
Aku keluar dari pintu tepat saat Safina dan mamanya lewat. Sepertinya kumpul-kumpul
sore sudah bubar. Mereka kembali ke rumah masing-masing.
“ Mbak Ayu sebentar.” Dia berhenti
tepat di depan pintu gerbang, kudorong gerbang walaupun tidak terbuka lebar.
“ Roti buat Safina.” Kuserahkan bungkusan
plastik di tanganku.
“ Kenapa? Renan gak mau?” mbak Ayu
bertanya sambil menerima bungkusan. “ Makasih ya.”
“ Sama-sama mbak. Ia tadi Ren beli makanan juga.” Kupikir aku sudah akan
menyudahi pembicaraan. Tapi wajah mbak Ayu malah terlihat antusias.
“ Kenapa? Dia marah ya.”
Haaa, kok mbak Ayu tahu. Dia ini benar-benar peka situasi ya.
“ Nggak mbak marah kenapa?” cari alasan ngeles saja. Masak aku harus mengakui kalau Ren benar-benar ngambek.
“ Tadikan mbak ketawa-ketawa sama anak-anak diliatin om-om penjual roti.”
Hah! Mbak Ayu kok bisa tepat begini. Aku harus bereaksi apa ini. Dia ini detektif apa ya.
Suara keras terdengar dari dalam.
“ Kakak!”
Haa, tepat sekali, suara Ren
memecah kebuntuan otakku.yang tidak tahu mau menjawab apa.
“ Ia sayang sebentar.” Aku berteriak dari luar.
“ Sudah sana masuk, nanti tambah
marah Renan.” Mbak Ayu malah yang menutup pagar, mengusir dirinya sendiri.
“ Haha, ia mbak, eh gak kok mbak,
Ren gak marah.” Bingungkan aku menjawab.
“ Kakak!” lagi.
Aku bergegas masuk ke dalam rumah,
mendapatinya sudah terlihat tampan setelah ganti baju dan menyisir rambutnya.
“ Darimana? Kan sudah kubilang jangan lama-lama.”
Ini juga gak lama kali, kamu aja yang mandinya kecepetan. Tapi bukannya mendebat aku malah lari kepelukannya. Gini ni kalau sudah tau salah, sudah kehilangan harga diri aja, nempel terus sama
Ren sampai dia luluh.
“ Kasih rotinya ke Safina sayang,
mereka sudah pada bubar tadi. Hemm, mau makan sekarang.”
“ Boleh.”
Kulepaskan pelukanku dan menyiapkan
makanan yang dibeli Ren tadi. Sepertinya enak.
“ Yang pedas yang mana Ren.”
Kami menikmati makan dengan lahap. Sambil
masih mengungkit ketawa ketiwiku tadi.
- - -
Selepas sholat isya aku gak
diizinkan nonton drama. Tv yang sudah kunyalakan dia matikan, lalu menariku
ke dalam kamar. Dia naik ke atas tempat tidur, akupun mengikutinya.
“ Sudah mau tidur, belum juga jam delapan.” Tanyaku melihat jam dinding. Belum ngantuk jugakan. Apa ngambek membuat orang mengantuk ya.
Kamu malah mencubit pipiku. Ya, aku
tahu, kamu sedang memanfaatkan situasi dengan baik Ren.
“ Kakakan melakukan kejahatan besar, masih bisa nonton drama?.”
“ Ahhh sayang, akukan sudah dimaafkan.” Muah, muah. Mencium bibirnya tiga kali.
Ren duduk sambil bersandar di
bantal, sementara aku tiduran di sampingnya, sambil memeluk pahanya.
“ Tadi aku makan es cream seperti waktu kencan dengan kakak.”
Apa! Wahh, apa sekarang aku yang
boleh kesal. Aku mendongak melihat wajahnya. Ingin melihat rasa bersalah padanya.
Eh, dia malah mencium keningku.
