Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Nonton Film Berlanjut


__ADS_3

Masih terlihat para penonton lain yang berjalan mencari kursi mereka masing-masing. Tidak ada yang melewatiku karena aku duduk paling pinggir. Ren selalu memilih tempat duduk yang sama setiap kali kami nonton. Dia ada di samping kiriku. Ada yang mencuri perhatianku dengan deretan kursi yang berjarak dua baris dari aku duduk.


Aku menangkap satu pemandangan menarik. Sesuatu yang tidak biasa.


“ Ren, kenapa kursi di samping gadis itu kosong ya.” Ada laki-laki di sampingnya


yang posisinya sejajar denganku. Satu wanita di sampingnya. Lalu kursi kosong, kosong,


kosong. Semua satu baris kosong. Apa mereka sedang kencang ala konglomerat yang membeli satu deret kursi.


Aku gemes sendiri. Seperti adegan-adegan drama kalau tokoh utama sedang nonton di bioskop.


“ Aaaa, seharusnya aku beli satu deret kursi juga biar keliatan keren.” Reaksi Ren seperti biasa.


“ Jangan aneh-aneh ya.” Kucubit pipinya. Saat dia mulai meringis, kuusap-usap lembut. Seseorang duduk tepat di


samping Ren, ya Tuhan pasangan yang kami temui tadi. Dia tersenyum melihatku.


Aku membalas. Ren tidak perduli seperti biasanya dan cuma melihatku.“  Ren lucu ya, kayak drama-drama. Aku foto deh.”Kembali


membahas deretan bangku kosong setelah orang di samping Ren duduk.


“ Gak boleh, mau foto-foto siapa? Foto aku aja bolehnya.” Merebut hp,


lalu cekrek, cekrek. Menariku sampai pipi kami menempel. “ Besok aku beli


sederet kursi buat kakak.” Ini anak bukan itu poinnya. Aku hanya gemes melihat


ada adegan nyata yang seperti aku lihat di drama.


“ Haha, ia gak akan foto. Sudah sini. Film sudah mau mulai.” Aku sudah


tidak memperhatikan deretan bangku kosong tapi menatap layar lebar di depan.


Sedang seru-serunya.


“ Adegan panas kakak gak boleh lihat.” Menutup mataku, sampai aku


gelagapan kaget. Untung aku tidak menjerit. Sudah seperti nonton film horor terkejutnya. Kutarik tangannya yang menutupi mata.


“ Haha.” Tertawa tampa dosa sampai bahunya bergetar. Karena mengontrol tekanan suaranya.


Reaksiku sudah seperti stiker melotot melihatnya. Adegan panas apa! Itukan


adegan mau bakar gedung buat menghilangkan barang bukti! panas dari mana! Eh, kepala sedang berfikir.


Bener juga si, bakar-bakaran kan panas, seketika membeku. Itu adegan bakar gedung pasti panas. Adegan panas, Duh otak

__ADS_1


minusku memikirkan apa si. Dia juga si, membuatku berfikir yang aneh-aneh


“ Haha,aku mau mencium kakak jadinya.” Berbisik sampil menempelkan


bibir di pipi. Anak ini benar-benar deh. “Kakak lucu banget si ekspresinya, coba di jadiin stiker.”


“ Dasar, awas kamu ya.” Bikin film yang lagi seru-serunya langsung anjlok, aku kehilangan beberapa moment berharga tadi. Aaaaa, gara-gara adegan panas.


Film di layar kembali masuk ke babak penuh aksi. Menuju babak akhir. Semua sudah tegang


dengan caranya masing-masing. Ada yang mengepalkan kedua tangan sambil


berteriak tanpa bersuara. Macam-macam cara mereka mengekspresikan perasaan.


Sementara yang ada di sampingku, sepertinya tidak benar-benar menikmati


film yang ada di layar besar.


Menyodorkan minuman ke depan mulutku. Menyuapiku popcorn,


sempat-sempatnya menusuk pipiku dengan jemarinya. Padahal aku sedang fokus


menikmati alur cerita yang syarat dengan aksi. Aku tidak tahu bagaimana wajahku menunjukan mimik, mulut melompong karena kaget tiba-tiba popcorn sudah nyemplung ke mulut. Ditambah gelak tawa yang tertahan dan tubuh bergetar di sampingku.


Renan!


