Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Menginap


__ADS_3

Malam ini semua menginap di rumah mama. Makan malam sambil


bakar-bakaran di halaman rumah. Mengobrol banyak hal. Bicara tentang rencana ke


depan. Disertai gelak tawa. Celoteh anak-anak yang mulai terserang kantuk. Walaupun begitu belum mau disuruh masuk kamar. Ren menyuapiku karena tanganku memeluk keponakan kecilnya yang tidak mau lepas dariku. Walaupun matanya sudah sayu sedari tadi.


" Aya, nanti kakak yang beli tiketnya kalau kalian mau pergi bulan madu lagi." Kakak pertama semangat sekali menyambut cerita Ren tentang bulan madu.


" Cieee, bentar lagi punya ponakan paling bontot ni." Uhuk, Ren mendelik. " Siap-siap kamu dek, punya saingan anak sendiri." Kakak ipar Ren tertawa terbahak mendengar Kak Lati bicara.


Seperti inilah moment berharga itu. Tertawa dan bercerita, di temani desiran angin malam. Dibawah langit malam dan sedikit taburan bintang. Keluarga, tempatmu berbagi tawa, namun juga tempat yang akan memelukmu saat kau terluka.


Aku mengangkat tubuh kecil yang tertidur dalam dekapanku. Ren yang mau


menggantikan untuk menggendongnya ke kamar kutolak. Takut dia bangun. Setelah


menemani beberapa keponakan, membacakan mereka buku pengantar tidur akhirnya mereka jatuh dalam dekapan mimpi juga. wajah-wajah polos pengusir lelah orangtua. Kubelai kepala mereka lembut. Berdoa kepada Tuhan, semoga aku suatu hari nanti mendapat kesempatan menjadi seorang ibu. Aku


keluar kamar setelah mematikan lampu. Pendar lampu tidur menyala, menemani mimpi indah anak-anak.


“ Akhirnya.” Ren masih menungguku di luar kamar. menyuarakan kelegaan saat semua keponakannya sudah tidur. Meraih pinggangku. “


Bocah-bocah  itu udah kayak mamanya,


nempel aja sama kakak.”


“ Ya keturunan Omnya juga.”  Aku


tertawa  sambil ikut mendekapnya erat. Ren mencegahku yang mau berjalan menuju


tangga. Mau kembali ke halaman.Semua orang masih di sana sepertinya. Suara tawa Kak Lati masih bisa kudengar.


“ Aku cape, tidur duluan yuk.”


" Tapi mereka masih di luar semua."


"Biarin, mereka juga pasti tahu aku bawa kakak ke mana." Dih anak ini.


Sesuai yang dia mau, masuk ke kamar akhirnya. Kamar Ren sama sekali tidak


berubah. Bibi pasti selalu membersihkannya setiap hari. Ren menjatuhkan tubuh di


atas temat tidur. Sementara aku mencari baju ganti di lemari. Pakaian yang memang sengaja tersimpan di sini. Kamar ini memang terawat dengan baik. Deretan baju yang disusun sesuai warna, tidak berubah sama sekali.


“ Ren aku ke kamar  mandi dulu


ya. Ni baju gantinya.” Kuletakan baju tidur miliknya di samping bantal.


“ Hemm. Kakak mau mandi?” Bicara sambil memejamkan mata.


“ Ia, rambutku bau asap.” Kusodorkan kepalaku di depan hidungnya. Dia langsung mengerjapkan mata. “ Kecium


kan?”


“ Ia bau daging. Aku jadi mau memakannya.”


“ Gak usah aneh-aneh deh.” Mendorong Ren supaya tertidur lagi di kasur. " Lepasin, aku mau mandi."


"Cium dulu,baru kulepaskan." Seperti itulah akhirnya. Ya seperti maunya.


Aku menunggu air mengalir sambil memukul permukaan air, hangatnya air


menampar wajahku. Berendam sebentar pasti nyaman sekali. Tinggal tambah sabun


dan sedikit aroma terapi. Wahh, bahkan semuanyaa tidak ada yang berubah. Masih


seperti dulu tata letak sabun. Bibi sudah bekerja keras.


