Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Muridku (Part 2)


__ADS_3

Andrian mengakhiri ceritanya, tepuk


tangan kali ini terasa lebih tidak bertenaga. Berbeda dari awal tadi. Mungkin


para fans Andrian yang tadi semangat sedang dirundung duka.


“ Bu Aya  kemarin kencan makan


es cream jugakan? Sepertinya yang diceritakaan Andrian mirip dengan lokasi yang


diposting suami bu Aya. Apa kalian double date.”


Aku mendelik mendengar celetukan


panjang Hanan. Target yang akan aku intrograsi tentang PR dijam makan siang


nanti. Ia cekikikan di belakang setelah nyeletuk. Yang lain juga ramai.


“ Wahh, Hanan follower suami ibu


ya.” Aku menjawab asal saja. Mengusir canggung.


Jawaban murid-muridku diluar dugaan. Apa ini, kenapa yang menjawab banyak sekali. Hampir semua muridku


adalah follower Ren. Apa coba, memang suamiku selebgram apa.


“ Tenang ya, sekarang kita sedang tidak membahas ibu ya. Kita kembali kepada Andrian.” Aku menoleh kembali pada muridku yang masih berdiri. “ Silahkan kembali ke kursimu, kita akan mendengar


pendapat dari teman-temanmu.”


Andrian kembali ke tempat duduknya.


Kenapa anak ini harus duduk tepat di depanku si. Aku benar-benar tidak suka


tatapannya.


“ Baiklah, siapa yang akan


memberikan tanggapan dan kesimpulan. Informasi apa yang kalian dapatkan dari


cerita yang dibagikan Andrian tadi. Tunjukan jari kalian, perkenalkan diri dan


tertib.”


Berebut dari kubu fans Andrian.


“ Mutiara pertiwi. Jadi Andrian sudah


punya pacar ya, siapa pacarnya dan kapan kalian pacaran?”


Hei-hei ini bukan tanya jawab. Atau


deklarasi patah hati. Siswa selanjutnya. Tolong fokus pada informasi yang


disampaikan Andrian dalam ceritanya.


“ Saya Puput. Saya suka es cream


yang Andrian makan, kapan-kapan saya ingin mencobanya.”


Nah ini sepertinya masih agak nyambung.


“ Saya Angga Gunawan. Sepertinya nanti aku akan mengajak pacarku kencan disana juga.”


Huuuuuuuuu! Kompak sekali kalau


urusan teriak huuuu. Para jomblo pasti yang paling keras itu suaranya. Aku


bangun dari kursiku, berdiri di depan ruangaan. Mau menyimpulkan semua pendapat


anak-anak yang banyak sekali. Tapi pada intinya mereka penasaran sekali ya


sama pacarnya Andrian. Sejujurnya aku juga penasaran.


Kuketuk papan tulis dengan spidol meminta semua tenang dan fokus padaku.


“ Kalau menurut ibu, kencankan tidak harus dengan pacar ya.” Aku memandang sang pencerita, apa-apaan itu. Dia tersenyum sinis seperti mengatakan, bagaimana kau bisa tahu. “ Sebelum menikah


ibu juga sering kencan dengan kakak, atau adik-adik ibu. Tergantung lagi ingin


ditraktir atau ingin keluar uang.”


Anak-anak tergelak tahu maksudku.


“ Jadi kalian bisa kencan dengan


ibu kalian, ayah kalian, atau adik atau kakak kalian, gak harus sama pacar ya.


Yang jomblo jugakan wajib bahagia, setuju?”


Ramai lagi, teriak-teriak setuju.


“ Kita kembali kecerita Andrian ya.”

__ADS_1


Tenang kembali di dalam kelas.


“ Sekarang kita mulai pahamkan bahwa informasi yang sama akan disimpulkan berbeda-beda oleh setiap orang, kenapa?” Aku memandang murid-muridku.


“ Karena setiap orang itu berbeda, setiap orang itu spesial, setiap orang itu punya minat dan passion yang


berbeda-beda. Dari informasi yang disampaikan Andrian saja bisa kita lihat ya.


Ibu ambil contoh dari jawaban-jawab kalian yang bermacam-macam barusan ya. “


Mereka masih mendengarkan dengan tenang.


“ Atau begini misalnya, setelah mendengar info dari Andrian, Hanan yang seorang vlogger akan langsung punya ide content vidio, sepertinya asik ngevlog sambil makan es cream aneka rasa ni.


Sekalian mungkin bisa dapat uang buat di endorsekan”


Ramai mengiyakan.


“ Atau Buat Vivian yang penulis


********, ide kencan makan es cream rasanya bisa jadi ide brilian untuk


mempertemukan tokoh utama laki-laki dan perempuan.” Aku tersenyum pada muridku


Vivian, webnovelnya bagus-bagus lho. Dia tersenyum malu membalasku.


“ Atau buat fans-fans Andrian, bisa


coba buat es cream mungkin untuk dibagi ke Andrian.” Wahhh ribut. Aku melihat


Andrian mendelik kearahku. Seperti pandangan Ren kalau sedang sebal padaku. “ Haha yang terakhir bercanda ya.”


Tapi sepertinya para fans Andrian


menganggap ide itu ide brilian dan luar biasa. Mereka berbinar menatapku, ingin


mengucapkan sejuta terimakasih atas ideku.


