
Setelah melalui perdebatan panjang dengan Si bocah tengil itu, akhirnya aku mengalah. Dia memintaku untuk memasak, dia mau makan, asalakan makanan yang dibuat olehku.
"Buatkan soto ayam, enak kayanya," katanya manja.
Menyebalkan sekaligus menggemaskan sekali dia.
Soto ayam? Jadi teringat dengan mas Irsyad. Perasaan sakit itu kembali menyerangku.
Kualihkan pikiranku pada sayuran yang kini sudah kucuci. Dengan gerakan cepat, satu mangkuk soto ayam sudah berhasil kubuat.
Segera kubawa ke kamar Bisma, agar dia cepat makan dan minum obat, lalu beristirahat. Agar dia tak merepotkanku lebih dari ini.
"Bisma, ini makanannya sudah jadi. Ayo bangun dulu!"
Kusimpan nampan di atas nakas. Menepuk pelan tangannya, dia mengerjapkan matanya.
"Bantu aku untuk bangun Rai," pintanya.
Seperti terhipnotis, aku langsung menurut saja. Wajah kami, tubuh kami menjadi dekat. Sekejap, mata kami beradu tatap, dadaku berdebar-debar.
Ya Allah, ada apa ini? Aroma tubuhnya, menyeruak ke hidungku. Aku suka aroma tubuhnya. Sedetik kemudian kuraih kembali kesadaranku.
Dengan cepat kupalingkan wajahku. Wajahku sudah menghangat, mungkin semburat merah sudah muncul dipipiku.
__ADS_1
"Raina, bisa tolong suapin ngga?" Pintanya lirih, aku hanya mengangguk.
Kuraih mangkuk dan sendok, mulai menyuapinya. Mau tidak mau, mataku harus menatap wajahnya.
Jika kupalingkan wajahku, bagaimana aku menyuapinya? Sumpah demi apapun! Perasaan aneh apa ini? Dia tersenyum padaku, wajahnya menggemaskan sekali.
"Sotonya enak banget, Rai. Kamu jago masak ya?" Tanyanya tiba-tiba.
"Ya, gak jago-jago banget sih, bisa kalau cuman masak alakadarnya saja," jawabku merendah.
"Alakadarnya gimana, Rai? Beneran lho, ini enak banget. Sama kaya di restoran, pasti aku bakalan makan di rumah setiap hari, kalau punya istri kaya kamu. Apalagi kalau kamu yang jadi istrinya," guraunya yang sukses membuatku tersipu malu.
"Jangan ngelantur! Ayo cepat habiskan makanannya!" kataku mengalihkan pembicaraan.
"Kan aku udah bilang, sotonya sangat enak. Jadi makanannya habis deh," katanya seraya tersenyum lebar.
Kurasa dia tahu apa yang aku pikirkan.
Melihat aku mengernyitkan dahi, mungkin itu sebabnya. Pujiannya menggelitik perasaanku, sudah beberapa kali dia memuji masakanku.
Sungguh aku dibuat tersanjung olehnya. Beda sekali dengan suamiku, dia jarang sekali memuji hasil masakanku. Meskipun itu enak sekali pun.
"Minum obatnya, lalu tidur. Biar cepat sembuh," perintahku.
__ADS_1
Dia menurut saja, kubantu membaringkannya. Kubereskan mangkuk dan gelas bekas makannya.
"Raina jangan pergi!" Pintanya seraya memegang lenganku.
Eh apa ini? Kenapa tiba-tiba memegang tangan sih, jadi semakin deg-degan 'kan?
"Iya, aku hanya akan membereskan piring kotor lalu mencucinya," jawabku berlalu pergi.
Sesampainya di dapur, aku duduk di kursi tempat makan. Mengatur nafasku, lalu kuraih gelas dan menuangkan segelas air putih.
Ini gila! Benar-benar gila! Kenapa setiap berdekatan dengan Bisma selalu seperti ini? Bahkan aku bisa melupakan rasa sakit hati dari mas Irsyad. Aku harus segera membereskan ini, lalu duduk di ruang keluarga saja.
Jangan kembali ke kamar Bisma. Biar nanti kutelfon dia, bilang kalau aku berada di bawah. Aku harus bisa mengendalikan perasaanku, biar bagaimana pun, aku sudah bersuami.
Biarlah hanya aku yang tersakiti, asalkan aku tidak menyakiti perasaan siapa pun. Kuketik pesan untuk Bisma. Lalu, aku merasa sangat ingin mengirim pesan pada suamiku.
"Aku mencintaimu Irsyad Adi Prayoga 😘" pesanku padanya, tak lupa dengan emoji mencium kuselipkan di pesannya.
Raut wajahku berubah seketika, pesanku hanya dibacanya. Tumben sekali dia tidak membalas.
Mungkin dia sedang meeting dengan klien? Ya, pasti begitu. Mencoba berpikir positif saja, aku tidak mau meracuni pikiranku sendiri. Aku percaya padanya, sangat percaya!
Kunyalakan tv untuk mengusir rasa bosanku. Biarlah bu Risma menganggap aku lancang, dari pada aku harus menunggu Bisma di kamarnya.
__ADS_1