
Tak ada pilihan lain selain masuk ke dalam lift yang sama dengan Bisma. Pintu lift tertutup. Kulihat dia senyum-senyum tak jelas.
Dia sudah sembuh ternyata, aku harus siap dibuat repot olehnya. Kami saling diam, lagi pula apa yang akan aku katakan padanya. Tak ada kepentingan. Mendadak hawa diruangan lift menjadi panas.
Aku merasa sesuatu yang salah terjadi padaku. Setiap kali berdekatan dengan Bisma, selalu seperti ini. Hatiku berdebar tak karuan. Pintu lift terbuka, aku sangat bersyukur bisa berpisah dengannya.
Segera kulangkah kan kaki untuk keluar lalu menuju ruanganku. Kudaratkan bokongku ke kursi hitam nan empuk itu. Mengatur debaran jantungku, mengambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Baru saja satu halaman aku membaca berkas, kudengar pintu terbuka.
Nampaklah seseorang yang membuatku salah tingkah akhir-akhir ini. Kenapa dia bisa setampan dan selucu itu sih? Rambut yang memakai poni depan mirip Opa-opa Korea.
Warna kulit yang putih, tinggi semampai, jangan lupakan gigi gingsulnya. Saat tersenyum akan sangat jelas terlihat, benar-benar tampan.
"Rai, bengong aja? Ini ice coffe kesukaan kamu!" Ujarnya seraya menaruh satu cup ice coffe di mejaku.
Duh Gusti ... otakku sepertinya sudah tidak waras! Mengagumi bocah tengil ini? Hah! Sungguh menggelikan.
"Kamu makin cantik aja! Cocokkan kalau jadi istri aku? Secara aku ini sangat tampan," ucapnya percaya diri.
Aku memutar bola mataku, ingin sekali aku mengangguk setuju. Duh otak mulai error lagi! Segera kutepis segala pujian untuk Bisma.
__ADS_1
"Ngapain sih pagi-pagi udah gangguin orang kerja!" ketusku padanya.
"Jangan marah Raina! Nanti aku semakin suka sama kamu," ucapnya santai.
Tuh kan! Dia membuatku emosi saja. Sudahlah, jangan pedulikan dia. Lebih baik aku acuhkan dia, fokus ke setumpuk berkas yang sudah menanti untuk kubaca.
Sesekali kucuri pandang ke arahnya. Dia tampak duduk santai di sofa yang berada di tengah ruangan. Dia sedang asyik memainkan gawainya.
Kalau hanya untuk melakukan hal itu, kenapa tidak di rumahnya saja sih? Sudah satu jam Bisma betah di ruanganku. Sesekali ia menggerutu kesal.
Mungkin dia kalah dalam bermain game. Gawaiku bergetar. Kulihat ada satu pesan tertera di sana. Langsung kubuka saja, penasaran. Siapa sih yang kirim pesan saat jam kerja?
"Rai, nanti setelah pulang dari kantor, aku tunggu di Cafe biasa, ya?" pesan dari Mba Diya.
Pasti Mba Diya akan menceritakan sesuatu. Kuharap ini kabar baik tentang hubungannya dengan Tuan Juna.
Meski aku sempat mengumpat habis-habisan suaminya, tetapi aku sangat berharap kalau Tuan Juna akan berubah. Kulirik bocah tengil itu. Dia tengah tersenyum lebar ke arahku.
Kubalas dengan melotot tajam. Eh dia melangkah mendekatiku, apa sih maksudnya? Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku.
__ADS_1
Ya Tuhan ... jantungku seakan mau melompat dari tempatnya. Dia semakin mendekat, hangat napasnya sudah sangat terasa menyapa dahiku.
"Ka--mu, mau ngapain?" tanyaku gugup.
"Mau cium kamu," jawabnya ringan.
"Apa?" Aku melotot tajam.
Dia malah tergelak melihat ekspresi wajahku. Ish! Dasar bocah menyebalkan. Aku menyesal telah mengagumimu tadi.
"Kenapa panik gitu, Rai? Aku bercanda tahu," jelasnya masih terkekeh.
"Kamu keluar deh sekarang! Jangan ganggu aku!" usirku berteriak.
"Galak banget sih Cantik! Yasudah, aku keluar dulu. Jangan kangen ya?" Guraunya seraya mengedipkan sebelah matanya.
Ish! Dia itu, menyebalkan sekali sih. Percaya diri-nya itu lho, setinggi langit. Aku hanya mendelik sebal ke arahnya. Dia terkekeh melihat raut wajahku. Tak berapa lama ia meninggalkan ruanganku.
Ah leganya ... aku bisa konsentrasi sekarang. Aku harus segera menyelesaikan semua pekerjaanku. Agar nanti tak terlambat untuk bertemu dengan Mba Diya.
__ADS_1
Lumayan kan untuk mengusir segala kekecewaanku terhadap Mas Irsyad? Lelaki itu? Sedang apa dia sekarang? Apa dia merindukanku? Atau ... tidak mungkin!
Dia pasti akan memberitahuku kalau ingin menjenguk Nadin lagi. Aku harus belajar memaafkannya. Dia hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa.