Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 33


__ADS_3

Sudah dua jam aku menunggu bu Risma. Namun, beliau belum juga kembali. Bisma juga tak ada memanggilku, mungkin dia sedang tertidur pulas. Kepalaku semakin pusing saja, entah karena apa.


Mungkin nanti sore, aku akan ke dokter, takut terjadi apa-apa. Kudengar seseorang membukakan pintu, itu pasti bu Risma.


Aku langsung berdiri untuk menyambutnya, tak lupa kumatikan tv, takut bu Risma memarahiku, karena aku lancang di rumahnya.


"Rai, maaf ya, saya lama. Tadi benar-benar rumit masalahnya, jadi saya harus segera menyelesaikannya," jelasnya. Kutangkap nada tak enak hati dari bicaranya.


"Iya Bu, tidak apa-apa. Kalau begitu, saya pamit untuk kembali ke kantor, Bu." Pamitku pada bu Risma.


Beliau menganggukkan kepalanya, menyampaikan beberapa pesan, tugas apa saja yang harus aku tangani, sebab hari ini, ia takkan ke kantor. Aku mengucapkan salam seraya berlalu pergi.


*****


Kulihat jam sudah pukul setengah 11 siang. Segera kuperiksa semua file yang tadi disebutkan bu Risma. Pikiranku kembali ke mas Irsyad, ke mana dia sampai tak ada waktu untuk membalas pesanku.


Aku langsung menepis segala pikiran burukku, lalu melanjutkan lagi aktifitasku yang sempat tertunda.


Alhamdulillah, akhirnya jam istirahat juga. Belum juga selesai meregangkan otot-ototku yang pegal, Billy dan Laras sudah masuk ke ruanganku.


"Hai cantik, temenin Abang makan yuk?" Ajaknya seraya menaik turunkan alisnya.


"Cih! Ganjen banget sih Bill, gak bosen apa godain Raina terus?" Ketus Laras, aku hanya tersenyum simpul melihat tingkah mereka.


"Udah-udah jangan ribut terus, nanti kalau saling jatuh cinta, baru tahu rasa kalian!" Gurauku pada mereka.


"Ogah!" Jawab mereka kompak. Aku terkekeh mendengarnya.


"Yaudah yuk, kita makan siang. Eh aku lagi pengen makan mie ramen nih, ke Cafe seberang kantor yuk?"


"Iya cantik, Abang mah ke mana pun juga, oke-oke aja," jawab Billy manja.


"Ihh amit-amit deh lihat tingkahmu Bill, yuk ah Rai, kita berangkat."


Kami bertiga pun berangkat ke cafe tersebut. Suasana Cafe begitu penuh, hampir saja kami tak kebagian tempat.


Kami langsung saja memesan makanan, sambil menunggu makanan datang, aku mulai di interogasi oleh Billy dan Laras.


"Kamu ke mana dulu Rai? Kok ke kantornya siang banget," tanya Laras.


"Iya Cantik, padahal Abang udah nungguin di lobby mau ngajakin sarapan bareng," Billy menimpali.

__ADS_1


"Aku tadi ke rumah bu Risma dulu, disuruh nganterin berkas yang tertinggal di ruangannya." Jelasku pada mereka.


"Terus kamu ke mana lagi? Kok lama banget kalau cuman nganterin berkas doang mah," tanya Laras menggebu.


Belum sempat kumenjawab, pelayan sudah datang dan meletakkan semua pesanan kami.


"Terimakasih, Mba," ucapku pada pelayan cafe. Pelayan itu tersenyum seraya berlalu pergi.


"Tadi disuruh nemenin Bisma juga, soalnya bu Risma ada pekerjaan mendadak. Soalnya Bisma lagi sakit, jadi takut butuh apa-apa, makanya minta aku buat nemenin anaknya."


Kulihat Billy dan Laras saling pandang. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka berdua.


"Kamu serius Rai, jagain Bisma?" tanya Billy seraya melototkan matanya, suaranya setengah berbisik.


"Apaan sih Bill, nanyanya aneh gitu. Ya serius lah, tapi aku sama dia gak ngapa-ngapain, kok. Pikiran kalian tuh ya, udah kemana-mana aja." Tuduhku, padahal aku tidak tahu, apa yang ada dalam otak mereka.


"Ya kali aja ada setan lewat, iya kan Bill?"


Kini giliran Laras yang mencoba untuk menggodaku. Billy menganggukan kepalanya, menyutujui ucapan Laras.


Akhirnya kami membicarakan banyak hal. Sampai tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Sebelum masuk kerja kembali, kami ke mushola terlebih dahulu, untuk menunaikan kewajiban.


*****


Aku mencoba mengikutinya, aku sudah tak perduli dengan kesehatanku, aku bisa berobat besok lagi. Terus kuikuti pria itu, sampai pria itu masuk ke sebuah ruang perawatan.


