Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Galau


__ADS_3

Malam belumlah larut, setelah selesai makan malam dan membersihkan diri aku memilih masuk kamar. Mematikan beberapa lampu. Aku masih mendengar suara motor lewat di depan rumah. Menjadi teman tersendiri di saat hanya ada aku di rumah.


Belum berani kusentuh amplop putih itu. Hatiku masih sangat gamang.


Semua berputar di kepala. Bayangan wajah Andrian yang aku kenal. Bagaimana


perjumpaan pertama kami sebagai guru dan murid. Tidak ada yang terlalu


berkesan. Semuanya dalam batas normal. Lalu, hari-hari yang berlalu saat


mengajar di kelas, semuanya bisa dibilang tidak ada yang luar biasa. Hanya terkadang dia memang menatapku dengan cara yang berbeda. Tapi, aku berhasil menjaga jarak dengan baik. Jadi


kesimpulannya sejak kapan anak itu.


Hei! Plak! seperti ada tangan tak kasat mata menampar pipiku.


Aku seperti tersadar kembali. Tawa yang muncul tiba-tiba dari mulutku. Aku sedang


menertawakan diriku dan rasa percaya diriku. Ku ambil bantal dan kubenturkan kepalaku ke atasnya. Malu. Memang dari mana kau tahu tahu ini


surat cinta  Ayana. Masih sambil tergelak


kuraih amplop putih itu.


" Percaya diri sekali kamu!"


Ayolah, ini mungkin hanya sebatas. Kata-kataku menggantung begitu saja. Aku tidak menemukan kata yang pas. Untuk menyebut pradugaku. Kutaruh lagi amplop putih itu.


Sambil menghela nafas dan meraih hp aku keluar dari kamar. Menyalakan beberapa


lampu  supaya aku bisa melihat bayanganku sendiri. Hehe, aku memang


terbilang penakut untuk sendirian di rumah pada malam hari. Di luar rumah juga mulai


sepi sepertinya. Tidak terdengar apa pun lagi. Selepas jam sembilan malam komplek perumahan ini


memang sudah kehilangan geliatnya. Orang-orang lebih senang menghabiskan waktu


bersama keluarga masing-masing di dalam rumah.


“ Jam berapa ya Ren pulang?”  Aku

__ADS_1


bergumam sendiri sambil mengambil air dingin di dalam kulkas. Duduk lalu  meneguknya  beberapa kali. Hp di atas meja


makan masih kulihat. Hatiku sekarang sedang bimbang memilah. Aku tahu Ren akan


tidak senang kalau aku membaca surat itu, apa pun isinya.


Terbesit sebuah ide untuk membaca surat di depan Ren besok. Ya, apa pun itu


isinya aku tidak perlu mempertanggungjawabkan isinya. Ah, tapi


buru-buru ide itu kutepis dengan sendirinya. Ren tidak akan perduli aku berkilah


apa pun. Akan panjang urusannya, benar-benar bisa mempengaruhi hidupku


kedepannya.


Pekerjaanku sebagai guru sedang dipertaruhkan.


Akhirnya kuraih  hp. Perasan galau


ini mungkin bisa sedikit mereda kalau aku bicara dengan seseorang. Tersambung. Aku


belum mengucap sepatah kata pun ketika panggilan sudah terhubung.


suara Mas Gilang.” Dek.” Aku masih terdiam. Menjahilinya. Habis, salam saja belum kuucapkan. Dan kalimat pertamanya pertanyaan seperti itu.  “Ayana!” akhirnya suaranya


meninggi, aku terkikik lalu mengucapkan salam. Mas Gilang menjawab dengan cepat


salamku, kemudian menyusul kalimat yang belum kujawab tadi. “Kamu gak


papa kan?” masih dengan nada suara cemas.


“ Ia Mas,  Aya gak papa.” Memang kenapa juga aku harus kenapa-kenapa?


