
Seminggu sudah aku menajalani profesiku yang baru. Yaitu, menjadi asisten pribadi Bu Risma. Aku sangat semangat menjalani hari-hariku. Mas Irsyad sangat mendukung penuh keputusanku, semakin hari dia semakin menggemaskan saja.
Aku merasa menjadi orang yang paling bahagia. Mempunyai pekerjaan yang bagus, suami yang sangat mencintaiku, dan nilai plusnya, selain mapan dia juga tampan.
Sesempurna inikah kehidupanku? Tentu tidak! Kebahagianku belum sempurna. Sebab, kami belum dipercaya Allah untuk mempunyai momongan.
Tapi suamiku tak pernah mempersalahkan itu. Keluarga suami pun begitu, mereka tak pernah menyinggung soal anak.
Pagi ini, aku berangkat sendiri. Mas Irsyad telah lebih dulu berangkat, sebab Si Bos menyebalkan itu menelfonnya.
Aku semakin sebal saja padanya, sebab akhir-akhir ini, dia sering mengirim pesan. Dia tahu nomorku dari Mba Diya.
Waktu itu, dia menelfonku untuk berbicara dengan Mas Irsyad. Ia berdalih, bahwa nomor suamiku tidak bisa dihububungi.
"Pagi cantik." Pesan yang baru saja masuk.
Aku mendngus sebal. Apalagi melihat emoji hati di pesan itu.
__ADS_1
Cih! Apa sih maksudnya? Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran pria seperti tuan Juna. Apalagi sih yang kurang di kehidupannya.
Mba Diya cantik, kaya, apalagi yang kurang. Dibandingkan dengan aku yang hanya butiran debu begini, apa sih yang dia lihat? Ah aku jadi badmood pagi ini. Setelah sampai, aku bergegas menuju ruangan khusus.
Ya, sekarang aku mempunyai ruangan khusus asisten. Aku sudah tak satu ruangan dengan Billy dan Laras. Ahh... rindu juga satu ruangan dengan mereka.
"Ehh Si Cantik, pagi-pagi melamun aja. Nanti kesambet setan lift lho Beb," godanya. Siapa lagi kalau bukan Billy. Aku terhenyak, tersadar dari lamunanku.
Sebuah pukulan mendarat di bahu Billy. Pria itu meringis, aku hanya tersenyum melihat tingkah Billy dan Laras.
"Rasain! Siapa suruh godain Raina mulu! Ingat Bill, Raina udah nikah. Gak tahu malu banget sih," sembur Laras tak kalah kesal.
"Sudah-sudah, kalian ribut aja. Ayo keluar, kalian udah sampai tuh." Tunjukku pada pintu lift yang terbuka.
"Oh iya, Rai kita duluan ya. Nanti kita makan siang bareng, oke?" Ajak Laras, aku hanya mengangguk saja.
"Dah Bebeb Abang,"ucap Billy. Tak lupa ia berkiss bye ria.
__ADS_1
Aku hanya menggelengkan kepalaku. Kini, aku telah sampai di ruanganku. Segera kudaratkan bokong di kursi.
Mengambil beberapa berkas yang harus kupelajari untuk meeting nanti sekitar jam 9 pagi. Telpon di meja kerja berbunyi, segera kuangkat agar tak berisik.
Ternyata itu telfon dari Bu Risma, ia memintaku untuk ke ruangannya. Segera kuhampiri ruangan Bu Risma.
"Permisi, Bu. Ada apa memanggil saya?" Tanyaku sopan, kulihat Bu Risma tersenyum padaku.
"Nanti jam 9 kita meeting dengan klien penting, Rai. Kamu harus sangat hati-hati dalam presentasinya, ya. Kita harus bisa memenangkan hatinya, untuk bekerjasama dengan perusahaan kita." Ucapnya to the point.
"Baik Bu, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Semoga saja, nanti kita berhasil. Saya akan melakukan yang terbaik."
"Bagus, ini yang saya suka darimu Rai. Yasudah, siapkan berkas-berkasnya. Lalu pelajari dengan baik." Pungkasnya, lalu aku keluar dari ruangan Bu Risma.
Duh... kira-kira siapa ya klien penting itu? Kenapa pula perasaanku jadi tidak enak begini. Hati semakin berdebar-debar.
Mungkin aku terlalu berpikir berlebihan. Sebaiknya aku ke kantin saja dulu untuk memesan satu cup coffe. Agar perasaanku sedikit rilex.
__ADS_1