“ Aku gak ke toko itu kok, kan gak boleh
sama kakak. Ditraktir bu Tiwi, semua satu divisi. Katanya dia ikutan pengen
waktu liat postingan di sosmed. Mau liat foto-fotonya.”
“ Boleh-boleh mana.”
Ren mengeluarkan hp dari dalam
laci, ya, cuma dia yang bisa melakukannya. Hpnya masih bisa keluar kalau malam,
__ADS_1
kalau dia mau. Aku melirik hpku yang
juga tergeletak disana.
“ Kenapa? Mau ambil hp juga?”
tanyanya tidak senang. Seperti sudah akan memakanku kalau aku menjawab iya.
Aku geleng kepala lalu memeluknya
lagi. Aya kendalikan dirimu, bara cemburu belum sepenuhnya padam. Yang harus
kamu lakukan sekarang adalah memeluk Ren, sudah itu saja cukup. Besok pagi
percayalah, dia sudah akan kembali normal dan tidak mengungkit ketawa
ketiwimu dengan penjual roti lagi.
“ Wahh cakenya enak kayaknya.”
“ Kakak mau? cabut larangan kakak,
nanti aku belikan pas pulang kantor.”
“ Gak mau, Ren mau datang kesana
lagi, ketemu sama pemilik toko itu lagi?” Aku melengos kesal, tapi masih
memeluknya.
“ Akukan cuma mau beli cakenya buat
kakak, gak perduli sama pemilik tokonya.” Ren bahkan sudah lupa siapa nama
pemilik toko itu.
“ Gak mau, tetep gak boleh ke toko itu.” Kujawab tegas, mempertahankan harga diri dan aturan yang sudah kubuat. Aturan itu bahkan sudah tercatat di dokumen aturan rumah tangga kami.
Dia sudah melorot dari duduk,
terbaring di sampingku dan menciumiku sekarang.
“ Aku akan mematuhi perintah anda
tuan putri. Nanti aku beli pakai ojek online aja kalau kakak mau.”
“ Bolehlah. Wahh, ini Mita ya, yang
waktu itu kamu kirim foto pas berbagi bekal sama dia.” Aku melihat gadis manis
sedang asik makan es cream.
“ Anak magang di kantor dia kak, sering aku suruh-suruh. Haha.”
“ Huss, gak boleh bikin susah orangkan.”
“ Gak bikin susah kok, dia memang gunanya disuruh-suruh” Tertawa kayak gak ada dosa gitukan. “ Kalo gak
disuruh-suruh dia manyun gak ada kerjaan. Ini bu tiwi.” Ren menunjuk wanita di
foto. Wahh cantiknya. Penampilannya juga terlihat sangat mengerti fashion. Seperti
“ Cantik ya.”
“ Siapa?”
“ Bu Tiwi.”
“ Biasa aja.”
Ren mengeser kefoto-foto
selanjutnya tidak memberi komentar lainnya. Aku mencium pipinya, dia
terperanjak.
“ Kenapa?” Ren menatapku hangat.
“ Terimakasih sudah menganggapku cantik.”
“ Ahh, kakak apa kamu mengodaku.”
Hei, siapa yang mengodamu, akukan
lagi mengungkapkan ketulusan perasaanku.
“ Foto yuk.” Ren melingkarkan lengannya.
“ Kenapa? Tiba-tiba foto.”
“ Biar jadi sejarah kelam kakak
sudah selingkuh dengan tukang roti tadi.”
Aaaa, siapa yang selingkuh juga, dasar gila. Aku gak selingkuh tahu, aku juga gak ketawa sama dia kok.
“ Kan aku sudah bilang, aku gak mau
kakak menunjukan ketawa bahagia kakak sama laki-laki lain, lebih-lebih aku gak
suka kalau sampai ada laki-laki yang melihatnya.”
“ Ia sayang, ampun, aku akan lebih hati-hati lagi nanti.”
Dia kembali memperlihatkan foto-foto
di hpnya, cakenya menggoda. Ah, hp, selamat tinggal. Ren memasukan kembali benda
mungil itu ke dalam laci. Aku kecewa. Dan dia mendengar desahanku.