“ Yang benar," tidak percaya begitu saja. "Kalian tidak sedang bertengkar kan?" Aku menatap layar hp, melihat sekali lagi nama  yang tersimpan di sana. Benar, Mas Gilang kok. Dia berfikir aku bertengkar dengan siapa, dengan Ren  dari mana coba dia sampai berfikir begitu. Saat aku belum bicara sepatah kata pun untuk meluruskan, aku mendengar suara perempuan mendekat.


" Siapa sayang?"


" Aya."


" Hah, Aya, kenapa? apa terjadi sesuatu." Dua orang ini kenapa si, aku malah jadi yang mendengarkan pembicaraan mereka, tanpa ingin menyela. Mas Gilang dan kakak iparku masih bicara berdua tidak melibatkanku.

__ADS_1


" Benar kan, kamu juga berfikir begitu. Apa mereka bertengkar ya." Mas Gilang.


Sekali lagi tanda tanya besar menggantung di atas kepalaku. Ada apa dengan mereka berdua. Kenapa aku harus bertengkar dengan Ren lalu mengadu. Kalaupun aku dan Ren bertengkar, aku pasti akan menyimpan untuk diriku sendiri. Selama itu masih hanya pertengkaran kecil biasa.


" Bertengkar! Aya dan Renan, ih kok aku membayangkan saja sudah gemas ya Mas kalau sampai mereka berantem. Haha." Hei, aku dengar tahu kalian bicara apa. Aku ini yang sedang jadi objek pembicaraan kalian. Masih tersisa tawa di ujung kata-kata kakak ipar.


" Coba kamu tanya pelan-pelan, mungkin Aya mau menjawab kalau kamu yang tanya."


Aku berdehem keras di depan spiker hpku. Supaya mereka sadar kalau aku ada di sini.


" Haha, Aya, maaf ya. Kami jadi bicara sendiri. Apa kabarnya, kamu gak papakan? Mas Gilang udah khawatir banget ini. Dia sudah seperti mau bawa mobil ke bandara dan pergi ke tempatmu.


Aku bisa mendengar suara kakak ipar terkikik. Ntah apa yang dilakukan Mas Gilang padanya.


" Aya gak papa Kak, beneran. Demi Allah,  Aya baik-baik aja." Meyakinkan, supaya menendang rasa curiga dan perasaan khawatir jauh dari mereka.


" Tapi, biasanya kamu kalau malam gak bisa pegang hp kan?” Ya Tuhan, jadi karena alasan itu.  Mas Gilang dan kakak ipar sampai berfikir yang macam-macam. “ Renan mana?” tanyanya lagi.


“ Dia sedang lembur di kantor Kak, sekarang Aya sendirian di rumah.” Aku menghabiskan minuman dingin di gelas, sedikit tergelak dan tidak habis pikir alasan kecemasan mereka.


"Jadi kamu takut sendirian di rumah ya?" Goda Mas Gilang. Suaranya sudah tenang.


" Aku bukan anak kecil lagi tahu." Tapi aku langsung melihat sekelilingku. Melihat beberapa sudut ruangan. Tanpa mematikan lampu aku lari masuk ke kamar. Keberanianku menciut saat dipancing begini. Pikiranku berlarian di balik jendela. Kalau ada, hiayaaaa, aku tidak mau membayangkan. " Mas  Gilang kan, akukan jadi takut!"


" Haha, maaf, maaf. Kamu lari ke kamar ya?"


Dasar jahat mereka dengar aja nafas terengah-engahku. Setelah memberiku waktu menenangkan diri kakak ipar kembali bertanya.


“ Alhamdulillah kalau semua baik-baik saja, ya udah sambil nunggu Renan kami temani ngobrol.”


Aku jadi merasa bersalah karena membuat kedua orang itu khawatir. Lebih-lebih karena mengganggu


acara berduaan mereka.


" Sebenarnya ada masalah lain yang mau Aya diskusikan Kak." Suaraku menggantung.


" Kenapa?" Cemas lagi.


" Bukan tentang Ren, tapi ada murid di sekolah yang memberiku surat secara pribadi."


Gempar deh dua orang yang ada di sana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2