
Sore itu Irsyad masih berada di sebuah restoran. Klien dan juga Tuan Juna, sudah pulang terlebih dahulu. Entah dari mana keberanian dia untuk menunggu datangnya seseorang.
"Syad, kau tahu? Nadin sudah berada di kota ini. Dia sudah kembali! Aku memberikan nomor ponselmu, karena dia memintanya," ucap salah satu teman Irsyad.
Irsyad melolotkan matanya, begitu lancangnya dia memberikan nomor ponsel orang lain seenaknya.
"Kenapa kau berikan nomor ponselku? Kau tahu 'kan aku sudah menikah?" tanyanya menggebu.
Tak dipungkiri, getaran itu masih ada. Ketika nama Nadin ia dengar kembali.
"Iya aku tahu, ini untuk silaturahmi saja, Syad. Dia terus menanyakanmu. Dan kalau kau bersedia, besok sore dia akan menunggumu di Restoran XXX," ujarnya seraya tersenyum menyeringai.
Terjadilah sore yang dikatakan temannya itu, Irsyad masih ragu untuk menunggu.
Sebab, sudah beberapa menit dia menunggu, namun Nadin belum kunjung datang.
"Memang sedari awal aku tidak usah menunggunya! Buang-buang waktu saja," gerutunya.
Irsyad beranjak dari duduknya, matanya menatap tajam ke depan. Dilihatnya wanita yang sudah bertahun-tahun hilang dari pandangannya.
__ADS_1
Wanita itu semakin cantik, namun pakaiannya menjadi sedikit terbuka. Padahal dulu, dia tidak seberani itu.
"Hai! Kau mau ke mana, Syad? Jangan bilang kau akan kabur," kekehnya.
Ia mendaratkan bokongnya di kursi. Mau tidak mau, Irsyad kembali duduk. Ditatapnya wanita yang kini berada di hadapannya.
"Apa kabar Syad? Sudah lama kita tidak bertemu. Aku tak menyangka, ternyata kau lebih dulu datang," ucapnya.
"Alhamdulillah baik, aku tak sengaja meeting di sini. Dan kebetulan, klien ku baru saja pulang," jawabnya tegas.
"O begitu ya? Aku merasa percaya diri sekali, bahwa kau akan menemuiku, karena keinginanmu sendiri," lirihnya.
"Kudengar, kau telah menikah. Apa itu benar?" Tanyanya ragu.
"Benar, sebentar lagi kami merayakan ulang tahun pernikahan yang pertama."
"O syukurlah kalau begitu ... kau nampak bahagia sekali Syad. Aku pikir, kau akan menyambut kembali diriku dengan tangan terbuka. Dengan senyuman hangat, dan dengan jutaan cinta, seperti dulu ...."
"Lupakan saja! Itu masa lalu, aku sudah bahagia bersama istriku, aku sangat mencintainya."
__ADS_1
"Mm ... bukan kah kau dulu akan menikah? Di mana suamimu?"
Tak di pungkiri, pertanyaan itu sedikit mengiris hatinya.
"Aku tidak jadi menikah dengannya. Dia lelaki yang kasar, ringan tangan. Bebeda denganmu, Syad. Kamu lelaki paling lembut yang pernah aku kenal," ujarnya tersenyum manis.
Namun sedetik kemudian wajahnya menjadi sendu. Mengingat lelaki yang sempat dikejarnya dulu. Ia sampai rela membohongi Irsyad dengan mengatakan bahwa ayahnya menyuruhnya untuk kuliah di luar kota.
Miris memang, tetapi kini ia sudah kembali. Tak persuli Irsyad sudah menikah sekalipun. Gadis itu ingin lelaki di hadapannya menjadi miliknya lagi. Ia tahu kelemahan Irsyad, lelaki itu mudah sekali luluh. Ia hanya perlu berpura-pura menyesal dan sedih.
Irsyad tak menjawab lagi. Baginya, mengenang masa lalu hanya akan menimbulkan perasaan yang tak seharusnya. Ia harus menghindari itu. Terjadi kecanggungan diantara keduanya.
Sampai akhirnya, Nadin bisa menguasai suasana. Ia bisa membuat Irsyad berbicara hangat, seperti dulu.
Di tempat duduk yang lain, terlihat seorang wanita tengah menahan air matanya. Dadanya sudah sesak.
Makanan yang dibayangkannya sejak siang tadi, terasa tidak enak.
Ditinggalkannya piring yang masih penuh dengan makanan itu. Ia tak ingin terluka lebih dari ini! Lebih baik, dia pulang saja.
__ADS_1