
Kubiarkan Ren meringkuk di tempat
tidur selepas sholat subuh. Dia tidak akan mengganguku karena tahu ini di rumah
ibu. Pagi ini cuaca cukup hangat, semua orang di rumah ini sudah bangun dan mulai
dengan aktivitasnya masing-masing. Santai di akhir pekan tentunya.
Mungkin ada yang sedikit berbeda di dapur.
Biasanya hanya ada ibu yang sibuk menyiapkan sarapan, jika aku datang, tentu
bersamaku menguasai dapur.
Tapi hari ini lain. Kirana terlihat
membantu ibu membersihkan sayuran di bawah air mengalir. Dia tersenyum padaku
saat melihatku datang. Ah, adikku yang manis. Bukankah menyenangkan sesekali
melakukan hal seperti ini bersama ibu. “Dek kita buat martabak telur yuk.” Aku
mengeluarkan bahan-bahan yang bisa kutemukan di kulkas. Ibu punya persediaan
kulit lumpia. Pasti enak kalau dibuat martabak telur.
“ Ibu ada dada ayam gak?”
sepertinya akan lebih enak kalau pakai daging diadonan isi martabaknya.
“ Ada di frezzer, keluarkan dulu
sekarang. Ibu buatin bumbunya ya.”
“ Ia, ia, siippp.” Aku girang
karena bagian yang sulit dikerjakan ibu. Hehe, jangan ditiru ya.
Sudah tahukan, kalau aku ini tidak
terlalu mahir memasak. Aku memang bisa memasak, tapi kemampuanku standar saja.
Eh, tapi ibu pernah bilang, kalau pada dasarnya setiap perempuan itu punya
kemampuan untuk memasak lho. Fitrahnya, jadi nanti suatu hari jika ada pada
situasi yang mengharuskan perempuan memasak, maka dia akan bisa dengan
sendirinya. Misalnya ketika sudah menikah, mau tidak maukan memasak untuk
suami. Nah pada kondisi semacam itulah kemampuan ghaib yang ntah dari mana bisa
muncul, bahkan bisa jadi masakan kita setara koki bintang lima.
Haha, aku percaya juga. Dulu waktu
masih single aku hanya bantu-bantu ibu sekenanya memasak di dapur, setelah
menikah yang mengharuskanku memasak di dapur, ya, akhirnya aku bisa memasak juga.
Kata Ren masakanku enak kok, itu sudah lebih dari cukup. Toh memang dia yang
menikmati masakanku setiap hari.
Aku sedang meracik isian martabak
telur dibantu Kirana, saat Haikal muncul dari kamarnya. Masih memegang hp. Benda
paling keramat anak muda zaman sekarang.
“ Cieee masak ni, hehe.” Taukan
siapa yang diledek olehnya. Kirana sudah merengut di sampingku. “ Biasanya bertapa di kamar sibuk streaming, cie, cie mentang-mentang ada kak Aya.”
“ Apa kamu!” Kirana mendelik. Yang
dipelototi malah tertawa.
“ Sini kamu dek.” Tanganku memberi
isyarat agar Haikal mendekat. Kulingkarkan tangan dilehernya, mencekik. “ Minta maaf sama Kiki sana” aku yang sudah susah payang membujuk adikku agar mau ikut nimbrung di dapur, sudah mau dirusak
saja sama anak ini.
“ Ampun kak, ampun.” Haikal
meringis saat tanganku menekan lehernya. “ Maaf ya Ki mas Haikal salah, kamu
memang rajin kok, setiap hari rajin masak.” Tertawa dia mendengar kata-katanya
sendiri.
“ Ya gak fitnah juga kali.” Kirana melengos.
“ Hahaha, ampun kak.” Aku
melepaskan tanganku dari lehernya setelah dia minta maaf. “ Abang Renan mana
kak?”
“ Masih tidur kayaknya.”
Haikal memilih duduk di dekat kami
membuat martabak telur. Aku mencampur telur, daun bawang, dan tumisan dada ayam
yang sudah dimasak ibu menjadi satu. Setelah semua tercampur baru memasukan
satu persatu ke dalam kulit lumpia. Kirana membantuku melipat adonan. Lumayan,
tampak normal dan bisa dimakan sepertinya.
“ Ki, memang kamu mau bisa masak
biar apa?” mulai deh mas Haikal sama adiknya. Matanya masih sibuk dengan hp,
tapi mulutnya sudah kemana-mana.
“ Biar bisa masak buat suaminya
dong, iakan dek.” Aku yang menjawab.
“ Ah, gak bisa masak juga gak papa,
buktinya kak Aya gak bisa masak juga dapat suami bucin. Hahaha.” Eh, kurang
ajar benar ini adikku satu ini.
“ Apa itu bucin?” ibu ikut nimbrung.
“ Gak papa bu, bahasanya Haikal
itu. Kak Aya bisa masak tahu, masakan kak Aya enak, coba tanya abang kalau gak
percaya.”