"Ruangan siapa ini?" tanya batinku. Dan ternyata....


Mataku sudah memanas, dadaku semakin sesak. Bagaikan belati menancap ke jantungku, hatiku begitu sakit. Kulihat dia dengan santainya memegang tangan wanita lain. Wanita itu terbaring lemah, tapi sayang, aku tak bisa melihat wajahnya.


Aku mengintip dari kaca kecil yang terpasang di pintu. Sesekali tangan mas Irsyad merapikan anak rambut wanita itu. Siapa dia? Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi benakku.


Kututup mulutku, agar isakanku tak terdengar jelas oleh mereka. Kupejamkan mata, merasakan sakit yang teramat sangat. Segera kuberlari meninggalkan tempat itu.


Aku harus bagaimana? Dia telah menghianatiku, meski itu belum sepenuhnya benar. Tapi, apa yang aku lihat, membenarkan segala prasangka burukku selama ini.


Kuberhentikan sebuah taxi, tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing. Mungkin ini akibat dari banyak menangis. Kuhapus bulir bening yang membasahi pipi.


Mencoba tetap tenang, menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya. Tapi tetap saja, mataku menganak sungai. Dadaku semakin sesak saja. Kucoba untuk menelfonnya, berharap itu bukan dia.


Meski kemungkinan kecil harapan itu benar adanya. Satu panggilan dia belum menjawab, lalu ku tekan lagi nomornya. Barulah dia menjawab telfonku.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Mas kamu di mana?" Tanyaku tanpa basa-basi.


"Wa'alaikumsalam, aku lagi di restoran Yang, lagi meeting," jawabnya di seberang sana.


"Oh, apa kamu akan pulang telat lagi?"


"Sepertinya iya Yang, ini rapatnya belum menemukan titik temu. Maaf sayang, sudah dulu ya, aku tidak enak dengan yang lain. Assalamu'alaikum." Pungkasnya mematikan sambungan telfon.


"Wa'alaikumsalam," jawabku terisak.


Sejak kapan kamu berbohong, Mas? Bahkan aku begitu jelas melihatmu di Rumah sakit.


Untuk meyakinkan lagi, kucoba saja menanyakannya pada Tuan Juna. Tak apalah menghubunginya lebih dulu, ini keadaan darurat. Tapi, aku harus mengatakan apa sama Bos genit itu?


"Assalamu'alaikum. Maaf Tuan kalau saya mengganggu... saya ingin menanyakan, apakah suami saya sudah pulang dari kantor? Atau sedang ada meeting di luar? Saya khawatir padanya, ponselnya tak bisa dihubungi sejak siang tadi." Pesanku pada Tuan Juna.


Tak berselang lama, ponselku bergetar. Ada sebuah pesan. Pesan balasan dari tuan Juna.


"Wa'alaikumsalam, memangnya Irsyad belum sampai rumah? Bahkan sejak jam 4 sore dia sudah izin untuk pulang."


Rinai gerimis membasahi dadaku. Dia benar-benar berbohong! Tak kubalas lagi pesan itu. Cukup tahu saja!


Taxi sudah sampai depan rumah, aku segera keluar seraya memberikan ongkos. Kubangting pintu kamar sekencang mungkin.


Meluapkan kekesalanku pada mas Irsyad. Aku terkulai lemas, duduk di lantai, bersandar di pintu kamar. Aku menangis tersedu-sedu.


Bagaimana bisa dia dengan mudahnya berbohong padaku? Bahkan, aku baru tersadar, bahwa dia lah orang yang sangat berpotensi untuk menyakiti perasaanku.


Dengan langkah gontai aku memasuki kamar mandi. Bergegas membersihkan diri, mengambil air wudhu. Segera melaksanakan kewajiban.


Aku bersimpuh padaNya, mengadukan segala hal yang aku rasa. Aku tahu, Allah sangat menyayangiku. Sehingga Dia memberiku cobaan seperti ini. Dia tahu, aku kuat.


"Berikanlah hamba kekuatanMu lebih dari ini, Ya Allah, Aamiin." Do'a yang kulangitkan.


Kulipat sejadah dan mukena, lalu menuju dapur untuk membuat segelas jus. Rasanya segar sekali jika membuat satu gelas jus strawberry tanpa gula.


Selera makanku lenyap sudah, saat melihat suamiku bersama dengan wanita lain. Setelah semuanya selesai, aku menunggu waktu isya seraya membaca novel.


Jam menunjukkan pukul 8 malam, namun suamiku belum juga kembali. Aku bosan menunggunya! Sudahlah! Lebih baik aku shalat saja, lalu beristirahat.


Aku harus belajar untuk tidak memperdulikannya, agar suatu saat nanti, jika dia meninggalkanku, aku tidak terlalu tersakiti

__ADS_1


__ADS_2