Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
13. Kencan (part 2)


__ADS_3

Sepertinya hanya suasana hatiku yang mulai memanas. Cemburu itu berbahaya, apalagi kalau yang dicemburui tidak peka. Ren tampak sangat menikmati. Begitu pula dengan Mbak Rosiana pemilik toko ini.


“Saya juga follow Mbak Ayana lho, tapi belum diacc.”


“Aaah itu” jawabanku menggantung, aku sering susah menjawab kalau ditanya begini. Aku ingin menunjuk hidung orang di hadapanku ini. Laki-laki tampan yang kamu follow inilah penyebab utamanya.


“Kakak, apa aku boleh menciummu.” Apa! Gila ya. Aku kaget mendengar apa yang dikatakan Ren, apalagi dia mengatakannya dengan wajah sepolos itu. Lebih-lebih wanita pemilik toko ini, dia jadi serba salah sendiri.


“Maaf Mas Renan saya malah menggangu kencannya. Silahkan menikmati waktunya, saya permisi dulu.”


“Ia Mbak.” Aku yang menjawab, sambil memalingkan muka, malu. Aku memang ingin dia pergi. Tapi tidak begini juga caranya. Mendelik ke arah Ren. “Gila ya.”


“Awww, sakit kak.” Bodo amat aku benar-benar mencubitnya.


“Apa tadi? Aku ingin mencium kakak.” Bisa tidak berperilaku normal, paling tidak kalau di hadapan orang.


“Ia.” Ia menjawab sambil mendorongku. "Aku memang ingin mencium kakak"


Hei, hei, tunggu dulu. Aku sedang kesal denganmu juga tahu. Tapi belum juga aku memakinya lagi, anak ini sudah semakin menyudutkanku. Hingga aku terperangkap di bawahnya, menempel pada sofa. “Hentikan Ren, menyingkir sekarang!” Bukannya menurut dia malah melanjutkan apa yang dia katakan tadi. Dia mendapatkan apa yang dia inginkan.


“Hentikan Ren nanti mbaknya datang.”


“Baiklah.” Lalu dia bangun dan menyingkir duduk. Tunggu, dia menyeringai kan tadi. Senyum liciknya, aku melihatnya tadi.


Aku berwajah kecut sambil merapikan rambut dan pakaianku. Bagaimana dia bisa menciumiku setelah membuatku kesal setengah mati. Makan gratisan, aku bahkan akan memaksanya membayar semua makanan yang kami makan hari ini. Demi apa, demi harga diri.


Ren mengusap wajahku dengan tisu yang diambilnya dari tasku. Membantuku menyelipkan rambut di belakang telinga. Anak ini hari ini benar-benar tidak peka.


“Bagaimana ini, aku masih ingin mencium kakak.”


“Hentikan, atau tidur sendirian kamu nanti malam.” Menjawab cepat.


“Jahat. Memang aku di suruh tidur di mana?” rajukanmu tidak mempan.


“Tidur bareng Haikal.”


“Jahat.”


“Diam di tempatmu, duduk yang manis dan tunggu pesanan datang.” Tegas aku mengatakannya. Tanpa berkedip. Membuatnya memasang wajah masam.


Aku terselamatkan dengan masuknya mbak yang menerima pesanan kami tadi. Lho, kenapa Rosiana pemilik toko datang lagi.


“Silahkan Mas, ini menu spesial toko kami.” Apa! Jadi ini servis spesial begitu. Aku menatap Ren geram. Apalagi saat anak itu mengedipkan mata kirinya.


“Kenapa banyak sekali, kami juga tidak bisa menghabiskannya.” Kataku antara waw takjub dan tidak suka. Bagaimana dia bisa menggratiskan makanan sebanyak ini, tanpa punya maksud apa-apa.


“Silahkan Mas ini es creamnya.” Dia tidak menjawabku. Dia sibuk melayani Ren, dia mengambil satu mangkok kecil. “Ini rasa taro dan green tea.” Apa! Dia bahkan tau rasa kesukaan Ren. “Ini juga spesial toko kami mas, rasa moccha dengan aneka topping. Mas Renan suka es cream kan, saya pernah liat postingan Mas tentang es cream. Ada banyak foto es cream.” Hei, aku di sini, aku masih di sini. Mbak pemilik toko es cream. Berhenti bicara dan pergilah.


Tanpa sadar aku meletakan sendok sampai berdenting. Agak kencang sepertinya, karena berhasil membuat Rosiana menoleh padaku. Tunggu, barusan Ren benar-benar sedang tersenyum licik kan. Aku kembali memergokinya, tapi sekarang dia sudah makan dan menatapku normal.


