
Berempat mereka memasuki bangunan restoran yang sudah dipesan Mita. Pak Restu dan Marwan terlihat ragu. Biasanya saat lembur, makan hanya dengan nasi kotak yang di pesan kantor. Tapi sekarang mereka bisa ada di restoran yang tergolong mewah. Salah satu yang terbesar di kota ini.
" Renan, ini benar tidak salah. Bu Tiwi benar mau traktir kita di sini." Pak Restu maju mundur hatinya. Di antara bocah-bocah ini dia yang paling tua. Kalau ada apa-apa, dia pasti yang akan di mintai pertanggungjawaban. Faktor usia kadang cuma kalau lagi gak enaknya aja. Dan uang di dompetnya tidak akan cukup membayar tagihan makan mereka berempat.
" Memang Bu Tiwi sedang ulang tahun?" Marwan menahan semua orang di depan pintu, pelayan yang sudah membukakan ruangan khusus yang mereka pesan terdiam bingung. Pelanggannya tidak ada yang mau masuk. Tangan Marwan masih terentang lebar. " Renan jelaskan dulu sebelum urusan makin panjang!" Orang yang lebih tua urutan kedua. Paham kalau dia akan ikut bertanggung jawab kalau ada apa-apa.
" Sebenarnya Bu Tiwi gak bilang mau traktir di sini. Mita itu yang nyari tempat." Menunjuk Mita yang berdiri agak jauh. Dia sedang menelfon.
Dan akhirnya ketiga orang itu menonton Mita. Tidak ada yang masuk ke ruangan.
" Apa! jadi kamu beneran kasih surat cinta itu?" Diam. " Reaksinya cuma begitu, aku boleh tertawakan." Tertawa sambil memalingkan wajah karena takut yang di sebrang murka. " Ia, ia maaf. Anak keren yang surat cintanya di cueki." Tergelak. " Aku lembur pulang larut, tidur sana. Besok pagi ceritanya. Eh, kenapa kalian tidak masuk? " Terkejut saat melihat ketiga orang itu masih berdiri di depan pintu. "Sudah ya, aku mau makan malam dengan senior kantor." Menutup telfon, mendekat cepat. " Maaf, hehe. Adik sepupuku sedang galau, kenapa tidak masuk."
" Kamu yang pilih restoran ini? Bu Tiwi tahu gak?" Pak Restu langsung sigap. Mita menggeleng.
" Senior bilang mau tempat yang mahal, ya di sini yang mahal." Mulai khwatir, karena berhasil menerka situasi. " Ah, senior ngerjain ya. Aku jadi takut ni, kalau Bu Tiwi marah terus suruh kita bayar masing-masing bagaimana?" Anak magang menyentuh dompetnya yang tidak seberapa.
" Ayo masuk, tadi aku sudah bilang kok, mau makan di restoran yang mahal. Kata dia boleh. " Renan yang akhirnya masuk duluan. Yang lain walaupun ragu akhirnya menyusul.
Setelah mencatat menu yang di pesan, pelayanyang mengantar mereka meninggalkan ruangan.
“ Kakak sudah makan malam?”
Heh sudah mulai ya! take one. Adegan romantis menelfon istri. Mita mulai deh kurang kerjaan sambil melirik Renan. Dia angkat bahu pada Pak Restu dan Kak Marwan. Kedua laki-laki itu cuma tergelak melihat wajah Mita.
Renan masih diam, mendengarkan istrinya bicara.
“ Belum. Kami baru sampai di restoran Victoria.” Tertawa menyebut nama restoran. Apalagi kalau memikirkan bagaimana reaksi Bu Tiwi saat melihat bukan hanya ada dirinya di sini. “ Bu tiwi mau mentraktir semua staff, katanya biar semangat. Kakak makan apa?”
Memainkan jari-jarinya di atas meja. “ Ahhh enaknya, aku mau makan sama kakak aja kalau begitu.”
Take two, mulai merajuk manja. Pulang sana! Masih Mita.