“ Bang Renan mah bakal bilang semua
enak, asal kak Aya yang masak. Air putih aja bakal dibilang enak kalau kak Aya
yang masak”
Dasar ini anak, dan kenapa semuanya
tertawa juga tidak terkecuali ibu.
Saat kami masih menyelesaikan
membuat martabak ditemani ocehan Haikal yang bicara kemana-mana, sebuah suara
terdengar yang membuat kami semua saling pandang.
“ Kakak!” eh suara apa itu. Semua
langsung menghentikan gerakan mereka. Semua menatapku.
“ Kakak.” Ren terdengar kembali
memanggilku dengan suara keras dari arah kamar.
__ADS_1
“ Bang Renan bangun kak, minta peluk
kayaknya. Hahaha.” Kupukul bahu Haikal, tapi aku juga tidak bisa tidak tertawa.
Apalagi ibu.
“ Sudah sana temui dulu suami kamu,
mungkin butuh sesuatu.” Belum selesai ibu bicara Ren sudah berteriak memanggil
lagi.
“ Mengingau kayaknya bu.” Aku
nyengir. “ Dek coba lihat sana, buka pintu kamar kak Aya terus tanya, kenapa
bang?” Udah gitu aja, aku mau mengerjai Ren. Dia pasti lupa kalau sekarang ada
di rumah ibu. Aku sudah tertawa jahat membayangkan reaksinya akan seperti apa.
Haikal menurut berjalan menuju
kamarku. Suara Ren masih terdengar dengan jelas. Aku mengawasi dari dapur.
Haikal membuka pintu tepat setelah
Ren berhenti memanggil.
“ Kenapa bang? Kak Aya lagi masak
di dapur.” Hening.
Aku cekikikan di dapur bersama Kirana.
Kirana tahu aku sedang menjahili kakak iparnya, dia juga ikutan tertawa
menikmati. Haikal sudah kembali, dia angkat bahu.
“ Belum bangun kak, beneran
mengigau mungkin.”
Aku dan Kirana tergelak, Haikal
yang bingung, duduk kembali di kursinya tadi. Bermain dengan hp. “Ke kamar dulu
sana, lihat suami kamu jangan-jangan butuh apa-apa.” Ibu bawaan sudah kuatir
aja, maklum menantu kesayangan.
“ Gak papa bu, nanti juga keluar sendiri.”
“ Sudah sana, sudah selesaikan,
biar ibu yang goreng martabak telurnya.”
Aku menurut perintah ibu. Mencuci
tanganku dengan bersih, mencuci muka dan merapikan rambutku. Sudah ngambek
dikerjai nanti tambah marah melihatku mengikat rambutku tinggi. Ya, ini memang
di rumah orangtuaku, tapi peraturan tetap berlaku.
“ Sayang sudah bangun belum?” Aku
mengintip dibalik pintu yang sengaja kubuka kecil. “ Sayang.” Ren masih diam
tidak bergerak di bawah tumpukan selimut. Aku menahan tawa, aku yakin dia sudah
bangun dan sedang bergulingan berselimut malu disana.
“ Masuk!” Katanya singkat. Haha, benarkan dia ngambek.
Dia masih bicara di dalam selimut.
“ Sayang.” Aku berjalan mendekat,
tapi belum mendekati tempat tidur.
“ Kemari!”
“ Ren.” Saat aku mendekat ke tempat
“ Kakak sengajakan.”
“ Haha, apa? Awww, jangan Ren minggir.
Berat. Kamu menindih kakiku.” Aku berteriak sambil menendang-nendang kaki,
supaya dia memindahkan kakinya.
“ Biarin.” Katanya cepat dengan
ketusnya. Beneran ngambek dia.
“ Haha, hentikan sayang. Ampun,
ampun.”
“ Tidak ada ampun ya sudah
mengerjai suami sendiri.”
Aku terpingkal pingkal saat dia
mengelitiki seluruh tubuhku.
“ Ampun, ampun sayang.” Aku memeluk
Ren, menempelkan wajahku di dadanya. Berhasil, dia berhenti mengelitiki
tubuhku. “ Bangun yuk.”
“ Gak mau!” menjawab cepat sekali.
“ Di luar ada siapa?”
“ Semuanya ada.”
“ Kakak ini buat aku malu aja.”
Aaaaa, akukan sudah di gelitiki kenapa sekarang menggigit leherku lagi. Hei,
hei, mau apa kamu Ren, ini sudah siang. Dan masalahnya kita di rumah orangtuaku.
“Kakak pikir hukumannya sudah selesai.” Begitu dia berbisik di telingaku. Dan
kami bergumul di bawah selimut sampai beberapa waktu.
- - -
Side story
Kirana mendekat ke ruang tv. Sementara
Renan sudah duduk di karpet, di hadapannya ada dua tumpuk uang yang berbeda
jumlahnya. Kirana mengamati dengan cermat, sepertinya selisih antara keduanya
ada sekitar 5 lembar.
