Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Bias Kak Aya siapa?


__ADS_3

Kubiarkan Ren meringkuk di tempat


tidur selepas sholat subuh. Dia tidak akan mengganguku karena tahu ini di rumah


ibu. Pagi ini cuaca cukup hangat, semua orang di rumah ini sudah bangun dan mulai


dengan aktivitasnya masing-masing. Santai di akhir pekan tentunya.


Mungkin ada yang sedikit berbeda di dapur.


Biasanya hanya ada ibu yang sibuk menyiapkan sarapan, jika aku datang, tentu


bersamaku menguasai dapur.


Tapi hari ini lain. Kirana terlihat


membantu ibu membersihkan sayuran di bawah air mengalir. Dia tersenyum padaku


saat melihatku datang. Ah, adikku yang manis. Bukankah menyenangkan sesekali


melakukan hal seperti ini bersama ibu. “Dek kita buat martabak telur yuk.” Aku


mengeluarkan bahan-bahan yang bisa kutemukan di kulkas. Ibu punya persediaan


kulit lumpia. Pasti enak kalau dibuat martabak telur.


“ Ibu ada dada ayam gak?”


sepertinya akan lebih enak kalau pakai daging diadonan isi martabaknya.


“ Ada di frezzer, keluarkan dulu


sekarang. Ibu buatin bumbunya ya.”


“ Ia, ia, siippp.” Aku girang


karena bagian yang sulit dikerjakan ibu. Hehe, jangan ditiru ya.


Sudah tahukan, kalau aku ini tidak


terlalu mahir memasak. Aku memang bisa memasak, tapi kemampuanku standar saja.


Eh, tapi ibu pernah bilang, kalau pada dasarnya setiap perempuan itu punya


kemampuan untuk memasak lho. Fitrahnya, jadi nanti suatu hari jika ada pada


situasi yang mengharuskan perempuan memasak, maka dia akan bisa dengan


sendirinya. Misalnya ketika sudah menikah, mau tidak maukan memasak untuk


suami. Nah pada kondisi semacam itulah kemampuan ghaib yang ntah dari mana bisa


muncul, bahkan bisa jadi masakan kita setara koki bintang lima.


Haha, aku percaya juga. Dulu waktu


masih single aku hanya bantu-bantu ibu sekenanya memasak di dapur, setelah


menikah yang mengharuskanku memasak di dapur, ya, akhirnya aku bisa memasak juga.


Kata Ren masakanku enak kok, itu sudah lebih dari cukup. Toh memang dia yang


menikmati masakanku setiap hari.


Aku sedang meracik isian martabak


telur dibantu Kirana, saat Haikal muncul dari kamarnya. Masih memegang hp. Benda


paling keramat anak muda zaman sekarang.


“ Cieee masak ni, hehe.” Taukan


siapa yang diledek olehnya. Kirana sudah merengut di sampingku.   “ Biasanya bertapa di kamar sibuk streaming, cie, cie mentang-mentang ada kak Aya.”


“ Apa kamu!” Kirana mendelik. Yang


dipelototi malah tertawa.


“ Sini kamu dek.” Tanganku memberi


isyarat agar Haikal mendekat. Kulingkarkan tangan dilehernya, mencekik.  “ Minta maaf sama Kiki sana” aku yang sudah susah payang membujuk adikku agar mau ikut nimbrung di dapur, sudah mau dirusak


saja sama anak ini.


“ Ampun kak, ampun.” Haikal


meringis saat tanganku menekan lehernya. “ Maaf ya Ki mas Haikal salah, kamu


memang rajin kok, setiap hari rajin masak.” Tertawa dia mendengar kata-katanya


sendiri.


“ Ya gak fitnah juga kali.” Kirana melengos.


“ Hahaha, ampun kak.” Aku


melepaskan tanganku dari lehernya setelah dia minta maaf. “ Abang Renan mana


kak?”


“ Masih tidur kayaknya.”


Haikal memilih duduk di dekat kami


membuat martabak telur. Aku mencampur telur, daun bawang, dan tumisan dada ayam


yang sudah dimasak ibu menjadi satu. Setelah semua tercampur baru memasukan


satu persatu ke dalam kulit lumpia. Kirana membantuku melipat adonan. Lumayan,


tampak normal dan bisa dimakan sepertinya.


“ Ki, memang kamu mau bisa masak


biar apa?” mulai deh mas Haikal sama adiknya. Matanya masih sibuk dengan hp,


tapi mulutnya sudah kemana-mana.


“ Biar bisa masak buat suaminya


dong, iakan dek.” Aku yang menjawab.


“ Ah, gak bisa masak juga gak papa,


buktinya kak Aya gak bisa masak juga dapat suami bucin. Hahaha.” Eh, kurang


ajar benar ini adikku satu ini.


“ Apa itu bucin?” ibu ikut nimbrung.


“ Gak papa bu, bahasanya Haikal


itu. Kak Aya bisa masak tahu, masakan kak Aya enak, coba tanya abang kalau gak


percaya.”


