Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 22


__ADS_3

Waktu berputar begitu cepat, sebentar lagi kami merayakan ulang tahun pernikahan yang pertama. Tapi tanda-tanda kehamilan belum kurasakan.


Aku menjadi sedikit khawatir, takut aku tak bisa memberi keturunan untuk mas Irsyad. Ketakutanku semakin menjadi, sudah dua hari ini mas Irsyad pulang larut malam. Perasaanku  selalu saja tidak enak. Pikiran buruk menari-nari dibenakku.


Tidak! Aku tidak boleh berburuk sangka pada suamiku. Kulihat jam di atas nakas, waktu sudah pukul 10 malam, tapi mas Irsyad belum pulang.


Beberapa kali kutelfon, nomornya tidak aktif. Perasaan semakin gelisah saja, pikiranku sudah kemana-mana.


30menit kemudian, aku mendengar deru mesin mobil berhenti di garasi. Kuyakin itu suamiku.


Aku sudah tak sabar ingin mengintrogasinya, ke mana saja ia seharian ini sulit dihubungi. Tetapi pesan yang tak diharapkan malah terus berdatangan seharian ini.


Ya, siapa lagi si pengirim pesan itu kalau bukan tuan Juna. Menyebalkan sekali orang itu. Tampan sih, hanya saja dia terlalu genit dan mata keranjang.


Berbeda dengan suamiku yang sangat kalem dan jarang bicara, apalagi pada perempuan lain.


"Sayang, kamu belum tidur?" Tanya mas Irsyad membuyarkan lamunanku.


"Eh iya Mas, aku nungguin kamu tahu. Ke mana aja sih, susah dihubungi seharian ini? Aku jadi khawatir, takut terjadi apa-apa sama kamu." Tanyaku panjang lebar, aku sudah sangat frustasi memikirkannya.

__ADS_1


Mas Irsyad memelukku erat, mengecup kepalaku mesra.


"Maaf Sayang, hari ini aku sibuk sekali. Aku sengaja menonaktifkan ponsel agar tak terganggu. Agar pekerjaanku selesai malam ini," jelasnya.


Aku merasa bersalah telah berpikiran macam-macam tentangnya. Seharusnya aku mengerti, bukankah aku juga sangat sibuk.


Menjadi asisten pribadi menjadikan kami sibuk ke sana-kemari, membaca semua berkas dan banyak hal lain lagi.


"Aku yang seharusnya minta maaf Mas. Maaf aku udah gak ngertiin kamu, aku hanya terlalu memikirkanmu. Maafkan aku," lirihku.


"Iya Sayang, aku mandi dulu ya. Gerah nih, mana cape banget Yang. Seharian ini aku ke lapangan untuk mengecek proyek," keluhnya.


"Yaudah, sebentar ya Mas, aku siapkan air hangatnya. Biar Mas bisa berendam, agar capenya hilang."


Aku mengernyitkan dahi, sejak kapan suamiku itu sibuk dengan ponsel kalau berada di rumah?


Bahkan seingatku, dia jarang sekali memainkan ponselnya, dia hanya mengangkat telfon atau membalas pesan penting saja.


"Mas..." panggilku, ia menoleh dan langsung menaruh ponselnya.

__ADS_1


"Airnya udah siap, kamu bersih-bersih sana."


"Iya sayang, makasih ya."


Satu kecupan mendarat di bibirku. Saat mas Irsyad masuk ke kamar mandi, rasa penasaranku semakin menggebu.


Kuraih ponselnya, mengecek semua sosial medianya. Masih sama seperti dulu, tak ada yang aneh. Dia memang jarang sekali bermain sosial media.


Tapi sebentar, ada satu notif masuk ke WhatsAppnya. Hatiku berdebar-debar, siapa malam-malam begini yang mengirim pesan.


"Hai, apa kabar?" Hanya itu pesan yang masuk. Dari nomor yang tak dikenal. Dengan segera kuhapus pesannya.


Sebelum suamiku tahu, kalau aku mengecek ponselnya. Jantungku semakin berdetak kencang, aku terus memikirkan siapa pengirim pesan itu.


Mungkin saja itu seorang pria, teman sekolah mas Irsyad dulu. Mungkin saja kan? Tapi dari isi pesannya, kenapa harus diawali dengan kata 'Hai' seperti perempuan saja.


Bukankah kalau dia seorang pria, pasti dia akan mengetik seperti ini, 'Apa kabar Bro? Ini gue...' harusnya seperti itu kan? Terdengar suara pintu terbuka, aku menetralkan perasaanku yang gugup ini.


Mas Irsyad terlihat segar sekali, betapa tampannya dia kalau sehabis mandi seperti ini. Aroma maskulin begitu menyeruak, membuatku ingin sekali memeluknya.

__ADS_1


Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sangat suka sekali mencium aroma tubuhnya. Tidurku takkan nyenyak kalau tidak dipeluknya.


Tidak mencium aroma tubuhnya sehari saja, terasa ada yang kurang. Kini kami telah saling berhadapan. Aku tidur dipelukannya seperti biasa.


__ADS_2