Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 49 POV


__ADS_3

Malam semakin mencekam. Waktu menunjukkan tengah malam. Namun, gadis itu masih terhanyut dalam emosinya. Dua botol berisikan wine sudah tandas.


Mengambil satu batang rokok yang tergeletak di meja. Membakarnya lalu mengisapnya perlahan. Asap mengepul memenuhi kamarnya. Sesekali dia tersenyum sinis.


"Irsyad ... jika kamu tak bisa aku miliki, jangan harap Raina bisa memilikimu!" Tawanya menggelegar.


"Apa cantiknya wanita itu? Matamu buta, Syad! Seleramu rendah! Bahkan aku yakin, jika aku akan bisa bermain lebih hebat di atas ranjang. Kamu akan puas akan hal itu," dia mulai meracau.


Diraihnya gawai yang tergeletak di sampingnya. Menekan nomor seseorang. Setelah telepon tersambung, dia mengatakan agar orang itu menemuinya di apartemen miliknya. Lantas sambungan terputus. Setengah jam berlalu.


Seorang lelaki berparas tampan menghampiri Vania yang setengah sadar. Wanita itu hanya memakai hot pants dan tangtop saja. Paha mulusnya terekpose ke mana-mana. Buah ****nya yang sintal menyembul ke permukaan. Lelaki itu menelan salivanya. Betapa menggodanya wanita itu.


Langsung saja dia menghampiri Vania yang sudah terkapar di sofa. Mengecup bibir tebal nan sensual itu. Mata Vania setengah terbuka seraya tersenyum. Wanita itu beranjak, mengalungkan tangannya ke leher milik si lelaki.


"Puaskan aku malam ini!" ucap Vania parau. Tak ada jawaban dari bibir lelaki itu.


Mereka langsung menyatukan tubuh. Memang sudah menjadi kebiasaan Vania, ketika dia sedang marah akan melampiaskannya dengan hubungan ranjang. Tak terhitung, siapa saja laki-laki yang sudah menikmati tubuhnya. Namun, sudah beberapa bulan ini, Vania menghentikan rutinitasnya.


Dia sedang fokus mengejar Irsyad. Lelaki yang mencuri perhatiannya. Tak ada satu pun lelaki yang mampu menolak pesonanya, tetapi Irsyad berbeda. Pria itu begitu dingin. Vania menjadi penasaran ingin mendapatkan Irsyad.


Betapa panasnya Irsyad dalam bayangan Vania. Jakun yang menonjol serta jambang yang tipis, menjadi keindahan tersendiri di mata Vania. Tak hanya itu, aroma tubuh pria itu begitu maskulin.


Membayangkan bagaimana jika mereka bergumul di atas ranjang, Vania akan sangat agresif demi memuaskan hasrat Irsyad. Ah ... hanya dengan membayangkannya saja membuat darah Vania berdesir hebat. Jantungnya sudah bertalu-talu.


"Kau begitu panas," racau Vania.


Jemari lentiknya mengelus setiap inci tubuh pria yang kini menjamah tubuhnya. Dia adalah Danendra. Lelaki yang Vania kenal di sebuah klub malam. Keduanya sering melewatkan malam bersama. Hubungan keduanya hanya sekadar di atas ranjang.

__ADS_1


Tak lebih dari itu. Setiap Vania membutuhkan pria itu, dengan senang hati Danendra akan menuruti. Begitupun sebaliknya. Tak ada ikatan cinta di antara mereka. Danendra tengah menciumi leher jenjang milik Vania. Meninggalkan beberapa jejak kemerahan di sana.


Perlahan ciuman panas itu mulai turun. Ke **** Vania, Danendra bermain lama-lama di area itu. Vania mendesah, merasakan setiap rangsangan yang diberikan. Jari lelaki itu sampai di bagian inti Vania. Bermain lama di sana, hingga akhirnya Vania mencapai klimaks.


Setelah lima menit beristirahat, Vania tersenyum nakal ke arah lelakinya. Mengkode agar segera memulai bagian intinya. Malam itu, mereka melebur menjadi satu. Desahan lolos dari bibir keduanya.