“ Bang Renan mah bakal bilang semua


enak, asal kak Aya yang masak. Air putih aja bakal dibilang enak kalau kak Aya


yang masak”


Dasar ini anak, dan kenapa semuanya


tertawa juga tidak terkecuali ibu.


Saat kami masih menyelesaikan


membuat martabak ditemani ocehan Haikal yang bicara kemana-mana, sebuah suara


terdengar yang membuat kami semua saling pandang.


“ Kakak!” eh suara apa itu. Semua


langsung menghentikan gerakan mereka. Semua menatapku.


“ Kakak.” Ren terdengar kembali


memanggilku dengan suara keras dari arah kamar.

__ADS_1


“ Bang Renan bangun kak, minta peluk


kayaknya. Hahaha.” Kupukul bahu Haikal, tapi aku juga tidak bisa tidak tertawa.


Apalagi ibu.


“ Sudah sana temui dulu suami kamu,


mungkin butuh sesuatu.” Belum selesai ibu bicara Ren sudah berteriak memanggil


lagi.


“ Mengingau kayaknya bu.” Aku


nyengir. “ Dek coba lihat sana, buka pintu kamar kak Aya terus tanya, kenapa


bang?” Udah gitu aja, aku mau mengerjai Ren. Dia pasti lupa kalau sekarang ada


di rumah ibu. Aku sudah tertawa jahat membayangkan reaksinya akan seperti apa.


Haikal menurut berjalan menuju


kamarku. Suara Ren masih terdengar dengan jelas. Aku mengawasi dari dapur.


Haikal membuka pintu tepat setelah


Ren berhenti memanggil.


“ Kenapa bang? Kak Aya lagi masak


di dapur.” Hening.


Aku cekikikan di dapur bersama Kirana.


Kirana tahu aku sedang menjahili kakak iparnya, dia juga ikutan tertawa


menikmati. Haikal sudah kembali, dia angkat bahu.


“ Belum bangun kak, beneran


mengigau mungkin.”


Aku dan Kirana tergelak, Haikal


yang bingung, duduk kembali di kursinya tadi. Bermain dengan hp. “Ke kamar dulu


sana, lihat suami kamu jangan-jangan butuh apa-apa.” Ibu bawaan sudah kuatir


aja, maklum menantu kesayangan.


“ Gak papa bu, nanti juga keluar sendiri.”


“ Sudah sana, sudah selesaikan,


biar ibu yang goreng martabak telurnya.”


Aku menurut perintah ibu. Mencuci


tanganku dengan bersih, mencuci muka dan merapikan rambutku. Sudah ngambek


dikerjai nanti tambah marah melihatku mengikat rambutku tinggi. Ya, ini memang


di rumah orangtuaku, tapi peraturan tetap berlaku.


“ Sayang sudah bangun belum?” Aku


mengintip dibalik pintu yang sengaja kubuka kecil. “ Sayang.” Ren masih diam


tidak bergerak di bawah tumpukan selimut. Aku menahan tawa, aku yakin dia sudah


bangun dan sedang bergulingan berselimut malu disana.


“ Masuk!”  Katanya singkat. Haha, benarkan dia ngambek.


Dia masih bicara di dalam selimut.


“ Sayang.” Aku berjalan mendekat,


tapi belum mendekati tempat tidur.


“ Kemari!”


“ Ren.” Saat aku mendekat ke tempat


“ Kakak sengajakan.”


“ Haha, apa? Awww, jangan Ren minggir.


Berat. Kamu menindih kakiku.” Aku berteriak sambil menendang-nendang kaki,


supaya dia memindahkan kakinya.


“ Biarin.” Katanya cepat dengan


ketusnya. Beneran ngambek dia.


“ Haha, hentikan sayang. Ampun,


ampun.”


“ Tidak ada ampun ya sudah


mengerjai suami sendiri.”


Aku terpingkal pingkal saat dia


mengelitiki seluruh tubuhku.


“ Ampun, ampun sayang.” Aku memeluk


Ren, menempelkan wajahku di dadanya. Berhasil, dia berhenti mengelitiki


tubuhku. “ Bangun yuk.”


“ Gak mau!” menjawab cepat sekali.


“ Di luar ada siapa?”


“ Semuanya ada.”


“ Kakak ini buat aku malu aja.”


Aaaaa, akukan sudah di gelitiki kenapa sekarang menggigit leherku lagi. Hei,


hei, mau apa kamu Ren, ini sudah siang. Dan masalahnya kita di rumah orangtuaku.


“Kakak pikir hukumannya sudah selesai.” Begitu dia berbisik di telingaku. Dan


kami bergumul di bawah selimut sampai beberapa waktu.


- - -


Side story


Kirana mendekat ke ruang tv. Sementara


Renan sudah duduk di karpet, di hadapannya ada dua tumpuk uang yang berbeda


jumlahnya. Kirana mengamati dengan cermat, sepertinya selisih antara keduanya


ada sekitar 5 lembar.