“Eh, saya tinggal dulu ya Mbak. Mas Renan silahkan dinikmati, kalo ada yang dibutuhkan lagi bisa panggil saya.”


Dentingan sendok berhasil mengusirnya pergi, walaupun aku tahu dia masih ingin disini, menjelaskan ini dan itu. Awalnya aku merasa tidak enak sudah meletakan sendok sekeras itu, sekarang aku bersyukur.


“Kau suka?” Nada bicaraku satir dan ingin menyindirnya.


“Suka, es creamnya enak. Apalagi aku makan dengan kakak.” Bukan itu maksudnya, maksudku kau suka diperlakukan istimewa sama follower kamu itu.  “Kakak coba yang ini.” Ren menyuapiku. Wajahku yang kaku langsung lumer. Enak. Makan makanan manis setelah kau marah benar-benar bisa melumerkan panasnya otak.


“Kakak suka kan? makanan di sini, tempatnya juga enak.”


“Lumayan.” Tapi aku tidak mau diajak lagi kemari. “Coba ini sayang. Cakenya lembut.” Aku menyuapi Ren tanpa diminta olehnya. Efek cemburu aku bersikap lebih manis padanya.


“Lagi.”

__ADS_1


Hup, satu suapan masuk ke mulutnya.


“Lagi.”


Hup, dua suapan masuk.


“Lagi.”


Hup, tiga suapan masuk.


“Lagi.”


Gila ya, makan sendiri sana. Kuletakan satu iris di depannya. Dia tertawa melihatku berwajah masam.


“Sini aku suapi kakak, sampai habis nggak papa. Pakai bibir juga nggak papa. Haha.”


...***...


Kencan hari ini aku beri nilai 6. Aku suka es creamnya, aku suka cakenya, aku suka tempat dan suasananya. Tapi aku tidak suka sama pemilik toko ini. Belum selesai kami menikmati makanan, dia sudah datang lagi. Dengan alasan pemberitahuan, bahwa dia akan memberi kami spesial takeway. Dia menawarkan beberapa jenis cake, es cream cake yang bisa kami bawa pulang. Dan yang lebih tidak aku suka Ren menerimanya dengan senang. Dia benar-benar. Apa dia memang tidak tahu, kalau aku sudah berusaha menahan kesalku.


“Terimakasih ya Mas Renan, Mbak Aya. Sering-sering mampir kemari lagi ya.” Nggak mau!


“Tentu saja, apa lain kali kami masih dapat gratisan?” Apa! Aku mendelik pada Ren.


“Haha, buat Mas Renan spesial diskon selalu ada.” Hentikan tertawa menggodamu itu. Kutarik Tangan Ren agar segera meninggalkan tempat ini.


Aku rasa aku membanting pintu mobil. Ren meletakan tas kertas berisi cake dan tas lainnya berisi escream cake di kursi belakang. Hanya melirikku sekilas. Apa! Dia bersenandung. Dia menyanyikan lagu dengan suara kecil, aku mendengarnya hanya seperti gumaman. Tapi aku jelas-jelas tahu, dia sedang merasa senang.


Ren sudah duduk di belakang kemudi. Tersenyum dan mengedipkan mata.


Aaaaaaaa! Aku benar-benar mendelik padanya.


“Kau senang?” Suaraku ketus.


“Benar itu yang membuatmu sesenang itu.?”


“Ia.”


Mobil melaju dengan kecepatan normal. Aku melengos menatap kaca. Pepohonan bergerak cepat di luar sana. Aya tenanglah. Begitu hatiku mengatakan, memerintahkan aku menarik nafas dalam. Menghembuskannya perlahan. Bersikaplah sesuai dengan usiamu, begitu  diriku sendiri mengingatkan.


“Ren apa es creamnya benar-benar enak menurutmu?” aku tidak sanggup kawan, aku masih terbawa cemburu ketika bicara. Sampai saat ini, walaupun toko itu sudah menghilang dari pandanganku.


“Enak.”


“Beri nilai satu sampai sepuluh,” kataku lagi.


“Sepuluh, karena aku makan dengan kakak.” cepat sekali, apa kau berfikir saat memberi nilai.


“Bukan karena makan denganku, beri nilai untuk es creamnya saja.” Masih ketus.


“Hemmm, kenapa memangnya?”


Apa! Kau menyeringai melihatku. Seperti sangat puas mempermainkanku.


Kesal tidak kujawab, aku memilih mengambil hp dari dalam tas. Kau melihat, dan mulai menunjukan rasa tidak suka. Siapa perduli, memang cuma kamu yang bisa membuat orang kesal.


“Kenapa keluarin hp?”