******


Mentari sudah menampakkan sinarnya. Hangat cahayanya mampu membuat tidur Vania semakin nyenyak. Entah berapa kali dia melakukan itu dengan Danendra. Tubuhnya terasa remuk, matanya sangat mengantuk. Namun, dia harus segera bersiap. Pagi ini dia akan berkunjug ke rumah kakaknya.


Akan mengutarakan rencanya pada sang kakak. Setelah selesai dengan segala ritualnya, Vania bergegas menuju rumah Juna. Wanita itu tampak cantik dengan mengenakan mini dress berawarna putih. Bentuk kerah yang dapat menutupi lehernya.


Vania tidak mau kalau kakaknya akan cerewet menceramahinya. Sesampainya di sana, Vania segera masuk. Sudah menjadi kebiasaannya tak pernah mengucap salam saat masuk ke dalam rumah.


Dia berteriak memanggil kakaknya. Tidak sopan memang! Namun, Juna dan Diya memaklumi itu. Vania tinggal lama di Amerika, mengikuti kedua orang tuanya. Hanya Juna yang memilih tinggal di Indonesia.


"Kami di sini, Vania. Ada apa? Tumben sekali pagi-pagi main ke rumah Mbak," cerocos Diya. Vania hanya tersenyum seraya duduk di kursi untuk ikut sarapan bersama.


Seingatnya proyek yang sedang berjalan dengannya tidak ada kendala. Lantas, adiknya ini mau membicarakan perihal apa?


"Kamu mau bicara apa, Van?" tanya Juna seraya mengambil selembar roti.


"Kita makan saja dulu, Mas. Aku lapar sekali," ucapnya seraya mengambil dua lembar roti.


Diolesinya dengan selai strawberry kesukaannya. Juna sudah menghabiskan makanannya. Dia sudah tak sabar ingin mendengar apa yang akan adiknya bicarakan. Setelah satu gelas susu tandas, Juna memulai pembicaraan.


"Kamu mau bicara apa?"

__ADS_1


"Aku ingin menikah dengan Irsyad," ujarnya tanpa beban.


Juna dan Diya saling melempar pandang. Apa yang ada dalam pikiran Vania? Begitu isi pikiran Juna dan Diya.


"Kamu tahu kalau Irsyad sudah menikah?" tanya Diya ragu.


"Sudah, tetapi aku tak peduli!" jawabnya ringan.


"Jangan lakukan itu, Van. Masih banyak lelaki di luaran sana yang menyukai kamu," ucap Diya mengingatkan.


"Aku hanya ingin Irsyad, Mbak." Vania kekeh pada pendiriannya.


"Kamu akan melukai perasaan istrinya. Kamu tega membuat wanita lain menangis karena kamu?"


"Aku tak peduli, Mbak Diya! Pokoknya aku harus mendapatkan Irsyad apa pun caranya."


Juna sudah mengepalkan tangannya. Sepagi ini adiknya sudah menguras energinya.


"Cukup Vania! Jangan melakukan hal bodoh! Cari saja lelaki yang single. Jangan lelaki yang sudah beristri." Kata Juna tegas.


"Mas Juna gak mau bantu aku?" sahutnya emosi.


"Ya! Mas, takkan pernah membantumu untuk hal itu," pungkasnya.


Lantas Juna mengambil tas kantornya beranjak pergi. Setelah kepergian suaminya, Diya menghampiri Vania yang tengah menahan emosinya. Diya duduk di samping adik iparnya.


"Sayang, kamu sangat cantik. Pasti banyak lelaki yang ingin bersamamu. Namun, bukan Irsyad orangnya. Mungkin saja, rasa yang kamu miliki hanya sekadar rasa kagum," jelas Diya lembut.

__ADS_1


"Aku mencintainya, Mbak. Apa pun akan aku lakukan demi mendapatkan Irsyad." Pungkasnya seraya pergi.


Diya hanya terdiam. Dia tahu betul sifat adik iparnya. Diya menjadi cemas dengan hubungan Raina dan Irsyad. Apa yang bisa dia lakukan? Bagaimanapun Diya sudah  menganggap Raina seperti adiknya.


__ADS_2