
Kenapa? Kenapa ini, memang aku
melakukan kesalahan apa?
Seingatku aku hanya tidur, apa dia marah karena aku tidak menunggunya
pulang. Tapi dia sendirikan yang bilang aku tidak perlu menunggu. Kalau aura di
sekitarnya sudah menghitam begitu, mana berani aku menunjukan surat Andrian
hari ini. Belum apa-apa dia pasti sudah meledak.
Pagi ini suasana hati Ren tampak muram. Dia cemberut bahkan dari saat
kami bangun sholat subuh tadi. Matanya terlihat sembab, mengantung kelopak mata yang mengelap,
sepertinya dia kelelahan. Ah, diakan habis lembur semalam. Pasti lelah, begitu pikirku
tanpa bertanya lebih lanjut. Aku sudah melipat mukena dan mengantungnya di
lemari, Ren berdiri di dekat pintu.
“ Kenapa sayang? Mau kubuatkan teh hangat?” Dia menatapku dengan sorot mata mengancam.
Hei, apa salahku?
Dia melangkah mendekatiku, menarik tangan lalu aku mengikutinya pasrah. Ada
apa si dengannya. “ Kenapa? Aku mau masak sarapan.”
“ Aku gak mau sarapan!” ujarnya kesal, ini kenapa lagi coba.Marah-marah
tanpa alasan. Dia menarik tubuhku, lalu mendudukanku di sofa di depan tv. Sedangkan
dia memilih duduk di karpet. Bersimpuh menghadapiku. “Kenapa sayang. Cape ya
lembur semalam. Sini aku peluk.” Aku merentangkan tangan lebar siap menangkapnya
dalam dekapaanku. Tapi dia tidak bergeming.
Eh, sepertinya benar ada yang aneh. Biasanyaa Ren langsung menghambur ke
arahku kalau aku sudah merentangkan tangan begini. Dia akan tertawa dan selanjutnya terserah dia.
“ Surat.” Ketusnya.
“ Surat?” Aku mengeryit. Surat apa? Kenapa membahas
__ADS_1
surat. Membingungkan. Tapi sekejap saja saat kesadaran dan otakku menemukan benang merah, aku
langsung tergagap.“ Surat. Surat muridku." Ragu-ragu. Wajah Ren semakin memancarkan aura panas. Aku bahkan bisa terbakar oleh tatapannya. " Kok Ren bisa tau?” Ayo Ayana bersikap manis dan tidak tahu malu seperti biasanya.
“ Kau mengingau semalam saat tidur." Aku langsung terperanjak. Lebih-lebih saat mendengar kalimat selanjutya. "Kakak tahu, pendosa memang
terkadang mengigau tentang dosa-dosanya dalam tidur.” Sinis.
Haha, apa-apaan ini. Aku tidak bisa membantah, tapi senang dengan
wajah kesalnya yang mengemaskan. Aku kan jadi ingin mencubit pipinya. Menciumnya juga.
“ Sayang kemarilah, aku akan jelaskan semuanya.” tentang surat yang memang tidak akan aku sembunyikan darimu. Walaupun awalnya untuk mencari aman, aku ingin mengubur perihal surat ini. Tapi nasehat Mas Gilang tidak bisa aku kesampingkan begitu saja.
“ Jangan coba-coba menggodaku ya, aku tidak akan mempan dengan rayuan
kakak.” Menolak mentah-mentah tanganku yang sudah terbuka lebar. "jelaskan semua perihal tentang surat itu. Se-mu-a."
Aaaaa, curang ini namanya. Kenapa cemberutnya orang ganteng itu lucu si. Aku menahan diri untuk tidak tersenyum. Aku bisa tertawa kalau sudah terpancing.
“ Benar, tidak akan tergoda.” Aku tersenyum sambil mengedipkan mata.
Menarik ujung kerah bajuku, sampai leher dan bahuku terbuka. Kumiringkan kepalaku sambil tersenyum nakal padanya.
