudah tidak enak saja.
__ADS_1
"Mm ... tolong apa ya, Bu?"
"Saya mendadak ada urusan penting, di rumah tidak ada siapa-siapa. Adiknya Bisma sedang sekolah ..." bu Risma menjeda kalimatnya.
"Jadi ... bisa tidak untuk menemani Bisma sebentar saja. Saya janji akan cepat kembali. Saya khawatir, jika harus meninggalkan Bisma sendirian di rumah." Lanjutnya tanpa ragu, kulihat senyuman tipis di wajah bu Risma.
Hah! Berdua saja di rumah ini? dengan Bisma? Kenapa permintaan bu Risma sulit sekali sih? Jika menolak, aku tak enak hati.
Kasihan juga pada Si bocah tengil itu. Jika menerima, malas sekali harus berhadapan dengan dia. Bisa-bisa pulang dari sini, aku darah tinggi.
"Raina ..." panggil bu Risma.
"Eh iya Bu, baiklah, saya akan di sini selama Ibu tidak ada," jawabku pasrah. Ibu Risma tersenyum lebar, lalu berpamitan padaku.
Tak lupa ia memberitahu di mana letak kamar anak kesayangannya. Segera kumenuju lantai 2, aku melihat ada dua pintu.
Lalu kuketuk lagi, masih belum ada jawaban. Dan di ketukan ketiga, baru kudengar suara seseorang menjawab.
"Siapa?" Suaranya terdengar lemah, jadi benar kalau dia sedang sakit.
"Ini aku, Raina. Apa aku boleh masuk?"
"Masuk saja, tidak di kunci, kok." Segera kuputar knop pintu.
Pemandangan yang pertama kali kulihat adalah seorang pria yang terbaring lemah. Selimut tebal menyelimuti seluruh tubuhnya.
Berjalan perlahan ke arahnya, lalu kududuk di tepi ranjang. Ada perasaan sedih melihatnya tak berdaya seperti ini.
__ADS_1
Tanganku terulur tanpa perintah. Menyentuh keningnya, ternyata dia demam. Wajahnya merah, menandakan dia demam tinggi.
"Raina," panggilnya pelan.
"Iya? Sejak kapan kamu sakit?" Tanyaku, mataku sudah berkaca-kaca. Entah karena apa.
"Sejak dua hari yang lalu."
"Kenapa gak di rawat di Rumah Sakit saja, Bis? Di sana 'kan ada perawat dan juga dokter. Pasti bu Risma sudah mengajakmu, cuman kamu saja yang ngeyel, kekeh pengen di rumah, iya kan?" Tuduhku padanya, Bisma hanya tersenyum mendengarkan omelanku.
"Sekarang sudah ada kamu, Rai. Itu sudah cukup menjadi obat untukku," gombalnya.
Cih! Keadaan sakit saja, masih sempat-sempatnya membuat orang jengkel.
"Yaudah lah terserah kamu!"
"Kamu udah makan? Udah periksa sama dokter kan? Mana obatnya, sebaiknya kamu minum dulu obatnya, agar cepat sembuh."
"Apa kamu mengkhawatirkan aku, Rai?"
"Hah! Apa? Ngga ah, biasa aja," kilahku. Padahal, tak dapat kupungkiri, aku memang mengkhawatirkannya.
"Aku belum makan, Rai. Kayanya, Mama lupa buat beli makanan," jawabnya lemas.
Aku berpikir untuk masak sesuatu saja buat Bisma. Eh tapi, kenapa harus repot-repot masak sih? Kan bisa order via online.
Ah ... bingung juga jadinya.
__ADS_1