“ Kenapa? Mau main sama hp daripada main sama aku.”
“ Haha, gak sayang, aku mau main sama Ren aja.”
Sekarang waktu dan tempat
dipersilahkan sayang, lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku mengakui
__ADS_1
kesalahanku pasrah. Setelah kau menelusuri leherku dengan bibirmu, kemudian dilanjutkan
dengan belaian lembut tanganmu di kepalaku.
“ Memang kakak mau anak berapa?”
kata-kata mengejutkan keluar dari mulut Ren.
Apa! Ren yang memulai pembahasan
tentang anak. Aku langsung siaga satu. Mencari pilihan kata yang tepat.
“ Empat, biar seperti ibu sama mama.”
“ Haha empat memang sanggup.” Dia tergelak mendengar jawabanku.
“ Hemmm.” Aku berfikir keras. Kayaknya nggak sayang.
“ Memang kakak nggak akan kerepotan.”
“ Apanya?”
“ Mengurus kami, bukankan aku saja sudah merepotkan.”
Iakan, kamu tahukan kalau kamu
merepotkan, kalau kamu kekanak-kanakan dan berfikir seperti bocah yang maunya
menang sendiri. Aku jadi geram dan ingin mengigit lehernya. Tanpa sadar aku melakukan apa yang aku pikirkan. Ren menjerit kaget karena aku mengigitnya tanpa pemberitahuan.
“ Jadi kamu sadar ya kalau kamu merepotkan.”
Ren hanya tergelak. Membenamkan wajahnya
di dadaku. Uyel-uyel seperti bocah.
“ Akukan cute dan mengemaskan, kok dibilang merepotkan lho.”
Ia itu fakta kamu cute dan
mengemaskan, tapi merepotkannya juga fakta yang tidak bisa dikesampingkan ya.
“ Kan ada Ren, kita berdua saling
membantu membesarkan anak-anak kita. Kalau Ren maunya punya anak berapa?” aku
memainkan rambutnya.
“ Satu, atau dua juga cukup.”
“ Kalau begitu kita mau program
punya anak.” Jelas aku antusias, mumpung dia duluan yang membahas ini.
“ Sekarang.” Katanya lagi.
“ Hah, apa.” Akukan jadi bingung,
kitakan membahas program memiliki anak, bukan membuat anak.
“ Buat anaknya.”
Hei, hei obrolan kita belum sampai
keintinya Ren. Ini masih prolog, baru mau masuk gerbang. Kalau tanganmu sudah
tidak bisa diam begitu mau bagaimana lagi.
“ Hei tunggu dulu kita omongin dulu
masalah anak.”
“ Apa lagi yang mau kakak omongin.”
“ Anak.”
Kata-kataku sudah tidak di dengar
olehnya, dia sudah mematikan lampu dan menendang selimut ke lantai.
- - -
“ Hemmm, kakak mau kemana?”
Menindih kakiku yang mau bangun,
aku yang meraba-raba mencari baju sudah ambruk lagi di kasur, dalam dekapan
lengannya.
“ Aku mau ke kamar mandi Ren. singkirkan kakimu.”
“ Gak mau.”
Hei bocah, aku ingin memaki
sekarang. Karena aku sudah mengantuk. Hei, hei, mau apalagi Ren,
kenapa kau mulai menciumi leherku lagi. Ini sudah malam.
“ Ayo lakukan sekali lagi.”
“ Sayang ini sudah malam, besok kesiangan.” Hari ini aku benar-benar sudah memakai rayuan level pasrah berulang kali.
Ren bergumam tidak jelas di leherku.
“ Ren nanti kesiangan, kamu bakal
dihukumnya kalau sampai kita kesiangan.”
Cuma menjawab dengan gumaman lagi,
tapi tangan dan bibirnya sudah mulai tidak bisa dikondisikan.
Bersambung...........
Jangan telat mandi dan sholat subuh
__ADS_1
ya kalian berdua ^_^