Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 19


__ADS_3

Setelah sampai rumah, aku dan Mas Irsyad bergegas mandi dan berwudhu. Waktu shalat maghrib sebentar lagi usai. Kami shalat berjema'ah seperti biasa.


"Mas, aku ke dapur dulu ya. Mas tiduran aja, istirahat. Kelihatannya Mas cape banget." Kataku sembari melipat mukena dan sejadah.


"Aku gak apa-apa kok Sayang, aku mau nemenin kamu aja masak di dapur."


"Ohh yasudah kalau begitu, yuk kita turun."


Akhirnya aku dan Mas Irsyad turun menuju dapur. Suamiku duduk manis di kursi sembari melihatku sibuk memotong sayuran.


"Kamu manis banget Yang kalau lagi sibuk begini," godanya.


Kulirik dia sekilas, dia tersenyum sangat manis. Aku meleleh dibuatnya.


"Gombal deh kamu," kataku tersipu malu. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya makananku siap.


"Tumis brokoli udang, tahu goreng sama kerupuk udang. Wah menggoda banget Yang masakan kamu." Pujinya sembari menyodorkan piring ke arahku.


"Baru kali ini dia langsung memuji masakanku, eh tapi kan dia belum bilang bahwa makanannya enak. Nanti bakal keluar gak ya kata pujian itu?" Tanya batinku.


Kuambil piringnya, kumasukkan nasi dan juga lauknya. Lalu, kududuk di sampingnya.

__ADS_1


Kami menikmati makanan dengan hening, sesekali kulihat wajahnya, menunggu reaksinya untuk memuji masakanku.


"Tuh kan, dia itu emang mahal banget dalam hal memuji. Huh! Kenapa aku selalu aja kesal, padahal 'kan dari dulu ia begitu." Gerutuku dalam hati.


Piring Mas Irsyad telah tandas, ia tersenyum ke arahku.


Mencium pipiku sekilas. Amarahku langsung saja reda. Dia tahu saja kelemahanku.


"Makasih Sayang udah mau masak buat aku, padahal kamu cape baru pulang kerja." Ucapnya seraya bangkit dari duduknya.


"Iya Mas, emm ... Mas aku mau bicara sama kamu. Kamu tunggu di kamar saja ya, nanti aku nyusul setelah cuci piring." Mas Irsyad mengangguk, dan melangkahkan kakinya menuju kamar.


******


"Ada apa Sayang, kenapa gugup gitu?" Tanyanya lembut, jemarinya tak berhenti mengusap kepalaku.


"Mm ... aku ditawari menjadi asisten pribadi bu Risma, Mas. Menurut Mas gimana?" Tanyaku gugup, aku menggigit bibir bawahku.


Mas Irsyad menatapku lamat-lamat, aku tak bisa menebak apa yang ada di pikirannya.


"Kamu udah terima tawarannya?"

__ADS_1


"Belum, aku minta bu Risma untuk menunggu. Soalnya aku mau izin dulu sama Mas."


"Kalau aku gak izinin kamu tetap bakalan terima tawarannya?"


Deg! Jantungku semakin berpacu dengan cepat. Tuh kan benar, Mas Irsyad takkan mengizinkannya. Karena ia tahu, betapa sibuknya menjadi asisten pribadi.


"Aku gak mau kamu kecapean Rai, aku gak bisa lihat kamu sakit. Aku bakalan jadi suami lalai kalau sampai hal itu terjadi sama kamu." Paparnya lirih, aku tertegun dengan ucapannya.


Meskipun dia acuh, kurang perhatian dan mahal pujian, ternyata dia mengkhawatirkanku dalam diam.


Aku paham sekali maksudnya. Tapi ... jujur aku sangat menginginkannya. Ini kesempatan bagus untukku.


"Tapi ... kalau kamu bisa janji sama aku, buat jaga kesehatan kamu, aku izinin Rai, aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu. Jangan terlalu sibuk sepertiku Sayang. Sebab, aku sudah sering merasakan gimana rasanya merindumu saat bekerja. Ingin cepat pulang, tapi kerjaan masih menumpuk. Galau banget, sumpah deh." Lirihnya, ia rengkuh tubuhku ke pelukannya.


Aku menangis haru di pelukannya. Tak pernah kusangka sedalam itu perasaannya.


Aku tak pernah berpikir bahwa dia juga sering merindukanku ketika bekerja. Aku menyangka, bahwa aku saja yang terlalu mencintainya, sehingga hanya aku yang selalu merindukannya.


"Kenapa menangis Sayang?"


"Aku terharu sama ucapan kamu Yang, aku kira cuman aku yang selalu merindukanmu ketika kerja. Ternyata aku salah," kataku di sela-sela isak tangis.

__ADS_1


"Aku bukan lelaki yang pandai bermulut manis Rai, kau tahu itu. Aku diam, bukan berarti aku tak mencintaimu. Justru karena perasaanku sangat dalam padamu, sehingga aku sulit untuk mengungkapkannya." Dia semakin mengeratkan pelukannya.


__ADS_2