“ Haha. Ekspresi kakak lebih enak di lihat dari pada filmnya.” Tubuhnya masih berguncang menahan tawa. Anak ini. Dia akhirnya memilih


menyandarkan kepala di bahuku. Aku memiringkan kepalaku menempel padanya. Tangannya lagi-lagi memasukan popcorn ke mulutku.


Besok-besok aku gak mau beli popcorn kalau nonton sama kamu!


“ Sebenarnya aku malas nonton, kalau sudah nonton kakak fokus banget.” Ngomel-ngomel.


Haha, benar si. Kalau sedang nonton drama kami akan pamer komentar tentang para


pemainnya. Kalau di sini aku bisa-bisa di lempar botol minuman kalau berisik.


Ren masih menyandarkan kepalanya. Meraih tangan, mengaitkan jemari kami. Mencium


tanganku.Itu yang dia lakukan selain menyuapiku sepanjang acara.


Selesai juga filmnya. Keluar ruangan bioskop.


“ Kak Aya!” Suara yang kukenal, aku mencari-cari. " Kita nonton film yang sama." Kirana keluar dari pintu. Menghambur ke arahku. Peluk sambil lompat girang. Ya ampun, aku tidak melihatnya tadi.


" Sama siapa Ki, Mas Haikal?"

__ADS_1


" Bukan, sama temen." Ada yang mendekat. " Temen sekolah Ki. Mas Haikal ada acara di kampus, padahal tadinya janji mau ajak nonton." Tertawa melihat Ren. Lalu cium tangan. " Abang Renan, hehe."


" Sudah makan? Yuk Kak Aya traktir mau makan apa?" Ren menyilangkan tangannya. Mengeluarkan dompetnya. Mengeluarkan beberapa lembar uang. Melihat adikku Kirana.


" Ajak temanmu makan sana." Dia melihatku sambil tertawa lalu menyambar uang. Dasar, ajakanku kalah dari uang jajan Ren.


" Makasih ya Abang, Ki makan sendiri aja. Kak Aya jalan sama Abang Renan aja berdua. Hehe, kami gak mau mengganggu." Main kabur setelah mendapat uang jajan.


" Apa! Hari ini kakak lupa kalau kakak cuma boleh menjawab ia dan melakukan apa yang aku mau." Ia aku lupa.


" Ia sayang." Terserahlah suka-suka kamu.


Kami turun ke lantai dua. Berjalan di antara butik pakaian dan semua yang berbau gaya hidup. Terhampar satu lantai, dari brand lokal sampai kelas dunia. Grand Mall semakin menunjukan kelasnya. Di lantai ini pula salah satu toko perhiasan milik mama.


“ Kakak mau beli sesuatu?”


“ Gak ada, kita beli makanan aja buat ke rumah mama.” Aku menggeleng, memang lagi gak mau beli sesuatu.


“ Kakak gak mau beli apa gitu, baju, sepatu, atau.” Menyentuh ujung


rambutku lagi. Lalu melepaskannya  tanpa meneruskan kalimatnya. Apa! Mau


aku beli apa memang, kan tinggal bilang.


“ Ren mau belikan aku apa?”


“ Terserah kakak.”


“ Gimana kalau berikan aku izin bawa motor ke sekolah.”


“ Belikan baarang! Bukan berikan!” Sudah bergaya mencekik leherku. (Dih lawakanmu Kak Aya, jadul wkwkwk)


“ Haha, ia,ia.” Aku berjalan cepat meninggalkannya. Lalu masuk ke dalam


sebuah toko. Ren ikut menyusul. Aku masih melihat-lihat saja. Belanja mata dulu, gak perlu menguras dompet Haha. Tapi


karena Ren bilang akan membelikanku sesuatu jadi aku mau belanja donk. Haha.


“ Kakak, ini lucu kan?”


Aku memilih beberapa baju yang dia rekomendasikan. Dia membawanya ke kasir, kulihat lagi sepertinya semua baju lengannya panjang ya. Aku baru menyadari, dan semuanya pilihan Ren.


Eh, tiba-tiba pikiranku langsung tercerahkan saat melihat penjaga kasir dengan seragam, sekaligus kerudung hijaunya yang rapat menutup kepalanya. Aku menoleh pada Ren, dia tersenyum sambil menyentuh daguku. Ah, aku harus menanyakannya. Apa pikiranku seperti apa yang dia pikirkan.


Hijab, aku sering ngobrol tentang itu dengan teman sesama guru.,tapi aku belum pernah membahasnya dengan Ren.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2