
Malam ini begitu sunyi, langit malam begitu hitam pekat tanpa bintang. Seperti perasaanku saat ini. Saat semuanya sudah terbukti, tak ada lagi warna dalam hidupku. Semuanya menjadi kelabu.
Entah kenapa, duduk dekat jendela menjadi kenyamanan tersendiri bagiku. Angin malam yang dingin menyentuh pori-pori kulitku. Aku tak tahu, sudah berapa lama aku duduk termenung di sini.
Bahkan aku tak lagi peduli tentang suamiku akan pulang jam berapa. Hatiku masih gamang. Mungkin aku terlihat seperti orang bodoh, tetap bertahan mencintainya, mempercayainya, setelah semua yang dia lakukan padaku.
Kulihat jam yang berada dinding kamar. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Lihatlah, baru semenit yang lalu aku mengatakan tak peduli lagi pada jam pulangnya.
Namun, sedetik kemudian aku melihat jam, menunggunya cepat pulang. Aneh bukan? Ya, memang terkadang cinta membuat orang menjadi tak waras, macam diriku ini. Aku beranjak dari tempat ternyamanku, menutup kembali kaca jendela.
Merebahkan diri di atas ranjang. Mencoba untuk memejamkan mata. Namun, tetap saja tak bisa. Kucoba memutar lagu dari ponsel, kata orang sebuah lagu yang mendayu akan membuat kita mudah untuk tertidur.
"Katakan padaku apa yang harus kubuat
Biar kau bahagia dan aku juga bahagia Perasaanku mengatakan kan ada pisah
Tapi mengapa kau menarik ulur hatiku
Jika kau butuh katakan butuh
Jika kau cinta katakan cinta
Jika berpisah pisahlah saja
Sakit dan perih hanya sementara
Hanya sementara"
Lagu milik Dewiq sukses membuat air mataku lolos dengan sempurna. Liriknya begitu mewakili perasaanku. Aku tak habis pikir dengan otak suamiku. Bagaimana bisa dia setega itu! Lama berperang dalam hati, akhirnya aku terlelap dan memasuki alam mimpiku.
*****
Suara azan subuh sudah berkumandang. Aku mengerjapkan mata, menyesuaikan pandangan dengan cahaya lampu yang silau.
Kulihat tangan kekar melingkar sempurna di perutku. Segera kupindahkan, aku tak suka dipeluk olehnya saat ini dan entah sampai kapan. Mungkin sampai rasa sakitku menguap tanpa jejak.
__ADS_1
Aku beranjak menunaikan kewajiban, tanpa menunggunya untuk menjadi Imam. Setelah selesai, aku segera membangunkannya. Dia menggeliat seraya mengerjapkan matanya.
"Kamu sudah shalat?" tanyanya seraya bangun dari tidurnya.
"Iya, baru saja selesai. Aku mau masak dulu," jawabku seraya berlalu.
Tak kuhiraukan lagi dia yang tengah terdiam di atas ranjang. Sesampainya di dapur, aku segera menyiapkan bahan-bahan.
Aku ingin membuat sayur asem dan tempe goreng saja. Sepertinya sangat segar dimakan untuk sarapan. Setelah semuanya selesai, aku berlari kecil menuju kamar. Aku harus segera besiap ke kantor.
Kulihat dia sedang memainkan gawainya. Sengaja tak menegurnya, biarkan dia sibuk dengan dunianya yang baru, aku tak peduli! Segera memasuki kamar mandi, lalu melakukan ritual mandi secapat mungkin.
Aku tak ingin berlama-lama di rumah, berbagi udara dengannya. Saat semuanya telah selesai. Aku sudah rapi dengan setelan rok sepan berwarna hitam dan blous berwarna mocca.
Ada yang aneh di dalam kamar ini, aku tak melihat keberadaan suamiku. Ke mana dia? Tak kuhiraukan lagi, aku segera merias wajahku dan menyisir rambut. Namun, gerakan tanganku terhenti.
Tatkala melihat pantulan dirinya di cermin. Dia menatapku begitu dingin. Ada apa dengannya? Membuat bulu kudukku berdiri saja. Segera aku membalikkan badan, menatapnya lekat. Dadaku sudah berdebar hebat, kurasa sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Ada apa?" tanyaku datar.
"Kau salah paham! Aku tidak menghindarimu, Mas," kilahku.
"Kau bohong Raina! Apa karena kesalahanku kemarin, kau menjadi begini?" tanyanya tepat sasaran.
Aku hanya bisa diam. Lalu, apa salah jika aku marah padanya? Bukankah dia ini keterlaluan? Dadaku sudah sesak, kuyakin bulir bening sebentar lagi akan jatuh membasahi pipiku.
"Biarkan aku sendiri dulu, Mas," pintaku lirih.
Aku meninggalkannya sendiri. Segera kuhapus air mata dengan kasar. Berlari secepatnya sebelum dia mengejar. Aku menyetop taxi yang melintas di depanku. Kutumpahkan segala rasa yang tumpah ruah di dada.
Aku sesenggukan dalam taxi. Aku tak peduli jika pengemudi taxi merasa aneh melihatku. Kenapa rasanya sulit sekali memaafkan kesalahannya?
Aku membersihkan sisa riasan yang telah luntur terkena air mata. Lalu, memoleskan lagi bedak dan juga lipstik. Agar wajahku tak terlihat seperti habis menangis.
Nanti Billy dan Laras akan kepo jika melihat itu. Tak berapa taxi yang kutumpangi sudah sampai di depan kantor. Aku segera memberikan uang untuk ongkos, lalu turun. Sebelum memasuki gedung, aku merapikan lagi penampilanku.
__ADS_1
Sungguh, aku harus pandai bersandiwara saat ini, agar kedua temanku tak mencurigai apa pun. Berjalan dengan langkah biasa, tak lupa senyuman manis kuberikan pada setiap karyawan yang menyapaku.
Mencoba setenang mungkin, bukankah aku harus profesional? Tidak melibatkan urusan pribadi dengan urusan kerja. Ah ... untunglah perjalananku menuju ruangan bebas tanpa hambatan.
Kudaratkan bokong di kursi kebesaranku. Memijit pelipisku karena rasa pusing yang selalu mendera akhir-akhir ini. Terdengar suara pintu diketuk, aku mempersilakan tamu itu untuk masuk.
Munculah sekertaris Bu Risma, wajahnya yang ayu membuatku melihatnya tanpa berkedip. Ya, Mbak yang satu ini selalu berpenampilan modis, apalagi dengan otaknya yang cerdas sangat menjadikannya wanita yang sempurna.
"Maaf, Mba Rai, Bu Risma menyuruh saya untuk memberikan berkas ini. Nanti jam sepuluh pagi ada meeting dengan Pak Juna di kantor beliau. Bu Risma akan meeting dengan klien lain bersama saya, jadi Mba Rai berangkat sendiri, tidak apa-apa kan?" paparnya panjang lebar.
Entah perasaan apa ini? Aku merasa tak ingin ke sana sendiri. Sebab, di sana pasti akan ada suamiku. Ya Tuhan ... cobaan apalagi ini?
"Mm ... iya, Mbak, nanti saya ke sana sendiri, tidak apa-apa kok." Jawabku pasrah.
Mbak cantik itu tersenyum lalu pergi. Aku mencoba untuk mempelajari berkas-berkasnya.
Namun, pikiranku tetap ke mana-mana. Mengalihkan tentangmu tak semudah itu, Mas. Jika saja kita tidak sedang seperti ini, mungkin aku akan senang bisa bertemu denganmu.
******
Aku menghembuskan napas berkali-kali sebelum mengetuk ruangan Tuan Juna. Setelah dirasa aku cukup berani untuk menghadapi situasi, aku mengetuk pintu itu perlahan. Seseorang mempersilakan untuk masuk, lalu aku membuka pintu.
Aku membulatkan mata, saat tatapanku tepat di depan seseorang yang ingin sekali aku hindari. Dia menatapku nanar, aku mengalihkan pandangan pada wanita yang berada di sampingnya.
Kuperhatikan wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Rok yang begitu ketat dan pendek, baju yang berkerah sabrina, sungguh membuat wanita itu terlihat sangat sexy.
Tuan Juna mempersilakan aku untuk duduk. Aku duduk di kursi single yang berada di tengah-tengah. Tuan Juna memperkenalkan wanita itu padaku.
"Ini, Vania, adik saya, Raina." Kata Tuan Juna seraya tersenyum.
"Saya, Raina," ucapku seraya mengulurkan tangan.
"Saya, Vania," jawabnya seraya menyambut uluran tanganku.
Sesi perkenalan sudah selesai. Aku segera membuka meeting pagi ini. Tuan Juna dan suamiku sesekali memberi saran, kurang setuju dengan apa yang sudah aku susun bersama bu Risma. Aku menerima saran itu dan ya, kami bersepakat pada akhirnya.
__ADS_1
Aku merasa ada yang tak biasa pada perempuan itu. Sedari tadi mataku mengawasi setiap gerak-geriknya. Tangannya terkadang nakal menyentuh lengan suamiku. Lihatlah senyum genitnya! Ingin sekali kujambak rambutnya, lalu menyiramkan kopi panas ini pada wajahnya. Cih! Menyebalkan sekali!