
Malam ini, aku dan mas Irsyad akan menghadiri undangan makan malam dari tuan Juna. Aku memakai dress selutut berwarna hijau botol, warna favoritku. Kutatap pantulan diriku di cermin besar, lalu aku tersenyum.
Cantik sekali diriku ini. Aku memuji diriku sendiri, sebab mas Irsyad belum tentu mengatakan itu. Kulihat wajahnya yang tersenyum di belakangku, wajahnya sangat jelas terlihat dari cermin.
"Berangkat sekarang yuk? Nanti kita kemalaman pulangnya Yang." Ajaknya seraya merangkul pinggangku.
Kumanyunkan bibirku, dugaanku benar adanya. Mas Irsyad tak memujiku sama sekali. Huh aku kesal, bahkan sangat kesal!
*******
Mobil kami telah berada di halaman rumah tuan Juna. Bisa kubilang ini bukan rumah, tapi istana.
Pilar-pilar yang berdiri kokoh, dengan sentuhan warna putih, istana tuan Juna ini benar-benar elegan. Mas Irsyad menekan bel, satu kali, dua kali, pintu belum terbuka.
Tangan mas Irsyad masih menggantung untuk memencet bel yang ketiga kalinya, namun sayup-sayup kami mendengar seseorang berjalan ke arah pintu.
"Assalamu'alaikum." Ucap kami, seraya tersenyum.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya.
"Ayo silahkan masuk, suami saya sudah menunggu." Ajaknya seraya membuka pintu lebar-lebar.
Kami pun memasuki rumah tuan Juna.
Benar-benar menakjubkan bagi seseorang sepertiku. Guci-guci besar dan indah terpajang rapi di setiap sudut rumah. Belum lagi bunga-bunga hias yang berada di setiap sisi rumahnya.
__ADS_1
Lemari kaca yang besar menyambut kedatanganku. Dalam lemari tesebut terdapat banyak sekali pernak-pernik dari keramik, sangat cantik.
Tak terasa kini kami telah sampai di ruangan makan. Terdapat hidangan lezat di meja besar di hadapanku.
"Syad, aku pikir kau takkan datang." Sambutnya seraya memukul pelan bahu suamiku.
Pandangannya beralih kepadaku, aku merasa canggung sekali mendapat tatapannya.
"Saya takkan mengingkari janji Tuan," balas suamiku.
"Ini istri saya Tuan, namanya Raina." Ucap suamiku, sembari menoleh ke arahku.
"Saya Raina, Tuan." Ujarku sembari mengulurkan tangan padanya. Kami berjabat tangan.
"Astagfirullah, kenapa aku selalu suudzon tentang tuan Juna." Batinku betistighfar.
"Alhamdulillah Tuan, Allah sangat baik sehingga menjadikannya istri saya."
Hanya itu jawaban suamiku. Aku kira dia akan sangat memujiku di depan bosnya itu.
"Oh iya, kenalkan ini istri saya Adiya." Kami saling berkenalan sembari berjabat tangan.
Mba Adiya sangat cantik dan anggun, siapa pun yang memandangnya pasti akan terpesona.
Apalagi dengan penampilannya malam ini, dengan memakai dress berwarna hitam selutut, dengan mutiara kecil di bagian atasnya menambah aura kecantikan Mba Adiya memancar.
__ADS_1
Lihatlah senyum manisnya, aku sangat menyukainya. Pantas saja, tuan Juna menikahinya.
Kami dipersilahkan duduk di kursi, dan segera memulai acara makan malam ini. Sesekali mba Adiya melontarkan beberapa pertanyaan padaku.
Sedangkan mas Irsyad membicarakan soal pekerjaan dengan tuan Juna. Tak sengaja pandanganku bertemu dengan tuan juna.
Aku bergidik ngeri melihat tatapan anehnya. Segera kupalingkan wajahku, mba Adiya masih setia dengan sendok dan garpu di tangannya.
Kupandangi wajah mereka satu persatu, mereka tampak menikmati makan malam yang bagiku sangat aneh ini.
Ah entah lah! Aku bingung sendiri, kenapa perasaanku sangat tidak nyaman begini. Kenap pula, pikiranku selalu buruk tentanag bos suamiku ini.
"Rai, silahkan nambah. Saya sengaja lho masak banyak untuk tamu spesial malam ini." Kata mba Adiya mengejutkanku.
Aku tersenyum samar, aku bingung harus bagaimana. Selera makanku hilang seketika, saat melihat tatapan aneh dari tuan Juna.
"Iya Nyonya, terimakasih. Tapi saya sudah kenyang. Makanannya sangat enak sekali." Pujiku basa-basi.
Ah tapi bukan sekedar basa-basi sih, makanannya memang sangat lezat.
"Jangan panggil saya Nyonya, Rai. Panggil Diya aja."
"Atau panggil Mba aja, agar aku merasa menjadi kakak," ucapnya riang.
aku hanya tersenyum seraya mengangguk. Tak ada salahnya kan, menerima tawarannya?
__ADS_1