
Doa panjang terpanjatkan selepas sholat. Semoga semua berjalan dengan
baik. Aku percaya Ren tidak akan melakukan hal di luar batas. Yang bisa
menciderai kepercayaanku padanya. Dia pasti menjaga harga dirinya di depan
muridku.
Tapi dia kan Ren, menguap sudah semua kepercayaan diriku.
“ Aku tidak akan berkelahi dengan bocah ingusan. Jangan melihatku
seperti itu.” Aku tertawa lalu memeluknya. “ Aku percaya kok. Benar, aku percaya sama Ren." Malam yang panjang itu, aku
menunjukan seberapa besar cintaku pada Ren. Tidur di dadanya sambil mengulang
kata-kata aku mencintaimu tidak terhitung jumlahnya.
Karena janjinya itulah aku mengizinkannya pergi. Tapi sekarang aku merasa khawatir.
Sudah selepas sholat magrib. Aku membawa camilan ke luar teras. Di depan
rumah masih ada anak-anak yang berlarian. Pulang sehabis berjamaah di masjid.
Ada yang dari mereka masih mengaji di masjid. Aku duduk sambil menghabiskan
camilan. Bagaimana pertemuan mereka ya gumamku sambil melihat langit malam.
Mereka tidak berkelahi kan. Aku tidak bisa mencegah
pertemuan mereka. Karena hanya akan terlihat aku membela Andrian. Itu sudah bisa menjadi alasan pertengkaran kami.
Bebepa hal berkelebat di kepalaku. Awalnya masih terbilang optimis. Senyuman Ren, sikap dewasanya jika tidak bersamaku. Tapi, lama-lama memikirkan, hatiku menciut juga.
Membuatku takut. Sifat tidak mau tahunya Andrian. Keras kepalanya Ren kalau
sudah tersulut emosi. Membuat desahan panjang. Aku harap Andrian tidak menatap Ren dengan pandangan seperti saat melihatku.
Kuraih hp yang juga kubawa keluar. Ren bilang masih akan sholat magrib di masjid yang dia temui. Setengah
mati aku dibuat penasaran. Ku telfon akhirnya. Tidak diangkat. Semakin gamang hatiku.
Akhirnya kupilin mengirim pesan pada Mita menanyakan apakah adik sepupunya
sudah pulang.
“ Andrian juga belum pulang Kak.” Jawaban cepat Mita membalasku. Ah,
dia juga pasti sedang menunggu dengan cemas. Aku sedang membayangkan bagaimana cemasnya gadis ceria itu.
Aku baru mau membalas lagi pesan Mita, tapi sorot lampu mobil di depan gerbang langsung membuatku meletakan
hp. Ren sudah pulang. Cepat ku buka gerbang sebelum dia turun. Dia membuka kaca
mobil.
“ Kenapa di luar?”
__ADS_1
“ Menunggu Ren.” Sambil tersenyum riang.
Jawabanku cukup mebuatnya memasukan mobil. Kututup lagi gerbang yang
berdecit. Dia menangkapku dari belakang.
Mencium bagian leherku yang tampak karena aku mengikat rambut.
“ Kakak merindukanku atau khawatir dengan muridmu itu.” Haha, aku tidak mau
menjawabnya. Dengan kalimat seperti apa pun akan terdengar aku lebih cenderung
mengkhawatirkan Andrian daripada merindukannya. “ Jawab.” Dia tidak mau bergerak
masuk kerumah. Menunggu jawabanku.
Aku tidak mau menjawab.
“ Masuk rumah dulu.” Kutepuk tangannya. “ Aku siapkan makan malam, kamu
mandi dulu ya.” Sebentar lagi waktu sholat Isya datang.
“ Jawab dulu.” Masih kukuh memeluk tubuhku. Panjang urusannya.
“ Tentu saja keduanya sayang. Merindukanmu juga menkhawatirakan muridku.”
Jalan tengah. Toh memang itu kenyataannya. Aku pikir itu jawaban paling aman. Tapi aku salah.
“ Cih.” Ren melepaskan pelukannya. Masuk ke rumah tanpa berpaling. Memang
Aku masuk juga ke rumah. Terdengar suara air di kamar mandi. Segera ke dapur menyiapkan makan
malam. Hari ini menu kesukaan Ren ada di meja. Hasil masakanku kecuali
sambalnya. Aku sudah melihatnya masuk ke dalam kamar. Sebentar lagi dia pasti keluar kan.
Menunggu. Menunggu. Dia tidak keluar kamar juga. Dasar, dia pasti ngambek. Aaaa, apa semua tidak berjalan dengan baik tadi. Apa aku sudah menabur bara lagi.
Setelah menutup makanan aku berjalan ke kamar akhirnya. “Ren.” Pintu
setengah terbuka. Aku hanya menunjukan kepala. “ Sayang, makan yuk.” Hening
tidak ada sahutan. Mataku berkeliling masih di posisi di belakang pintu. Dimana
dia. Benar kan dia ngambek. Aku melihat Ren sudah ada di bawah selimut. Menutup
hampir seluruh tubuhnya. Ujung rambutnya saja yang terlihat.
