
Flasback
Waktu menunjukkan pukul 17:15, Raina baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia segera membereskan barang-barangnya, lalu bergegas untuk pulang. Kini gadis itu sedang menunggu taxi di depan gedung kantor.
Matanya menengok ke kiri dan ke kanan. Namun belum ada satu taxi pun yang bisa ia tumpangi. Waktu semakin sore saja, langit pun sudah mulai gelap.
Akhirnya, sebuah taxi pun berhasil diberhentikan Raina. Setelah memberi tahu dimana alamat rumahnya, sopir taxi pun segera menancapkan gasnya.
Setengah perjalanan mereka, tiba-tiba Raina ingin sekali makan di restoran tempat ia biasa makan dengan Irsyad. Disuruhnya Si sopir untuk berhenti di restoran itu.
"Ini ongkosnya Pak, makasih ya," katanya seraya keluar dari taxi.
*****
"Gak apa-apa kali ya aku makan sendiri di sini. Toh mas Irsyad belum tentu pulang masih sore, dari tadi pesanku tak di balas-balas," ucapnya pada diri sendiri.
Raina segera masuk ke dalam restoran, memesan makanan kesukaannya. Perutnya sudah meronta-ronta ingin diisi.
Padahal, sebelum perjalanan pulang ia sempat memakan beberapa kue. Raina memilih kursi paling belakang, sengaja, agar tak terlalu ramai. Pesanan pun datang, ia segera melahapnya.
__ADS_1
Namun, sayup-sayup dia mendengar suara seseorang yang mirip dengan suara suaminya.
"Kamu juga masih cantik seperti dulu, tak ada yang berubah," ujar seseorang itu dengan riang.
Raina menyapu seluruh ruangan untuk mencari sumber suara. Ia tak ingin berpikiran buruk tentang suaminya, siapa tahu suara mereka memang benar-benar mirip.
Mata Raina terbelalak saat melihat Irsyad dengan seorang wanita. Namun Raina tak dapat melihat wajah wanita itu karena membelakanginya.
Mereka duduk tak jauh dari kursi Raina, sehingga Raina masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Kamu bisa aja Syad, sekarang kamu tinggal di mana?" Kata si wanita itu.
Raina segera keluar dari restoran tersebut, ia tak ingin hatinya terluka lebih dari itu.
Dia cukup tahu saja, ternyata suaminya tidak sebaik yang ia pikirkan. Perasaannya berkecamuk, sakit? Sudah pasti ia rasakan.
Air mata meluncur bebas di pipinya. Diusapnya kasar, ia tak rela harus menangisi kejadian itu. Tatapan orang-orang sekitar tertuju pada Raina. Gadis itu tak perduli, biar saja terserah mereka.
Toh mereka tak tahu apa yang sedang Raina rasakan saat ini. Saat dirinya sedang menunduk di tepi jalan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Seseorang menghampiri Raina.
__ADS_1
"Raina? Kamu kenapa?" Tanya Bisma dengan khawatir.
"Bisma..." lirihnya. Hanya itu yang terucap dari bibir mungilnya. "Ayo aku antar pulang!"
"Aku gak apa-apa kok, aku bisa pulang sendiri," tolaknya. Sebab ia benar-benar ingin sendiri dulu.
"Gak bisa! Pokoknya kamu harus pulang sama aku. Kamu lagi gak baik-baik aja Rai, aku takut kalau..."
"Aku bilang aku gak apa-apa! Tinggalin aku sendiri!" Potongnya dengan suara tinggi.
Bisma hanya terdiam, ia tak bisa memaksa. Biarlah Raina sendiri dulu, jika itu lebih baik untuknya.
Namun, tak dapat dipungkiri, Raina seperti kakak baginya. Dari dulu, Bisma selalu ingin mempunyai kakak perempuan.
Mengingat Ibunya selalu saja sibuk di kantor. Sehingga ia merindukan kasih sayang dari seorang saudara perempuan.
Maka saat ini, Bisma begitu khawatir melihat keadaan Raina. Matanya sangat sembab, menandakan bahwa ia sudah lama menangis.
Raina mencegat taxi yang melintas di depannya. Bisma melepas kepergian Raina dengan berat hati. Memandang taxi tersebut dengan tatapan nanar.
__ADS_1
"Kamu kenapa Raina? Siapa yang berani menyakitimu?" Geramnya, tanpa sadar kedua tangannya sudah mengepal.