Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 50


__ADS_3

Pagi telah menyapa penduduk bumi. Aku terbangun dengan perasaan bahagia. Semalam, kami telah berbaikan.


Ternyata dengan ikhlas dan juga saling memaafkan, membuat aku merasa sangat lega. Sesak yang selalu aku rasa dalam dada, kini telah menguap tanpa jejak. Aku segera menuju ke ruang dapur.


Aku akan membuat nasi goreng cinta untuk kami sarapan. Dia pasti suka. Sembari bersenandung ria, aku memulai memasak. Mencampurkan segala bahan. Ada telur, bawang merah dan bawang putih yang telah aku tumbuk lalu ditumis.


Tak lupa kecap manis dan saus tomatnya. Dua porsi nasi goreng telah tersaji di meja. Aku sengaja membuatnya menyerupai bentum hati. Lantas menaruh potongan tomat dan timun di sisi piringnya. Cantik bukan?


Ah ... pasti dia akan lahap sekali. Setelah semuanya siap, aku bergegas ke kamar untuk mengajaknya sarapan. Dia segera membuka pintu dan mengikuti langkahku menuju ruang makan.


Dia duduk di sampingku, menatapku tanpa berkedip. Namun, aku merasa malu dengan tatapannya. Dia hanya memandangi rambut basahku yang tergerai. Cih, menyabalkan sekali!


"Kenapa sih, Mas liatinnya gitu banget?" tanyaku kesal.


"Kamu cantik. Sangat cantik. Rambutnya kenapa bisa basah gitu?" sahutnya, dia tersenyum di akhir ucapannya.

__ADS_1


"Kamu nyebelin ih!" sentakku.


Dia hanya terkekeh mendengar jawabanku. Kenapa mesti bertanya seperti itu? Jelas-jelas ini adalah ulahnya.


Dia menghentikan tawanya, lantas menyantap sepiring nasi goreng yang telah aku buat. Kami makan dengan perasaan yang sulit untuk dijabarkan. Sesekali Mas Irsyad mencuri pandang ke arahku. Aku tersipu dibuatnya.


Setelah keromantisan kami di meja makan usai, kini aku dan Mas Irsyad harus bersiap ke kantor. Di dalam mobil, Mas Irsyad terus saja menggenggam tanganku. Belum pernah dia semanis ini. Aku berharap, kejadian kemarian menjadikan cinta kami lebih kuat.


Ah ... jadi terbayang lagi adegan semalam. Betapa kami menyatukan tubuh dengan hasrat yang menggelora. Aku sampai tak bisa mengimbanginya. Ya, mungkin karena efek rindu. Sebab, kami sudah lama tak melakukannya.


Aku memdelik sebal ke arahnya. Apa-apaan dia ini! Aku malu tahu! Aku mengerucutkan bibir, tangan dilipat di dada. Dia menoleh sekilas, lantas tertawa. Dia mencium punggung tanganku berulang-ulang.


"Kamu lucu, Yang. Kenapa wajahmu sampai merah begitu? Malu ya? Kaya pertama melakuakan saja," cerocosnya.


Aku sendiri pun merasa aneh. Tak pernah sebelumnya aku seperti itu. Semalam, aku yang mendominasi permainan. Aku seperti tak mengenal diriku. Apa mungkin karena efek rindu?

__ADS_1


"Mas! Udah deh, jangan bahas itu. Aku malu tahu," kesalku padanya.


Dia terus saja menggodaku dengan kata-kata vulgarnya. Dasar ya lelaki, kalau urusan ranjang aja, cepat nyambungnya.


Pikiran mereka tak jauh-jauh dari hal 'itu'. Sesampainya di kantor, aku segera turun. Namun, sebelum turun, aku mencium punggung tangan Mas Irsyad, lantas suamiku mencium kening dan bibirku. Ah ... bahagianya.


Aku berjalan seraya membalas senyum para teman kantor yang menyapa. Mataku menyapu seluruh ruangan. Mencari dua makhluk Tuhan yang senantiasa menggangguku. Kemana Billy dan Laras ya? Biasanya mereka akan mengekor di belakangku atau mengejutkanku di balik pintu.


Sesampainya di ruangan, aku langsung membulatkan mata sempurna. Melihat tumpukan berkas yang sudah ada di meja. Aku ingin pulang masih sore, ingin memasak makanan favorit suamiku. Haruskan hari ini aku lembur?


******


Assalamu'alaikum Readers. Selamat pagi 😊 Maaf akhir-akhir ini aku jarang up, sebab sedang ada project baru. Membuat novel kolaborasi di platform sebelah. hehe


Dukung novel aku yang ini dan yang satunya lagi ya, bisa di cek di profil aku. Mohon tinggalkan jejak. Menyentuh tombol like dan favorit gak sulit kok 😅

__ADS_1


Selamat beraktivitas Readers, tetap semangat 🤗😘


__ADS_2