Bentuk protes suamiku lucu banget si.
“ Sayang, kok malah tidur. Belum makan malam kan?” Diam, tidak ada
jawaban. Aku yang sudah masuk ke dalam kamar semakin medekat ke tempat tidur.
Duduk di pinggir tempat tidur. Menarik ujung selimut supaya wajahnya terlihat.
“ Jangan bicara padaku!” ujarmu sambil melengos dan memiringkan tubuh
__ADS_1
membelakangiku. “ Jangan pura-pura khawatir padaku.” Siapa yang pura-pura. Aku memang
khawatir padamu tahu. Kalau marahnya mengemaskan begini, tahukan, nyaliku tidak
akan menciut. Aku malah senang menggodanya. Menepuk punggung Ren.
“ Sayang ayo makan.” Masing tidak bergeming. “ Padahal aku laper banget
lho. Huu.huu.” Sambil menyeka sudut
mata. “ Tapi karena meunggu Ren aku jadi gak selera makan tadi.” Dia sudah berbalik, kusambut senyum cerah. Eh dia melengos sambil mendengus. Menarik selimut.
“ Bohong! Tadi cuma khawatir dengan muridmu kan?” Bicara di bawah selimut.
Tuh kan, aku mengutuk diriku yang sok memilih jawaban bijak tadi. Anak ini benar-benar. Padahal aku mengatakan itu karena kepercayaaanku padanya. Bahwa dia tidak akan berkelahi dengan anak di bawah umur.
" Kenapa aku harus khawatir dengan muridku. Ren kan tidak mungkin melakukan hal yang buruk." Menepuk punggung di balik selimut. " Aku kan percaya sama kamu sayang." Dia belum bergeming. " Ayo sini, tunjukan wajahmu. Biar aku bisa lihat wajah suami yang aku cintai ini."
" Kau harus berusaha lagi merayuku." Masih bicara di bawah selimutnya.
" Ahh aku lapar. Aku makan dulu aja ya." Bangun dari tempat tidur. Dengan menahan senyum. Ren langsung berbalik, melemparkan selimut yang terjerembah ke lantai. Wajahnya semakin terlihat kesal karena aku mengatakan ingin makan ketimbang meladeni tingkahnya.
" Kami berkelahi. Aku menghajar bocah ingusan yang sudah mengirim surat padamu." Aku tahu itu bohong. Dia tidak mungkin melakukannya. Sebesar itu rasa percayaku pada Ren. Dia tidak akan membuatku kecewa. " Telfon dia dan tanyakan padanya kalau kau khawatir." Menatapku dengan sebal. Masih memberi tekanan berulang pada kalimat, kalau aku mencemaskan muridku.
" Aku lapar, aku mau makan," kujawab tidak meladeni protesnya.
" Kakak!"
" Aku lapar." Berbalik dan berjalan menuju pintu.
" Kakak! Berhenti! Kalau kau selangkah saja keluar dari pintu, aku benar-benar akan marah." Langkahku terhenti. Gamang. Membalikkan badan atau terus melangkah. " Kemari!" teriak Ren meninggi.
" Aku lapar. Aku mau makan." Tanpa menoleh. Menutup pintu dengan cepat. Langsung bersandar di tembok, menepuk dada berulang. Gila! nyaliku menciut tadi. Ren sepertinya benar-benar kesal. Aku menempelkan telinga di pintu. Mendengarnya mencerca. Menyebut nama Andrian juga. Terdengar langkah kaki Ren menuju pintu. Aku merapat ke tembok. " Duarrrr!" Teriakku saat dia membuka pintu.
Ren duduk terjatuh karena kaget. Melihatku yang tertawa lebar karena melihat wajah kagetnya. Dia ikut tergelak tertular tawaku.
" Kau sedang mempermainkanku ya." Bangun. Meraih tubuhku. Mengangkat badanku. Kuhentakkan tangan supaya dia menurunkanku.
" Lepaskan aku Ren. Haha. Ia, maaf, maaf." Masuk ke dalam kamar. " Aku lapar, sumpah!" Dia tidak perduli. Menjatuhkanku di atas tempat tidur.
" Kau lapar?"
" Ia. Aku lapar. Ayo makan dulu." Dan ceritakan semua tentang pertemuanmu dengan Andrian. Beraninya bicara dalam hati. Aku akan menanyakannya setelah ada di meja makan nanti.
Hei, kenapa malah melepas baju. Melemparkan baju ke ujung tempat tidur.
" Kenapa buka baju?" Aku kan mau makan. Makan nasi, bukan memakanmu!
" Mau mulai dari mana?" Menyentuh cari telunjuk di bibir. Lalu turun ke leher. Apa-apaan dia. Gila ya! Kenapa tengkuk leherku berdesir melihatnya melakukan itu. Aku sampai menelan ludah lagi. " Kakak yang mulai mau memakanku dari mana."
Gila ya! Otak minusku.
Cerita tentang pertemuannya dengan Andrian bahkan tidak terlalu menarik lagi.
Bersambung
Terimakasih semuanya ^_^
__ADS_1