Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 17


__ADS_3

Risma mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Aku tahu, sekarang beliau sedang berpikir tentang tawaranku.


"Oke, baiklah. Tapi besok saya ingin sudah ada jawabannya, Rai." Tawarnya, membuat mataku membulat sempurna.


Aku hanya mengangguk. Aku belum yakin kalau mas Irsyad akan menyetujui keinginannku untuk menjadi asisten Bu bos.


Setelah mengucap salam, aku segera melangkahkan kaki keluar dari ruangan bu Risma. Aku duduk di kursi kerjaku sembari mengehela nafas berat.


Jika aku menerima tawaran bu Risma, itu artinya aku akan sedikit sibuk. Lihatlah suamiku, dia juga menjadi asisten pribadi.


Membuatnya jarang pulang tepat waktu, sering ke luar kota dan ke luar negeri juga. Huh! Aku pusing memikirkannya.


"Kenapa sih cantik, mukanya kusut banget. Kaya baju yang belom disetrika." Tanya Billy mengejutkanku.


Seandainya yang memanggilku cantik itu mas Irsyad, pasti aku sudah tersenyum. Suami mahal pujianku tiba-tiba aku merindukannya.


"Apaan sih Bil, aku lagi pusing nih." Ketusku padanya.


Dia hanya tersenyum kecil, lalu menggeser kursinya lebih dekat denganku.


"Kenapa sih Rai? Bu Risma ada perlu apa sama kamu?" Kini Laras yang memberiku pertanyaan.


"Aku ditawari menjadi asisten pribadinya. Aneh kan? Padahal pasti banyak yang lebih hebat dariku." Kataku sembari memejamkan mata.

__ADS_1


"Wah hebat dong Rai. Iya ngga Bill?" Ujar Laras antusias.


"Iya benar tuh kata Laras. Kamu harus terima tawaran Bu bos, Rai. Kesempatan takkan datang dua kali." Kata bijak keluar dengan mulusnya dari mulut Billy.


Aku membuka mataku, memandang ke arah Laras dan Billy bergiliran. Wajah mereka sangat senang sekali. Aku bingung melihatnya.


"Tapi, suamiku belum tentu mengizinkan. Pasti kerjaan baruku akan menyita waktu. Apalagi aku akan sering ke luar kota atau luar negeri. Mas Irsyad belum tentu mengerti." Keluhku dengan wajah sendu.


"Kalau dia benar-benar mencintai kamu, dia akan mendukung setiap keputusanmu Rai. Selagi itu di jalan yang benar." Lagi-lagi kata bijak keluar dari mulut Billy.


Si pemuda ngeyel dan petakilan itu berubah menjadi pria dewasa disaat seperti ini.


"Tumben tuh mulut bicara yang ada benarnya. Biasanya cuman gombalan aja yang keluar." Cibir Laras, seraya memanyunkan bibirnya.


Dengan segera Laras menjauhkan tubuhnya. Aku terkekeh melihat kelakuan dua manusia itu. Hati sedikit lega, mendengar penuturan Billy tadi.


"Jauh-jauh sana Bill, jijik tahu! Awas aja ya, kalau tuh bibir nyosor ke sini." Tunjuk Laras pada bibirnya.


Billy terkekeh melihat tingkah malu-malu Laras. Kulihat semburat merah di pipi Laras. Aku semakin yakin kalau Laras menyukai Billy.


"Pipimu merah Ras, awas nanti ketahuan Billy." Bisikku, Laras langsung mengambil cermin kecil dalam tasnya.


Laras melototkan matanya padaku, aku tahu dia malu saat ini. Karena ketahuan olehku.

__ADS_1


"Bisikin apaan sih Rai? Kenapa coba nih gadis lampir tiba-tiba ngambil cermin? Udah wajahmu tetap gitu-gitu aja. Kaga cantik sama sekali." Mulut tanpa filter dari Billy mulai muncul.


Laras mendelik sebal, ditaruhnya cermin tadi. Lalu memukul lengan Billy sepuas hatinya.


"Udah-udah berantem terus. Ayo kita kerja lagi." Kataku melerai mereka.


Billy kembali ke tempatnya, begitupun dengan Laras.


********


Sore ini, suamiku janji akan menjemput. Aku menunggunya di luar kantor. Tak lama mobil putih itu berhenti tepat di depanku. Aku segera memasuki mobil sembari tersenyum ke arah suamiku.


Betapa terkejutnya aku, saat mataku melihat seseorang yang tengah duduk manis di kursi belakang.


"Maaf saya merepotkan suamimu lagi Rai. Saya akan ke bengkel untuk menjemput mobil saya." Ucapnya santai, ah aku bahkan tak menanyakannya.


Aku sungguh tak perduli! Baguslah ia mengambil mobilnya, agar tak di antar jemput oleh suamiku.


"Iya Tuan, tidak apa-apa." Jawabku malas.


"Sayang, kita ke supermarket dulu ya. Aku mau beli bahan makanan untuk masak." Kataku pada Mas Irsyad.


Aku sengaja memanggilnya 'sayang' agar si bos genit itu tahu diri.

__ADS_1


__ADS_2