“Hemmm, kenapa memangnya?” aku menjawab sama persis dengan apa yang dia katakan tadi, dengan intonasi yang sama. Aku tahu dia mulai marah. Huh! Siapa perduli.


“Simpan!” katanya cepat. Dengan intonasi perintah.


“Nggak mau!”

__ADS_1


“Simpan!”


“Nggak mau!” jujur, aku gemetar juga ketika mengatakannya. Karena suara Ren sudah terdengar sangat kesal.


“Baiklah, lakukan apa yang Kakak mau!”


Dia tahu, aku akan merasa bersalah dengan kata-katanya. Tapi tetap saja aku tidak memasukan hpku lagi di dalam tas. Terserah, kalau mau menghukumku hukum aku nanti. Yang terpenting, sekarang aku merasa puas.


Aku meliriknya. Ren membisu dengan wajah dingin. Baiklah karena aku sedang menjalankan protes lebih baik aku benar-benar memainkan hp di tanganku. Sudah kepalang basah, toh aku sudah melanggar aturan Ren. aku melirik ke arah Ren lagi dia masih membisu di sana. Duh, aku mulai ketar ketir kalau dia benar-benar marah bagaimana. Mau menegurnya aku gengsi, harga diri. Gayanya.


Baiklah, mungkin cara ini bisa kupakai mencairkan suasana.


“Resep es cream” aku sengaja memakai suara di mesin pencarian. Berhasil, dia menoleh.


“Kenapa? Mau buat es cream?” aku tertawa dalam hati. Asik, berhasil membuatnya bicara. Aku lega, lebih mudah melihat Ren marah sambil bicara dan menghukumku. Daripada saat dia diam.


“Ia, kamu kan suka”


“Apa kakak bisa buat rasa taro dan greentea.” Nadanya meremehkanku.


“Resep es cream rasa taro dan greentea.” Mesin pencarian mencari. "Huu" sambil kugerakan kepalaku menantangnya.


“Menurutku rasa es cream taro dan greentea di tempat tadi sudah enak.” Dia memancingku lagi, dengan membuatku kembali ke suasana di toko tadi. Dan itu berhasil membangkitkan suasana cemburu di hatiku lagi.


“Resep es cream taro dan greentea yang lebih enak dari toko sebelah.”


“Hahaha.” Kau tergelak saat mendengar kata kunci pencarianku.


“Apa! akan kubuatkan yang lebih enak.” Masih bicara dengan sok. Aku benar-benar lupa berapa usiaku sekarang, mungkin jauh lebih kekanakan dari Ren.


“Tapi katanya buat es cream ada alatnya lho, mahal lagi.”


“Resep es cream taro dan greentea yang lebih enak dari toko sebelah, yang nggak perlu alat pembuat es cream mahal.” Aku mendelik. Puas!


Ren tergelak. Mau bicara apa lagi kamu.


“Apa kakak nggak repot, bahan-bahan pembuatannya juga kan nggak sedikit.”


“Resep es cream taro dan greentea yang lebih enak dari toko sebelah, yang nggak perlu alat pembuat es cream mahal. Yang bahan-bahannya bisa dibeli online.”


Apa! Sudah puas melihatku cemburu.


“Tapi aku nggak mau kalau kakak sibuk buat es cream dan nggak ada waktu buat aku.”


Apa! Alasan itu lagi.


“Resep es cream taro dan greentea yang lebih enak dari toko sebelah, yang nggak perlu alat pembuat es cream mahal. Yang bahan-bahannya bisa dibeli online. Yang bisa dibuat sambil memejamkan mata juga pasti jadi. Anti gagal.” Mesin pencarian berputar-putar.


“Hahaha, aku sudah tidak tahan lagi.”


Ciiittt, tiba-tiba Ren menepikan mobil ke pinggir jalan. Kenapa ini. “Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi,” katanya.


Hei apa yang kamu lakukan Ren. “Hemm.hemm.” Aku berontak saat dia mendorong tubuhku dan menciumku. Tunggu kenapa kau menciumku Ren. Aku sedang sangat kesal sekarang. “Hemmm.” Kudorong tubuhnya, walaupun sia-sia. Aku kehabisan nafas. Hei hentikan.


Aku tersengal saat Ren melepaskan bibirnya. “Gila ya, kenapa tiba-tiba menciumku?” Dia diam saja. Sekarang Ren memelukku. Dia mendekapku kuat. Ada apa ini, aku tersadar ada yang tidak biasa sekarang.


“Kakak terimakasih.” Eh, kenapa ini.


“Ren, kenapa?”


Bersambung......


Klik favorit ya ^_^

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2