“ Mereka ada, duduk di depanku. Mita meiriku lagi. Apa? Mau apa? Kan makanan belum datang.” Mita langsung
melengos, gemetar-gemetar memang hpnya sendiri.
Lebih baik liat sosial media gumamnya.
“ Kakak juga, jangan tunggu aku ya. Tidurlah lebih dulu.”
Selesai. Malem ini cuma tiga babak, tumben cepat.
Renan meletakan hpnya. Tertawa tanpa dosa pada semua orang yang geleng kepala melihatnya. Tidak perduli dengan apa yang dipikirkan ketiga orang.
“ Eh kita foto dulu ya. “ Ren mengambil hpnya lagi, lalu mengambil foto dengan kamera depan. Semua mendekat dan tersenyum serta mengangkat jari mereka. “ Buat dikirim ke kakak.” Klik, klik pesan gambar terkirim.
Dih buat apa gitu, senior memang selalu laporan. Mita masih berusaha untuk memahami kelakukan tidak masuk
__ADS_1
akal seniornya.
“ Renan.” Pak Restu yang biasanya hanya geleng kepala melihat melihat kelakuan Renan angkat suara. “ Apa istrimu yang suruh kamu telfon dia tiap hari kalau kamu kerja?”
Semua langsung menoleh, menyimak jawaban bucin istri.
Renan menjawab dengan gelengan kepala, sementara matanya masih melihat hp.
“ Lantas kamu ini termasuk suami takut istri ya?”
Mita menyimak, duduk manis dan fokus.Menopang dagunya dengan tangan.
“ Kenapa lagi, tentu saja karena cinta donk Pak, apalagi.” Jawaban klise tapi mematahkan semua argumen. Hingga yang mau mendebatnya jadi tergugu.
Hiaaaaa, memang jawaban apa si yang aku harapkan. Jawaban senior pasti ya begitu, mau apalagi coba.
“ Memang Pak Restu gak pernah nelfon istri Pak Restu kalau lagi kerja?" Serius bertanya,bukan hanya untuk meleddek. " Tanya sudah makan belum, makan sama apa? Gimana pekerjaannya, lancar gak. Capek gak?” Kalau Renan, banyak yang ingin dia tanyakan.
“Istriku ibu rumah tangga, dia di rumah sama anak-anak. Kalau lapar ya dia ya pasti makan, kenapa pakai ditanya-tanya, seperti anak kecil saja.” Begitu pikiran sederhana Restu. Toh istrinya orang dewasa yang akan makan kalau dia lapar, baik ditanya atau tidak. Lagian kenapa harus di telfon, di rumah juga nantikan ketemu. Lagi-lagi pikiran sederhana Restu.
“ Kok gitu, memang Pak Restu gak cinta sama istri Bapak ya.” Pertanyaan paling polos.
“ Hei kok ngomongin cinta, ya cintalah. Kalau tidak cinta bagaimana aku bisa menikah dengan istriku sekarang dan sampai punya anak juga. Ia kan.”Menepuk bahu Marwan di sebelahnya mencari pembelaan.
“ Hemm, ia. “ Dia masih sibuk ngasih like foto-foto di social media orang yang dia follow. “ Ya cintalah Renan, karena itu kami menikah dengan istri kami sekarang.” Masih tidak mengalihkan mata.
“ Kalau cinta kok kalian gak perhatian sama istri kalian.”
Huaaa, aku mendukungmu Senior.
Jleb, jleb, Duarrrr. Apa-apaan perkataan anak bau kencur ini. Kenapa jadi seperti pedang dan geranat yang menghancurkan kami. Begitu kira-kira isi kepala kedua laki-laki di hadapan Renan. Mereka meletakaan hp yang sedari tadi menjadi pusat perhatian mereka dan melihat Renan dengan serius.
“ Hemm. Hemm.” Batuk kecil mengumpulkan wibawa. “ Renan,bukan kami tidak perhatian pada istri, tapi memang
buat apa juga, toh kita nanti juga ketemu di rumah. Kalau mau ada yang diobrolkan bisa di rumah kan.” Marwan berusaha membela dirinya sendiri, karena ia memang sangat jarang menghubingi istrinya kalau dia sedang di kantor. Apalagi sekedar menanyakan persoalan makan.
