
Aku dan bu Risma telah sampai di restoran tempat janji temu dengan klien. Aku mengekor dibelakang Bu Risma.
Karena tempat untuk meeting telah dipesan oleh klien, jadi pelayan restoran mengajakku dan Bu Risma untuk menunjukkan tempatnya.
Deg! Mataku membulat sempurna, saat tahu siapa yang akan menjadi klien penting pagi ini. Lelaki itu tersenyum manis padaku. Dengan senang hati kumembalas senyumannya.
"Maaf Pak Juna, telah menunggu lama." Ucap Bu Risma, lalu beliau duduk. Aku pun duduk di sampingnya.
Mas Irsyad terus tersenyum ke arahku, aku semakin gemas saja. Ingin rasanya kucium dia detik ini juga. Astagfirullah, otakku mendadak mesum jika melihat Mas Irsyad.
Lalu kualihkan tatapanku ke arah Si Bos ganjen itu. Dia pun sedang tersenyum sejuta watt padaku.
Cih! Malas sekali kumelihatnya. Bikin hilang konsentrasi saja. Kubuka berkas perlahan, lalu membacanya kembali.
"Kenalkan ini Raina, asisten pribadi saya Pak." Ucap Bu Risma, aku penasaran sekali apa jawaban Si genit itu.
"Dia yang akan mempresentasikan semuanya, dia sangat cerdas sekali Pak. Saya yakin, Pak Juna akan takjub melihat hasil presentasinya." Lanjut Bu Risma memujiku.
Aku sedikit tersanjung dengan pujiannya. Aku tak menyangka Bu Risma akan sebangga itu.
__ADS_1
Tapi Si Bos genit itu hanya tersenyum, lalu memintaku untuk memulai presentasinya. Kulihat Mas Irsyad mengedipkan matanya. Ya Tuhan... dia ganteng sekali. Untung saja dia suamiku.
Aku mengulum senyum, ternyata dia bisa senakal itu. Aku langsung saja memulainya, dengan perasaan gugup, senang, dan sebal bercampur menjadi satu.
Bu Risma dan Tuan Juna tampak tersenyum kecil seraya menganggukkan kepalanya. Dan dia, suamiku tercinta tersenyum manis padaku. Memberikan energi baru untukku.
Setelah kujabarkan semuanya, Tuan Juna nampak puas, sepertinya. Tak henti-hentinya Bu Risma memuji kecerdasanku.
"Asisten anda sangat cerdas Nyonya, saya menyukainya." Ucap Mas Irsyad tiba-tiba, aku tersipu malu.
Bu Risma tampak kikuk, ia melirikku sekilas. Lalu tersenyum samar, mungkin Bu Bos bingung hendak menjawab apa.
"Ah... anda benar Tuan. Tapi untuk urusan pribadi, saya rasa, anda akan kecewa. Sebab, Raina sudah menikah." Kata Bu Risma tergagap.
"Kau bisa saja Syad..." jawab Tuan Juna seraya memukul bahu suamiku.
Lalu mereka tertawa, membuat bu Risma mengernyitkan dahinya. Kutebak, pasti Bu Risma merasa aneh dengan tingkah kedua lelaki tersebut.
"Sudahlah, Bu! Biarakan kedua orang aneh ini, saya saja bingung apalagi Ibu." Ingin sekali aku mengatakan itu. Namun itu hanya suara hati saja.
__ADS_1
"Jadi bagaimana, Pak? Apa keputusannya?" Tanya Bu Risma yang nampaknya sangat penasaran.
"Mm... saya setuju untuk bekerjasama dengan perusahaan anda Bu Risma."
"Alhamdulillah..." ucapku dan Bu Risma. Lalu kami bersalaman, bergegas meninggalakn tempat tersebut.
Di dalam mobil, ponselku bergetar dua kali. Aku bisa menebak, itu pasti suamiku. Kuraih ponsel dalam tas, lalu segera membukanya.
"Ternyata, selain cantik, kamu juga cerdas Rai. Aku semakin menggilaimu. Seandainya saja kau belum bersama dengan Irsyad." Pesan yang sangat menyebalkan sekali.
Aku selalu mengabaikan setiap pesannya. Aku tak ingin suamiku menjadi salah paham. Tapi kali ini, jemariku gatal sekali ingin membalas.
"Sudahlah Tuan, jangan seperti ini! Syukuri saja kehidupan Tuan yang sudah sempurna. Mba Diya begitu mencintai Tuan. Dan ya, jangan mengganggu saya lagi!" Balasku, lalu ku teringat masih punya satu pesan lagi.
Kubuka pesan tersebut, seketika senyum merekah di bibirku.
"Selamat Sayang atas keberhasilannya. Kamu memang terbaik. Love you more, mmmuuachh." Pesan dari suamiku, aku tersenyum membayangkan wajahnya yang hendak menciumku.
Ish... dia mahal sekali dalam hal memuji. Masa hanya segitu saja ucapannya.
__ADS_1
Tapi yah, sudah keajaiban dia mau mengirimi pesan semanis itu. Biasanya hanya singkat-singkat saja.
Dasar Mas Irsyad, suami 'mahalku' aku selalu saja menyukai segala sikapnya, kekurangannya. Tapi bagiku, dia begitu sempurna.