Aaaa, mau apa lagi bang Renan ini.
Dia sudah frustasi sebelum mendekat. Mau ngasih uang jajan selalu ada dramanya
lebih dulu.
“ Duduk.” Renan menunjuk karpet
kosong di depannya. “ Lihat kan?” dia menjentikan jarinya di tumpukan uang. “
Mau yang mana?”
Haha, gila ya, ya mau yang banyak
itu yang sebelah kanan.
Kirana menunjuk tumpukan di bagian
__ADS_1
kanan sambil malu-malu. Ialah, lima lembar selisihnya gitu lho.
“ Pinter kamu ki, tahu aja yang
jumlahnya lebih banyak.”
Haha, aku harus bereaksi seperti apa ni.
“ Kak Aya cerita apa semalam.”
Tanya Renan cepat.
Cie ternyata kakak ipar ini sedang
penasaran tentang obrolan istrinya semalam ya. Kirana berdehem, berfikir
sebentar.
“ Gak cerita apa-apa kok bang.”
Menjawab dengan jawaban paling aman.
“ Oh gitu.” Renan sudah meletakan
tangannya ditumpukan uang yang lebih sedikit.
“ Tunggu bang, Ki kayaknya ingat
apa yang diomongin sama Kak Aya semalam.”
Ya Tuhan ampuni hamba, Kak Aya
berikanlah belas kasihmu pada adikmu ini. Aku janji tidak akan bicara yang
tidak-tidak. Tapi lima lembar itu jumlah yang banyak. Hehe.
“ Kak Aya ngomongin apa semalam.”
Mengulang pertanyaannya lagi.
“ Cuma cerita tentang bias bang.”
Gak bohongkan, memang cuma cerita tentang
itukan kak Aya. Ya sama aku disuruh coba dekat sama ibu, gak perlu diomonginkan
yang masalah ini. Akukan juga malu.
“ Apa itu bias?”
“ Idola bang, grup idola, yang
posternya banyak di kamar Ki.” Kirana menjelaskan.
Tanya mesin pencarian aja kenapa.
“ Aku gak pernah masuk kamar kamu.”
Haha, ia bang tahu. Tapi ngomongnya
jangan sengit gitu dong, akukan jadi deg-degan. Lima lembar uang jajanku.
“ Jadi siapa biasnya kak Aya?” nada
suaranya sudah menunjukan tanda tidak suka. Kirana melirik tumpukan uang di
dekat kaki Renan.
“ Bukan biasnya kak Aya bang, tapi biasnya aku.”
“ Hei adik kecil, abang gak nanya
bias kamu, gak perduli juga ya.” Sambil mengibaskan tangannya. Kirana mendelik.
Untung dia sudah paham sifat kakak iparnya yang satu ini. “ Yang abang perduli
biasnya kak Aya.”
“ Kak Aya gak ada bias bang.”
Gimana si, semalam itu kami memang
ngomongin bias, tapi biasnya aku bukan biasnya kak Aya. Kak ayakan gak suka
musiknya, dia cuma nonton dramanya.
“ Jadi kak Aya ngomongin apa?” kok
jadi muter-muter begini. Balik kepertanyaan awal lagi. Kirana berfikir keras
salahya dimana pembicaraan ini. Renan masih menatapnya menunggu jawaban yang
bisa membuatnya puas.
Kirana makin frustasi jadinya,
gimana menjelakan pada suami bucin yang sensitif bawaannya semua urusan
istrinya.
“ Jadi gini bang, semalam itu kami
cuma ngobrolin tentang bias aku. Ki cerita tentang biasnya ki, sambil nunjukin
foto-fotonya aja, udah gitu.”
“ Mana fotonya.”
Kirana mengambil hp di sampingnya.
Membuka akun sosial media, menunjukan akun fans acc yang berisi foto-foto
biasnya.
“ Jelek.”
Aaaaa apa! Kalau tidak ingat
setumpuk uang di atas karpet Kirana sudah ingin memaki kakak ipar di hadapannya
ini.
“ Kak Aya bilang apa, ganteng?”
“ Nggak.” Jujur ini batin Kirana.
“ Seksi?”
“ Nggak.”
“ Terus bilang apa?”
Kak aya bilang imut, tapi sumpah
aku gak akan bilang, kak Aya aku mencintaimu.
“ Kak Aya bilang kalau bang Renan
lebih cakep dari bias Ki.”
“ Haha, ambil ini.”
Renan menyerahkan uang dengan
jumlah yang lebih banyak ketangan Kirana.
Apa! Jadi dia cuma mau dengar ini
doank.
“ Hehe, makasih ya bang.”
“ Sama-sama adiku yang manis, abang
mau cari kak Aya dulu ya. Kangen.”
Haha, apa? Kangen? Gila ya kalian bahkan
baru keluar dari kamar berdua.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Terimakasih untuk pembaca semua ^_^