
Sore itu, di rumah tengah terjadi drama. Raina merengek ingin makan ketoprak buatan Irsyad. Sungguh merepotkan! Lelaki yang cool itu, harus rela 'berkencan' dengan alat dapur dan semua bumbu.
Dari menggoreng kacang tanah, sampai mengulek semua bahan. Untung saja istrinya itu membiarkan dia membeli lontong di warung tadi. Kalau tidak, Irsyad akan berpura-pura pingsan saja.
Satu porsi ketoprak sudah tersaji di meja, lengkap dengan bihun dan kerupuk. Raina tak sabar ingin mencicipi hasil olahan suaminya. Satu suapan mendarat di mulut wanita itu. Semakin lama semakin cepat gerak suapannya.
"Gimana rasanya, Yang?" tanya Irsyad harap-harap cemas.
"Memangnya kamu berharap apa dari jawabanku?"
Rania mencoba membalas kata-kata yang selalu suaminya ucapkan. Irsyad mengerucutkan bibirnya. Ia sadar, bahwa itu adalah ucapannya kala menjawab pertanyaan Raina. Namun, istrinya malah tertawa lepas. Lucu sekali ekspresi Irsyad di mata Raina. Kapan lagi dia bisa mengerjai suaminya yang kaku itu.
"Kamu juga kesal 'kan kalau dijawab seperti itu? Makanya, Yang, jangan terlalu dingin. Kamu harus sering muji aku. Dari mulai hasil masakan sampai penampilanku. Gak enakkan kalo digituin?" papar Raina panjang lebar.
Irsyad hanya tersenyum menanggapi ocehan istrinya. Mengapa dia baru sadar, kalau Raina lebih dari menggemaskan.
"Kamu bisa aja jawabnya," ujar Irsyad seraya mencubit lembut pipi bulat istrinya.
"Ih, Yang! Aku lagi makan tahu," sahutnya kesal.
"Jadi gimana? Enak atau enggak ketopraknya?" tanyanya lagi.
Ternyata ini yang sering istrinya rasakan. Menunggu hasil dari kerja kerasnya membuat sepiring makanan. Lebih deg-degan dari berhadapan dengan klien.
"Enak banget, Sayang. Kayanya kamu cocok jadi tukang ketoprak," sahutnya ringan.
"Oke, idemu bagus juga. Pasti banyak yang beli, soalnya tukang ketopraknya ganteng sih."
__ADS_1
Irsyad mencoba menggoda Raina. Benar saja, perempuan itu langsung menghentikan aktivitas makannya. Lantas menatap suaminya dengan tajam. Irsyad tergelak melihat napas Raina yang sudah memburu, dadanya naik turun tak beraturan.
"Ketopraknya gak enak! Awas aja kalau kamu jualan besok!" ancamnya pura-pura merajuk.
"Gak enak, tapi habis. Gimana sih kamu, Yang!"
Raina melirik piring yang ada di atas meja. Benar saja, ternyata ketoprak itu telah tandas. Kenapa dia tidak sadar? Ah, bikin malu saja!
"Malam ini, jangan peluk aku!" ujarnya kemudian.
Wanita itu pergi menuju kamar. Irsyad membulatkan matanya. Bisa-bisanya dia menggoda seorang perempuan yang sedang tidak enak badan. Jadi, beginikan hasilnya? Tidur tanpa memeluk, serupa sayur tanpa garam. Hambar.
"Ya Tuhan ... kenapa kaum lelaki selalu salah?" gumamnya.
"Sayang ... jangan marah dong!" teriak Irsyad seraya beranjak dari duduknya.
Sementara itu, di tempat lain, seorang pemuda tengah menendang botol bekas di pinggir jalan. Ada nyeri yang menyelimuti hatinya. Ternyata, Raina sudah memiliki suami. Padahal, berulang kali dia meyakinkan dirinya, kalau Raina hanya dianggapnya sebagai seorang kakak, tidak lebih. Namun, nyatanya tidak sesederhana itu. Mengetahui fakta yang begitu mengoyak hatinya. Tak pernah ia sesakit ini sebelumnya.
Mengapa dia harus mencintai pada waktu yang salah? Tiba di ujung jalan, di sebuah taman yang sangat riuh oleh suara anak-anak. Selarik senyum tersungging dari bibir Bisma. Dia segera mencari bangku kosong untuk duduk. Bisma begitu senang melihat dan mendengar tawa renyah dari semua anak yang sedang bermain. Betapa mereka hidup dengan bahagia.
Tersebab, tak ada beban yang mereka pikul. Lelaki itu jadi teringat saat dia masih seumuran anak-anak tersebut. Mungkin sekitar umur delapan tahun. Dia, ibu dan ayahnya berlibur ke kebun binatang. Betapa bahagianya dia saat itu, bisa berada dalam gendongan sang ayah sembari melihat binatang.
Senyuman manis sang mama tak pernah pudar kala itu. Begitu manis dan sangat cantik. Sang ayah yang menuntun tangan mungilnya untuk memberanikan diri memberikan makanan pada binatang tersebut. Setelah puas berkeliling, mereka duduk di atas rumput yang beralaskan tikar.
Membuka kotak makanan dengan tidak sabaran. Bisma ingat betul dengan yang dibawa sang mama. Yaitu, sekotak mie goreng, telur dadar gulung, ayam goreng dan capcay. Semua makanan kesukaannya dan juga sang ayah.
Mereka makan dengan begitu nikmat. Tak ada yang menandingi kebahagiaan mereka. Namun, keharmonisan itu sirna sudah. Saat seorang gundik masuk ke dalam kehidupan mereka.
__ADS_1
Bagaimana sang ayah dengan tega memilih gundiknya itu dibandingkan tetap tinggal bersamanya. Saat itulah hari-hari terberat yang dijalani Bisma dan ibunya.
"Hei!" sapa seseorang mengejutkan Bisma. Buyar sudah semua lamunannya tentang masa kecil itu.
"Kenapa melamun saja? Aku dari tadi menyapamu," lanjutnya seraya tersenyum.
"Aku boleh, ya, duduk di sini? Semua bangku sudah penuh," tanyanya penuh harap.
"Bukankah kau sudah duduk? Kenapa masih meminta izin?" Bisma balik bertanya.
Perempuan itu malah tertawa. Gigi gingsulnya jelas terlihat. Membuat debaran yang entah apa dalam hati Bisma.
"Kau lucu sekali," ujarnya ringan.
"Aku Nadin, kau siapa?" Tangannya sudah ia ulurkan untuk berkenalan. Ragu-ragu Bisma menyambut uluran tangan tersebut.
"Aku Bisma," sahutnya datar.
"Bismalam ya?" Celetuknya bergurau. Bisma mengernyitkan alisnya, baru kali ini ada wanita seaneh ini.
"Cantik-cantik, gila!" gumam Bisma, tetapi masih bisa terdengar oleh Nadin.
"Aku dengar loh, Bis," katanya santai.
Akhirnya Bisma meminta maaf, dan terjadilan obrolan ringan di antara mereka. Bisma menjadi terlupa akan sakit hatinya tentang Raina. Lelaki itu, kini sudah bisa tersenyum manis seperti biasa.
"Rai ... terima kasih telah membuatku jatuh cinta. Doakan aku agar cepat menemukan hati yang baru," bisik hati Bisma.
__ADS_1
Tatapannya tak terlepas dari perempuan yang tengah bercerita dengan diiringi senyuman manisnya.