“ Seperti halnya sekolah ini,


kalian mendapatkan pelajaran dan ilmu yang sama. Tapi ibu yakin kalian punya


penafsiran yang berbeda-beda tentang ilmu yang diberikan di sekolah. Kalian


punya minat dan bakat yang tidak sama. Jadi, ibu sarankan ya, kenali potensi


yang ada dalam diri kalian, minat kalian apa, bakat kalian apa. Jika sampai


hari ini kalian belum tahu mau melakukan apa dan bakat kalian apa, maka


“ Bu Aya saya sudah tahu bakat saya apa.”


Celetukan lagi. Aku  mengacungkan jempol.


“ Bu Aya saya bingung.”


“ Kalau sampai hari ini kalian


belum tahu, maka cobalah hal-hal baru. Temukan passion kalian kemana ya. Mencoba


hal baru yang positif itu cara yang bagus untuk menemukan minat kalian apa.”


Ramai lagi.


“ Baiklah anak-anak kita sudahi kelas senin dengan cerita akhir pekannya. Sekarang kita mulai pelajarannya.


Buka buku teks kalian.”


Yaaaaaaaaaaaaaaaaaa! Kompak sekali


kalian kalau untuk urusan beginian.


Aku masih bisa mendengar mereka


ribut tentang siapa teman kencan Andrian bahkan sampai kelas berakhir. Aku


melihat Andrian, sebenarnya apa alasan anak itu dengan membuat cerita


memancing. Padahal dia juga pasti tahu, kalau ceritanya akan membuat heboh


seluruh kelas. Bahkan mungkin sebentar lagi ceritanya akan menjadi kisah paling


banyak dibicarakan di seluruh sekolah. Ah, anak itu memang susah ditebak


maunya apa.


Kuakhiri kelas Bahasa Indonesia


hari ini. Kupanggil Hanan mendekat ke kursiku, “ Ikut ibu, ada yang mau ibu


bicarakan denganmu.”


“ Asikk.”

__ADS_1


Aku mendengarnya bergumam tapi


tidak seberapa jelas. Apa yang anak ini katakan barusan. Kenapa dia terlihat


senang begitu, jelas-jelas aku menyuruhnya menghadapku. Dia mengikuti langkah


kakiku menuju ruang guru.


“ Hanan berjalan di samping ibu


kenapa”. Aku berhenti menunggunya agar berjalan mensejajariku. Rasanya tidak


nyaman saja, ada orang yang jelas-jelas memperhatikanmu berjalan dari belakang.


“ Gak papa bu Aya, saya disini


aja.”


Baiklah, terserah kamu. Hanan


mengikuti langkah kakiku ke ruang guru


- - -


“ Duduklah.” Aku mempersilahkannya


duduk di kursi yang kuambil dari meja tidak jauh dari mejaku. Dia melirik


mejaku, sepertinya sudah melihat buku tulis yang sengaja kutaruh disana.


“ Bu saya boleh ngevlog disini gak?”


“ Tidak.” Kujawab cepat. Mau apa


kamu, ngevlog. Jelas-jelas kamu sedang diintrograsi


“ Please ya bu, boleh ya. Nanti wajah ibu disamarkan.” Merengek.


“ Tidak.” Tegas kujawab.


Hanan menyerah, tahu aku tidak akan


luluh dengan kata-katanya.


“ Kamu tahukan kenapa ibu panggil kesini.”


“ Tidak.” Idih jawaban Hanan sok


polos, seperti kalau aku sedang berdosa membalas pembicaraan Ren. Berusaha


tampak imut dan mengemaskan.


“ Ini buku Prmu”. Aku menggangkat buku tulis yang tergeletak di meja kerjaku.


“ Gak tau bu, kan banyak buku tulis begini.”


“ Ia ini buku kamu. Ibu tidak sedang bertanya ya, tapi ibu memberi informasi kalau ini buku kamu.”


Kutunjukan lembar pertama buku yang bertuliskan nama dan kelasnya.


“ Haha, bu Aya imut banget si. Ia,


ia aku tahu maksudnya. Itu memang bukuku.”


Anak ini, boleh dicubit gak si.


“ Kenapa?” Aku bertannya lagi


sambil menyerahkan buku PR ke tangannya. Biar dia mulai instropeksi kesalahanya apa.


“ Kenapa apa bu?” Sok polos lagi malahan.


Aku benar-benar ingin mencubit


pipinya. Hanan masih terlihat santai saat aku menatapnya dengan tatapan sedikit


tajam. Dia membuka bukunya dan membolak balik lembaran di dalamnya.


“ Kenapa kamu tidak mengerjakan PR


mata pelajaran Pak Bahar sampai 3 kali.”


Tunggu, kenapa anak ini terlonjak


senang dengan kalimatku barusan. Apa yang sedang direncanakannya. Apa dia


sedang main prank disini. Kulihat kantong baju dan celananya, dia tidak mungkin


sedang merekamkan. Sepertinya tidak ada hp. Aku menoleh dan berkeliling


ruangan, melihat jendela. Tidak ada siapa-siapa. Kupikir aku akan melihat siswa


lain sedang memegang kamera atau apa. Jadi kenapa anak ini sesenang ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG............


__ADS_2