
Setelah mata kuliah selesai, aku bergegas membereskan buku yang sudah dipakai. Semua orang telah meninggalkan ruang kelas, hanya ada aku dan si pria dengan wajah datarnya itu. Jantung kembali berdetak kencang, saat langkahku mendekati mejanya.
Aku sangat penasaran sekali kenapa dia jarang sekali bicara. Apalagi aku ini orangnya cerewet sekali, kuberanikan diri untuk bicara padanya.
"Hai ..." sapaku ragu-ragu. Dia menoleh, lalu berdiri.
"Mm... kamu mau pulang sekarang?" Bingung mau nanya apa, akhirnya aku tanyakan saja hal itu.
"Gak tahu," jawabnya cepat.
Aku mengernyitkan dahi, masa iya jawabannya gak tahu. Sebenarnya dia itu manusia bukan sih. Kok gak punya tujuan hidup begitu.
"Makan siang bareng yuk? Aku tahu tempat yang nyaman lho buat makan, makanannya juga enak-enak."
"Boleh juga."
Eh dia jawab cepat lagi. Aku mematung mendengar jawabannya.
Padahal kita satu angkatan, tapi baru kali ini aku dekat sama dia. Ya karena sikapnya yang dingin itu jadi dia jarang sekali berbaur dengan yang lain.
"Ayo kita berangkat." Ajaknya sembari melangkahkan kakinya meninggalkanku. Aku segera menyusulnya.
******
__ADS_1
"Enakkan makanannya?" Tanyaku, aku melihat dia lahap sekali makannya.
"Iya." Hanya itu jawaban dia. Menyebalkan sekali.
"Ehh nama kamu siapa sih? Padahal kan kita satu angkatan, tapi belum pernah kenalan. Oh iya, kamu dari SMA mana? Kenapa kamu jarang banget ngomong sih? Kalau aku nih ya, gatel banget kalau gak ngomong semenit aja. Emang kamu gak pegel itu bibirnya diem mulu." Ocehanku yang tiada henti.
Aku terkejut dengan ucapanku sendiri. Mulai keluar deh cerewetku yang mungkin bagi sebagian orang sangat menyebalkan.
Dia menghentikan aktifitas makannya. Menatapku dengan wajah datarnya. Aku takut dia tersinggung dengan ucapanku.
"Duh emanh ya, jiwa cerewetku meronta-ronta. Jadi salah kan?" Kataku dalam hati.
Namun dia tersenyum kecil. Ya aku menangkap senyuman kecil di bibirnya.
"Ya Tuhan, manis sekali dia ini." Lagi-lagi hanya dalam hati.
"Apa dia bilang? Aku lucu? Aaa Ya Allah aku menyukainya." Jerit batinku.
"Namaku Irsyad, senang berkenalan denganmu Raina." Katanya lagi, dan melanjutkan makannya.
"Kok kamu tahu namaku?"
"Karena kamu gadis paling beda sekampus," jawabnya santai.
__ADS_1
Aku bingung sekali dengan jawabannya. Maksudnya karena aku beda, jadi semua orang tahu namaku, begitu? Apa gimana sih? Aku tak mengerti sama sekali.
"Makan Rai, jangan lihatin aku mulu." Suaranya kembali terdengar, membuyarkan segala pikiranku.
Aku salah tingkah dibuatnya. Ternyata kalau sudah kenal dia banyak bicara juga. Entah kenapa dadaku berdebar-debar terus.
Aku tak pernah menyangka, bisa makan siang bareng sama pria yang menurut mahasiswi di kampus, pria paling tampan, cool dan juga cerdas ini.
******
Ya begitulah awal mula kami dekat, aku menjadi tersenyum sendiri saat mengingatnya. Manis sekali perjalanan cintaku ini.
"Aku suka kamu yang cerewet, meskipun kita gak saling kenal, tapi tanpa malu kamu bicara terus. Lucu sekali, aku suka kamu saat pertama kita OSPEK dulu," katanya tiba-tiba.
Aku baru tersadar, kalau saat ini aku sedang berada di CFD. Dan suamiku sedang tersenyum manis padaku.
"Masa sih Yang? Aku baru tahu lho, ciyeee yang udah suka duluan." Kataku menggoda. Serius, aku baru tahu kalau dia menyukaiku saat OSPEK dulu.
"Apaan sih Yang, malu tahu."
"Jadi kamu suka aku karena aku cerewet?" Tanyaku yang masih penasaran.
"Iya Sayang, aku inget banget waktu selesai ospek kamu ngoceh gak jelas di taman kampus. Terus kalau ngobrol sama teman-teman, kamu paling heboh. Mereka selalu ceria kalau dekat kamu. Dan tanpa perlu aku cari tahu nama kamu, mereka sering manggil nama kamu kalau mau berkumpul." Jelasnya dan sukses membuat aku tersipu malu.
__ADS_1
"Aku kira kamu selama ini gak suka sama kebawelan aku. Makanya kalau diajak ngobrol jawabannya singkat-singkat mulu." Keluhku, dan aku ingin sekali bicara seperti ini sejak dulu.
"Tuh kan kamu lucu banget, kamu pelengkap kekuranganku Sayang ..." katanya menggantung.