
Mobil telah terparkir sempurna di halaman rumah tuan Juna. Ingin sekali aku turun dan naik taxi saja. Tetapi mas Irsyad melarangku, dia kekeh ingin mengantarkanku ke kantor.
"Syad, maaf sudah merepotkanmu." Kata tuan Juna, tetapi pandanga matanya melihat ke arahku. Apa maksudnya coba? Bikin kesel aja pagi-pagi.
"Iya Tuan, tidak apa-apa. Tapi, saya akan mengantarkan istri saya dulu, Tuan. Apa Tuan tidak keberatan?" Tanya mas Irsyad sopan.
"Tentu saja tidak keberatan, Syad. Memangnya istrimu bekerja di mana?"
"Di kantor XXX Tuan, searah dengan perusahaan Tuan."
Aku hanya diam saja. Malas sekali harus ikut bicara dengan tuan yang mata keranjang itu. Tuan Juna duduk di jok belakang. Aku sangat risih satu mobil dengannya. Apalagi saat dia menanyaiku, mencoba mengajakku mengobrol.
Mas Irsyad hanya diam saja, ia tak merasa curiga sama sekali dengan gelagat aneh dari bosnya itu.
"Mas Irsyad tuh ***** atau terlalu polos sih! Dia kan laki-laki, masa gak sadar kalau bosnya itu menyebalkan." Geramku dalam hati.
Karena terlalu lama berkutat dengan pikiranku, aku tak sadar bahwa mobil sudah sampai di depan kantor.
"Sayang, ayo turun! Udah sampai nih," katanya menyadarkanku.
__ADS_1
"Eh iya Sayang, makasih ya. Assalamu'alaikum," pamitku seraya mencium punggung tangannya.
Aku segera keluar, tanpa menunggu jawaban dariĀ suamiku. Aku benar-benar risih melihat tatapan tuan Juna yang tak sengaja kutangkap melalui kaca spion mobil.
Aku berjalan menuju ruanganku. Seperti biasa, Billy menghampiriku dengan senyum meriahnya.
"Pagi Cantik, duh makin hari makin cantik aja deh. Jalan-jalan yuk, nanti malam sama Abang," godanya.
Aku menghembuskan nafas kasar, kapan dia akan berhenti menggodaku.
"Billy, aku udah bilang 'kan, aku udah punya suami! Kenapa sih kamu ngotot buat deketin aku." Sentakku padanya, dia malah tersenyum.
"Aku udah tahu Raina Cantik, aku udah bosan mendengar kau berbicara seperti itu," jawabnya santai.
Kok ada ya, orang ngeyel seperti Billy begini. Aku benar-benar bingung.
"Sarapan sama Abang yuk? Nanti Abang suapin, biar makannya tambah enak." Godaan yang menyusul.
Kok aku, jadi ingin tertawa ya mendengar godaan-godaannya.
__ADS_1
Duh otakku mulai tak waras! Belum sempat kumenjawab, Laras sudah lebih dulu memotongnya.
"Dasar cowok ganjen, yang ada tuh ya, kalau makan disuapin kamu bikin perut jadi mual tahu!" Semprot Laras dari arah belakang.
"Ehh ada gadis lampir, nimbrung aja sih kaya jelangkung aja. Tiba-tiba datang, tiba-tiba ngilang."
"Eh apa kamu bilang? Gadis lampir? Cantik begini aku dibilang lampir. Rasain ini ya!"
Laras sudah meradang, lalu menjewer telinga Billy.
Aku terkekeh melihat kelakuan mereka.
Fix! Laras dan Billy memang cocok, mudah-mudahan mereka jodoh. Meskipun sering beretengkar, namun aku tahu mereka tak pernah saling membenci.
"Sakit tahu! Pantas saja kau jomblo, mana ada pria yang mau sama gadis galak sepertimu." Cibirnya, dan sukses membuat Laras semakin mengencangkan jewerannya.
"Ayo kita ke kantin! Teraktir aku dan juga Raina." Peritahnya dengan tanpa dosa.
Aku hanya mengekor saja di belakang mereka. Laras melepaskan jewerannya, sedangkan Billy sibuk mengelus telinganya yang telah memerah.
__ADS_1