Mita masih jadi peonton.
“ Benar begitu, saya cinta kok sama istri saya. Walaupun saya gak seperti Renan.” Pak Restu berusaha meraih harga dirinya lagi.
“ Mau dengar cerita tentang kakak perempuan saya.” Renan sepertinya belum terima dengan semua alasan dua laki-laki di depannya.
“Mau!” Mita yang bereriak menjawab, sepertinya tontonan akan makin seru walaupun dia tidak tahu apa yang akan di ceritakan seniornya. Sementara dua orang menatapnya kesal dan berharap Bu Tiwi segera datang.
“ Kak Marwan sama Pak Restu mau dengar juga.”
“ Ya, ya cerita saja.” Menyerah.
__ADS_1
Kenapa ini, perasaanku sepertinya tidak enak. Apa isi ceritanya akan jadi bilahan pisau lagi. Pak Restu dan Marwan masih curiga.
“ Saya punya 3 kakak, mereka semua sudah menikah. Dua kakak perempuan saya tidak bekerja dan tinggal di rumah mengasuh anak-anak. Mereka pernah cerita bagaimana melelahkannya pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak-anak. Dan perhatian kecil dari suaminya seperti menelfon, mengirim pesan, sekedar mengingatkan makan, bisa jadi oase yang membuat mereka tetap bahagia. Kata mereka mengurus anak luar biasa lho, saya juga melihatnya. Haha.” Jawaban Renan benar-benar jadi pukulan telak.
“ Senior benar!”
Mita yang walaupun belum tau rasanya jadi ibu rumah tangga mengiyakan.
“ Jatuh cinta mungkin bisa terjadi tiba-tiba, melihat seseorang cantik, baik, lucu kita bisa langsung jatuh cinta. Tapi, menjaga cinta yang ada di dalam pernikahan tidak semudah itu. Aku hanya belajar dari kakak ipar yang memperlakukan tiga kakakperempuanku. Haha, kenapa jadi serius begini."
Wajah Pak Restu dan Kak Marwan sudah seperti kejatuhan buah kelapa. Tersiksa.
“ Dan aku memberi perhatian pada Ayana istriku bukan karena dia yang minta atau menuntut, tapi karena aku mencintainya,dan aku ingin membuatnya bahagia.” Wajah kedua laki-laki itu semakin tak berdaya.
Kedua orang itu menatap hp mereka masing-masing.
"Kalau kalian mau menelfon gak papa kok." Keduanya langsung menyambar hp mereka masing-masing, lalu mencari posisi paling nyaman.
Bocah ingusan itu, kenapa semua yang dikatakannya benar semua. Mengerututapi tidakbisa berkilah.
"Wahhh senior keren!" Mita mengacungkan dua jempolnya. "Panutanku."
Renan berdehem membusungkan dadanya.
"Cari suami nanti yang benar."
" Senior!" Berteriak. " Aku mau mengaku dosa."
" Apalagi kamu. Bu Tiwi mana lagi belum datang juga." Meraih hp.
" Senior, sebenarnya aku itu jomblo."
" Hah!"
Bu Tiwi masuk ke dalam ruangan. Senyum di wajahnya langsung hilang saat melihat ternyata yang ada di ruangan bukan hanya Renan sendirian.
***
Sementara itu, di atas tempat tidur Ayana duduk termenung. Menarik selimutnya sampai ke lulut. memandang amplop putih yang ia letakan di atas bantal.
Surat Andrian.
"Huh! Bagaimana pun, aku harus membacanya kan." Rasa bersalah yang datang tiba-tiba, dia merasa menghianati Ren walaupun tidak melakukan apa-apa. Diraihnya amplop putih itu.
Bersambung
Hallo, aku LaSheira
__ADS_1
Alhamdulillah bisa up lagi, terimakasih semua yang masih menantikan kelanjutan cerita suamiku posesif. Terimakasih voter yang sudah vote Kak Aya dan Ren. Terimakasih banyak ^_^