Aaaa, mau apa lagi bang Renan ini.


Dia sudah frustasi sebelum mendekat. Mau ngasih uang jajan selalu ada dramanya


lebih dulu.


“ Duduk.” Renan menunjuk karpet


kosong di depannya. “ Lihat kan?” dia menjentikan jarinya di tumpukan uang. “


Mau yang mana?”


Haha, gila ya, ya mau yang banyak


itu yang sebelah kanan.


Kirana menunjuk tumpukan di bagian

__ADS_1


kanan sambil malu-malu. Ialah, lima lembar selisihnya gitu lho.


“ Pinter kamu ki, tahu aja yang


jumlahnya lebih banyak.”


Haha, aku harus bereaksi seperti apa ni.


“ Kak Aya cerita apa semalam.”


Tanya Renan cepat.


Cie ternyata kakak ipar ini sedang


penasaran tentang obrolan istrinya semalam ya. Kirana berdehem, berfikir


sebentar.


“ Gak cerita apa-apa kok bang.”


Menjawab dengan jawaban paling aman.


“ Oh gitu.” Renan sudah meletakan


tangannya ditumpukan uang yang lebih sedikit.


“ Tunggu bang, Ki kayaknya ingat


apa yang diomongin sama Kak Aya semalam.”


Ya Tuhan ampuni hamba, Kak Aya


berikanlah belas kasihmu pada adikmu ini. Aku janji tidak akan bicara yang


tidak-tidak. Tapi lima lembar itu jumlah yang banyak. Hehe.


“ Kak Aya ngomongin apa semalam.”


Mengulang pertanyaannya lagi.


“ Cuma cerita tentang bias bang.”


Gak bohongkan, memang cuma cerita tentang


itukan kak Aya. Ya sama aku disuruh coba dekat sama ibu, gak perlu diomonginkan


yang masalah ini. Akukan juga malu.


“ Apa itu bias?”


“ Idola bang, grup idola, yang


posternya banyak di kamar Ki.” Kirana menjelaskan.


Tanya mesin pencarian aja kenapa.


“ Aku gak pernah masuk kamar kamu.”


Haha, ia bang tahu. Tapi ngomongnya


jangan sengit gitu dong, akukan jadi deg-degan. Lima lembar uang jajanku.


“ Jadi siapa biasnya kak Aya?” nada


suaranya sudah menunjukan tanda tidak suka. Kirana melirik tumpukan uang di


dekat kaki Renan.


“ Bukan biasnya kak Aya bang, tapi biasnya aku.”


“ Hei adik kecil, abang gak nanya


bias kamu, gak perduli juga ya.” Sambil mengibaskan tangannya. Kirana mendelik.


Untung dia sudah paham sifat kakak iparnya yang satu ini. “ Yang abang perduli


biasnya kak Aya.”


“ Kak Aya gak ada bias bang.”


Gimana si, semalam itu kami memang


ngomongin bias, tapi biasnya aku bukan biasnya kak Aya. Kak ayakan gak suka


musiknya, dia cuma nonton dramanya.


“ Jadi kak Aya ngomongin apa?” kok


jadi muter-muter begini. Balik kepertanyaan awal lagi. Kirana berfikir keras


salahya dimana pembicaraan ini. Renan masih menatapnya menunggu jawaban yang


bisa membuatnya puas.


Kirana makin frustasi jadinya,


gimana menjelakan pada suami bucin yang sensitif bawaannya semua urusan


istrinya.


“ Jadi gini bang, semalam itu kami


cuma ngobrolin tentang bias aku. Ki cerita tentang biasnya ki, sambil nunjukin


foto-fotonya aja, udah gitu.”


“ Mana fotonya.”


Kirana mengambil hp di sampingnya.


Membuka akun sosial media, menunjukan akun fans acc yang berisi foto-foto


biasnya.


“ Jelek.”


Aaaaa apa! Kalau tidak ingat


setumpuk uang di atas karpet Kirana sudah ingin memaki kakak ipar di hadapannya


ini.


“ Kak Aya bilang apa, ganteng?”


“ Nggak.” Jujur ini batin Kirana.


“ Seksi?”


“ Nggak.”


“ Terus bilang apa?”


Kak aya bilang imut, tapi sumpah


aku gak akan bilang, kak Aya aku mencintaimu.


“ Kak Aya bilang kalau bang Renan


lebih cakep dari bias Ki.”


“ Haha, ambil ini.”


Renan menyerahkan uang dengan


jumlah yang lebih banyak ketangan Kirana.


Apa! Jadi dia cuma mau dengar ini


doank.


“ Hehe, makasih ya bang.”


“ Sama-sama adiku yang manis, abang


mau cari kak Aya dulu ya. Kangen.”


Haha, apa? Kangen? Gila ya kalian bahkan


baru keluar dari kamar berdua.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Terimakasih untuk pembaca semua ^_^


__ADS_2