
Kami sudah berada di salah satu Mall, Laras dan Billy sangat bersemangat, tak tahu karena apa. Kami berjalan mengelilingi Mall tersebut, mencari sebuah toko favorit Billy. Tempat pertama yang kami datangi adalah toko sepatu.
Billy ingin membeli satu pasang sepatu untuk kerja, Laras sangat antusias memilih beberapa sepatu yang cocok untuk Billy.
Sesekali mereka berdebat kecil, aku hanya menjadi penonton saja. Urusan sepatu sudah beres. Laras mengajakku dan Billy masuk ke Butik langganannya.
Dia memilih beberapa potong baju untuk ke kantor. Aku hanya mengekor saja, sebab aku bingung mau membeli apa.
"Rai, gaun ini cocok gak buat aku?" ujar Laras, gaun berwarna brown white tanpa lengan, dan dengan motif kerah sabrina. Tampak sexi sekali.
"Mm ... bagus sih, cuman aga sexi gitu ya? Emangnya kamu mau ke mana sampai beli gaun?" komentarku, Laras tengah sibuk memutar badannya seraya menempelkan gaun tersebut.
"Jelek tahu! Kau tidak lihat, ini sangat sexi? Lekuk tubuhmu akan sangat jelas, kalau kau memakai baju kurang bahan begini," komentar Billy berapi-api.
Aku dan Laras saling pandang, kenapa Billy bisa semarah itu.
Mungkin pikiran Laras juga sama denganku. Kami menatap Billy tajam, menuntut penjelasan padanya.
"Mm ... kenapa kalian menatapku seperti itu? Aku seorang pria, aku tahu bagaimana mata laki-laki berfungsi," jelasnya seraya pergi.
__ADS_1
Mungkin Billy malu atau dia takut ketahuan bahwa saat ini dia sedang posesif terhadap Laras.
Hmmm kesimpulanku, Billy cemburu! Takut kalau laki-laki lain menatap Laras dengan intim. Akhirnya Laras mengembalikan gaun itu ke tempat semula.
Aku mengernyitkan dahi, kenapa pula Laras menurut? Toh dia bukan pacar Billy. Ah ... aku tahu, karena Laras menyukai Billy.
Fix! Mereka saling menyukai. Aku tersenyum simpul, sedangkan Laras malah sebaliknya. Wajahnya ditekuk, dengan mulut tak berhenti komat-kamit, mungkin merutuki Billy?
"Udah lah Ras, dia benar tahu. Lebih baik kita makan saja, aku laper nih. Ayam bakar madu, enak kayanya. Kita cari yuk?" ajakku semangat, aroma ayam bakar madu seolah-olah memanggilku.
Aku sangat ingin memakannya, tak lupa sambal dan juga lalapan yang segar.
Billy duduk di samping Laras, sedangkan aku duduk di hadapan mereka. Aku menjadi semakin yakin dengan dugaanku.
Segera kami pesan makanan masing-masing. Dan anehnya, Billy memesan makanan yang sama dengan Laras. Entah kebetulan atau bagaimana?
Duh, kok aku menjadi penasaran begini. Kami menikmati makanan dengan hening, kuperhatikan sikap mereka, Billy curi-curi pandang ke arah Laras.
Kuminum jus alpukat kesukaanku, tiba-tiba perutku terasa diaduk-aduk, mual sekali. Kepalaku juga menjadi pusing. Duh, apa aku keracunan?
__ADS_1
Segera kuberlari mencari toilet, tak menghiraukan Billy dan Laras yang memanggilku.
Setelah dirasa lebih baik, aku kembali ke meja mereka. Wajahku tampak pucat, kepalaku semakin pusing. Laras meraih tanganku.
"Kamu gak apa-apa kan Rai?" tanya Laras dengan nada khawatir.
"Sedikit pusing dan mual aja Ras, kenapa jadi begini ya?" sahutku seraya memijat pelipis agar lebih baik.
"Kita ke Rumah sakit saja Rai, biar kami antar," tawar Billy. Lelaki itu pun sama khawatirnya seperti Laras.
Aku belum menjawab, kepalaku semakin pusing saja. Tapi, tak ada pilihan. Aku memang harus memeriksakan kesehatanku.
"Baiklah, kalian habiskan saja dulu makanannya, lalu antar aku ke Rumah sakit terdekat." Sahutku lemas, kupejam kan mata untuk beberapa saat.
Selintas bayangan Mas Irsyad melintas di benakku. Kenapa sampai se-siang ini dia belum menghubungiku. Ke mana dia pergi? Maaf Mas, jika saat ini aku mulai meragukanmu.
Bukankah feeling seorang istri itu sangat kuat? Jika saja benar adanya, kalau kamu berpaling, maaf jika aku tak bisa memaafkanmu, tak bisa terus bersamamu, Mas. Bulir bening mulai menetes, membasahi pipiku.
Segera kuhapus secara kasar, kulihat Billy dan Laras memperhatikanku. Pasti pertanyaan yang sama ada di benak mereka.
__ADS_1