
Sekarang aku sudah sampai di sebuah restoran ternama. Tuan Juna memilih restoran ini untuk meeting pagi ini. Untung saja bu Risma menyuruh sopirnya untuk mengantarku lebih dulu.
Sebab, jarak restoran dari kantor cukup jauh. Lumayan kan ngirit ongkos. Aku mengedarkan pandanganku, mencari Tuan Juna.
Ahh itu dia, Si tuan ganjen itu sudah duduk di kursi paling pojok dekat jendela. Mengarah ke jendela besar yang menampilkan suasana jalanan di luar.
Segera kuhampiri beliau, biar tak panjang urusan dan cepat selesai. Malas sekali rasanya rapat hanya berdua saja dengannya.
"Selamat pagi Tuan. Maaf, saya sedikit terlambat," sapaku. Dia hanya melebarkan senyumnya.
"Bisa kita mulai meetingnya?" Tanyaku to the point.
"Jangan terburu-buru Rai, pesan makanan saja dulu," tawarnya.
"Tidak perlu Tuan, saya sedang banyak pekerjaan hari ini."
Dan setelah melewati perdebatan kecil, akhirnya tuan Juna mengalah.
Kami segera memulai rapat. Kujelaskan sedetail mungkin. Tuan Juna hanya menganggukan kepalanya.
Setelah kurang lebih satu jam aku menjelaskan, meeting pun selesai. Kubereskan semua barang-barangku tadi.
Tuan Juna memanggil pelayan, entah mau pesan apa dia? Padahal kulihat satu gelas kopi sudah tersedia di meja. Pelayan mendekat ke arah kami, lalu tuan Juna meminta buku menu.
__ADS_1
"Saya pesan ini dan ini ya," tunjuknya pada pelayan.
"Rai, kau mau pesan apa? Sekalian kita makan siang, ini sudah jam setengah 12 lho. Tanggung kalau kau harus pulang sekarang," tawarnya. Kurasa tak ada salahnya jika makan siang sekarang.
Toh perutku juga sudah sangat lapar. Meskipun aku malas sekali satu meja dengan tuan Juna.
"Mm ... baiklah. Saya pesan ini aja ya, Mba." Kataku pada pelayan.
Lalu pelayan itu pergi. Sembari menunggu pesanan datang, tuan Juna mengajakku mengobrol. Dosa gak sih, kalau aku mengabaikannya?
Sumpah demi apa pun, aku menyesal menerima tawarannya untuk makan siang bersama.
"Rai, kenapa kau tak pernah membalas pesanku?" Tanyanya tiba-tiba.
"Tak ada hal penting yang harus saya balas," ketusku agar dia menyudahi perbincangan yang tak penting ini.
"Apa kau sangat mencintai Irsyad?" Pertanyaan aneh yang baru kudengar.
"Tentu saja."
"Pasti sangat bahagia bukan menikah dengan seseorang yang sangat kita cintai?" Pertanyaan yang menyusul, sukses membuatku menghentikan aktifitas makanku.
"Maksud Tuan apa?" Aku sudah mulai terpancing untuk melanjutkan obrolan kami.
__ADS_1
"Aku dan Adiya menikah karena dijodohkan. Aku tak mencintainya, Rai. Aku malah menyukai istri orang lain..." ucapnya seraya memandang ke arahku.
Tatapan kami bertemu, ada rasa iba melihat kesedihan di sorot matanya. Aku bingung harus menjawab apa.
Aku jadi teringat cerita Mba Diya beberapa waktu lalu. Kami sempat bertemu, dan Mba Diya pun menceritakan tentang perjodohannya.
"Bukan tidak mencintai Tuan, tapi belum. Suatu saat nanti, Tuan akan mencintai Mba Diya. Seperti halnya Mba Diya, awalnya Mba Diya juga tidak mencintai Tuan, tapi sekarang, dia sangat mencintai Tuan." Jelasku padanya, agar dia tahu kalau istrinya sangat mencintainya.
"Aku tak yakin bisa mencintainya. Tapi, dari mana kau tahu kalau Diya mencintaiku?"
"Kami sempat bertemu beberapa waktu lalu. Ya istri Tuan juga sering cerita lewat chat tentang berbagai hal. Dia wanita yang baik dan tulus, Tuan. Jangan sia-siakan dia." Tuan Juna hanya diam saja, pandangannya beralih ke jendela.
Menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi. Ini kesempatanku untuk terus menyadarkannya.
"Bukalah mata hati Tuan, coba syukuri atas apa yang telah Tuhan beri. Coba rasakan kehadiran Mba Diya, dia wanita yang sabar. Meskipun Tuan mendiamkannya, tapi dia bisa kuat menghadapi sikap acuh Tuan itu."
Pandangannya beralih padaku, kuyakin dia sudah mulai terpengaruh dengan ucapanku.
Baguslah, jadi dia takkan mendekatiku lagi. Aku tak mau mas Irsyad tahu dan salah faham nantinya.
"Rai... boleh aku tahu? Apa saja yang Diya ceritakan?"
Aku mengangguk dan mulai cerita
__ADS_1