Aku tidak mendengar pintu terbuka karena melamun.


“ Ren.” Tanpa dosa dia sudah masuk ke dalam air. Duduk, bersandar sambil


tertawa melihatku yang bengong dengan kemunculannya.


“ Masuk, biar aku cuci rambut kakak.” Tertawa sambil memercik air ke


wajahku.


Huaaa, bakalan berapa lama mandi malam ini.

__ADS_1


Seperti yang aku perkirakan, hampir satu jam meladeninya di bawah riak


busa. Tapi tubuhku nyaman sekali jadinya. Tanganku yang agak pegal karena menggendong keponakan rasanya sarafnya mengendur. Bahuku juga nyaman.


“ Kakak.” Sudah ngedusel di bawah selimut. Memeluk perutku. Aku meraih


hpku sebentar karena mendengar bunyi getar-getar pesan.


“  Sebentar.” Mumpung di rumah


mama, aku masih memegang hpku.


“ Taruh hpnya!”


“ Awww, sakit Ren.” Dia mengigitku karena aku tidak mengubris. Muah,


muah. Ciuman di kepala melunakkannya sebentar. “ Sebentar, aku balas pesan dulu.”


“ Kakak lagi ngapain si?”


“ Balas pesannya Mita.”


“ Kenapa lagi itu bocah.” Ren bangun, tapi cuma buat mendorongku. Dia


terperangkap dalam dekapanku, naik mensejajari wajah. Melihat layar hp


sebentar. Lebih tertarik pada leher dan pipiku. Aku mengeliat geli.


“ Dia lucu banget Ren. Bilang tadi di kampus ketemu adik tingkat yang


manis trus mereka tuker no hp.Hihi, sepertinya dia mau melepas jomblo dengan


anak beda usia. Semangat banget dia ceritanya.”


“Ah, Dia itu penggemar kakak.” Meraih hp yang belum kumatikan, lalu


melemparkan begitu saja ke atas sofa yang cukup jauh dari tempat tidur. Aku


mendengar bunyi degum saat benda itu membentur sofa. Anak ini, kalau rusak


bagaimana. “ Cukup main hpnya, sekarang main denganku.”


“ Tidur?" Memicingkan mata. " Waahh kakak tidak tahu berterimakasih ya. Aku sudah mencuci


rambut, menggosok setiap inci tubuh kakak. Tanpa terlewat sedikit pun. Sekarang kakak mau tidur, aja tanpa bilang


terimakasih.”


Itu kan memang kamu yang mau! Kamu yang kesenangan tadi sampai lupa


diri.


“ Ini cukup?” Sedang berterimakasih dengan anggota tubuh.


“ Kurang.” Menunjuk beberapa bagian.


“ Kalau ini sudah cukup kan.”


“ Kurang.” Naik satu tekanan suaranya. Dia belum puas dengan sentuhan yang aku berikan.


“ Baiklah, yang ini pasti cukup. Terimakasih ya sayang.”


“ Huaaaa!”


Kudekap jeritan mulut Ren. Dia mau membuat semua orang lari ke kamar apa. Aku mengigit telinganya memang. Haha.


“ Kakak sudah pintar ya sekarang”


“ Ampun, ampun Ren.”


Mustahil dia mengampuniku.


***


Akhirnya bukannya tidur kami malah terjaga sampai larut. Aku bersandar di dada Ren. Mengusap peluh. Terbersit keinginanku membicarakan hal penting padanya. Hari ini kami melewati hal luar biasa.


" Ren."


“ Kakak.”

__ADS_1


Kami bicara bersamaan, lalu tergelak. Ren Mencium kepalaku.


“ Aku tidak akan memaksa kakak, kalau kakak belum


siap.” Meraih ujung rambutku. Bagaimana dia bisa menebak kegundahanku si. Memang hal inilah yang ingin aku bicarakan dengannya. Perihal hijab. Sekali lagi Ren menyusuri leherku dengan jarinya. Lalu meraih ujung rambutku lagi." Maaf, aku sedikit terprovokasi dengan Kak Lati, jadi terasa memojokanmu." Kejadian tadi sore saat dia melarangku melepas jilbab.