“ Pakai baju yang benar!” Ren bangun, menarik lagi kerah bajuku
hanya dengan cara itu. Cih, maaf ya, aku sedang marah sekarang. Istriku menerima surat cinta dari laki-laki lain. Jadi, jangan coba-coba menggodaku sebelum aku puas dengan penjelasan kakak.”
Bagaimana ini melihat wajah kesalnya aku malah ingin tertawa dan
memeluknya.
“ Tidak mempan ya, kalau ini.” Sekali lagi aku mengodanya dengan menarik ujung rokku naik ke atas perlahan. Pelan, sampai di atas betisku.
“ Kakak!” berteriak lalu bangun. Aku terkejut dan mundur membentur ujung
sofa. Aku pikir dia akan menuju ke araahku. Eh dia mau kemana? Selang tidak lama Ren muncul dari kamar. Bawa apa dia. Selimut, buat apa?
Ren berdiri di hadapanku, membentangkan selimut di atas kepalaku. “ Pegang!” ujarnya menyerahkan ujung selimut
di tangannya. Dia menyelimuti tubuhku seperti orang sedang kedingingan, dengan ujung
rambut yang nongol, kupegang erat ujung selimut di bawah leher. Anak ini benar-benar deh. Panas tahu!
“ Panas sayang, aku lepas ya. Hehe.”
“ Kalau kakak berani melepasnya, aku pastikan mulai maalam ini kakak
__ADS_1
tidak akan pernah bisa tidur dengan damai. Walaupun kakak menangis sekalipun.”Aku
langsung menutupi kepalaku lagi dengan selimut yang sudah melorot tadi dan mencengkram ujungnya di bawah
leher. Dia serius.
Berhenti bercanda Ayana, keimutanmu tidak akan mempan pagi ini.
“ Kakak tahu, aku mencari semalaman surat itu. Tapi tidak ketemu di mana pun. Dimana
kakak menyimpannya.” Jadi kelopak mata yang menghitam itu karena semalaman kamu mencari surat.
Surat Andrian, sebenarnya aku mengigau apa si semalam sampai menyebut
surat itu.
“ Aku taruh di bawah bantal.” Menunjuk kamar.
“ Apa!” aku terlonjak mendengar teriakannya. “ Kenapa menaruhnya di bawah bantal? supaya kakak
bisa mimpi indah begitu?” Berapi-api, kesal semakin menjadi. Duh, kenapa aku jawab begitu coba. Itukan bisa menyulut kesalahpahaman.
“ Aku ketiduran setelah melihat surat itu, jadi tanpa sadar aku
meletakannya di bawah bantal.” Benar kok, sumpah, memang itu alasannya. " Aku ambil ya sekarang."
" Duduk!"Aku meletakkan lagi tubuhku yang sudah terangkat. Ren sudah kembali menggenggam surat Andrian.
" Sayang, aku memang mau menunjukannya padamu pagi ini." Kenapa aku pakai acara mengigau si semalam. Jadinya aku seperti ketahuan mencuri sekarang. Padahal selingkuhpun tidak. Ren menatapku tajam dengan bibir menkerucut.
" Haha." Aku sudah tidak bisa menahannya.
" Jangan menggodaku dengan tawa kakak." Dih, bernafas punnanti kau bilang aku menggodaku.
" Sayang, kemarilah."
"Duduk diam di sana. Kakak cuma boleh bernafas saja." Melotot. " Jangan tersenyum!"
" ia, ia,baik. Aku akan diam dan bernafas saja. Bukalah, dan baca isinya. Bocah itu sepertinya cuma iseng mengerjaiku." Ren membuka amplop dan melemparkan kertas kecil itu. Sepertinya dia mendapat kepuasan sendiri kalau sudah menistakan surat itu.
Ren melihatku. " Benarkan, dia memang cuma iseng."
" Iseng, apa ini? Memang kakak tidak membaca catatan di ujung surat ini." Meremas surat di tangannya. " Bocah sialan ini."
Kyaaaa, aku lupa dengan tulisan kecil itu.
Bersambung
__ADS_1