Tadi dia terpukau sekali dengan hasil karya kakaknya


mendadaniku dengan hijap. Mencegahku yang mau melepasnya. Lihat koper yang ada di dekat lemari itu. Satu koper  berisi baju dan jilbab hadiah dari ketiga


kakak Ren dan mama.


Kejadian saat aku terkurung di kamar mama.


“ Kami gak maksa Aya buat pakai jilbab ya, sumpah.” Kakak pertama.


“ Kami khilaf waktu membelinya, habis lucu-lucu banget si. Tapi sizenya


gak muat di tubuhku.”


“ Jangan terbebani ya Aya. Hidayah Allah itu menyentuh hati dengan cara


yang berbeda-beda. Ini Cuma hadiah kecil dari kami.” Kakak ketiga tersenyum. “


Tapi, semoga bisa jadi perantara buat kamu dapat hidayah. Hehe.” Ah,ujungnya.


Pintar sekali kakak ketiga memilih kata.


“ Apa pun Aya, mama sayang Aya. Terimakasih ya sudah mencintai anak mama


dengan baik. Ren masih sering nyusahin kamu nggak.” Mama menyentuh kepalaku yang berbalut jilbab lembut.


“ Ini karena mama itu manjain Renan makanya dia begitu.” Kakak pertama.


“ Kakak juga, dulu apa-apa Renan. Ini buat Renan, itu buat Renan. Sampai sekarang juga begitu.” Lati.


“ Kamu gak inget, gaji pertama kamu cuma buat beliin dia sepatu. Kamu itu


yang bucin sama adek sendiri. Aku Cuma kamu beliin apa dulu, coklat sebatang.


Inget gak?”


“ Abis Renan lucu si, jadi semua sayang sama dia.” Kakak ketiga melerai


dengan kebijaksanaannya.


“ Ren memang mengemaskan.” Eh, aku keceplosan. Semua melihatku sambil


tertawa.


Ren dan keluarganya memang punya banyak kesamaan. Sama-sama melimpahkan kasih sayang padaku dengan cara mereka yang kadang seenaknya.


" Maaf ya." Aku tersadar, di sampingku sekarang suamiku sedang memelukku erat. " Aku akan menunggu sampai kakak siap dan meminta izin dariku. Hari ini, aku akan cukup mendoakan kakak. Semoga Allah menghadiahi kakak dengan hidayah hijab." Di bawah selimut malam dia menguntai doa panjang untukku. Lagi-lagi haru menyeruak di hatiku. Padahal dia punya hak untuk menyuruhku.


" Ren gak perlu minta maaf kok. Aku yang sangat berterimakasih, karena kamu mau menunggu."


" Hidayah kan hadiah dari Tuhan, kakak harus memperjuangkannya. Aku akan selalu berdoa untuk itu."


Hidayah itu memang harus digapai, tadi sambil mendandaniku, kakak iparku bercerita tentang kemantapan hati mereka untuk mulai mengenakan hijab.


" Aku akan kasih kakak hadiah spesial di hari kakak minta izin buat pakai jilbab."


" Apa itu?" Wahhh, hadiah apa.


" Rahasia donk."


" Dih, main rahasiaan ya."


" Rahasia ini menyangkut harga diri kakak lho, yang coba kakak sembunyikan dariku." Deg, apa-apaan ini. Hadiah darinya adalah rahasia hidupku yang aku sembunyikan darinya juga.


Huaaa, kepalaku berputar-putar bingung.


" Haha, aku senang lihat wajah kakak begitu." Hei, hei, sudah jam berapa ini! Bibirnya sudah menempel di bagian tubuhku yang paling disukainya.


Malam semakin larut dalam kegelapan.


Seminggu ke depan akan mulai persiapan ujian semester.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2