
Mendapatkan restu dari Mas Gilang adalah sebuah keharusan. Renan sedang berusaha menemukan peluang untuk itu. Dan akhirnya dia sadar, dia tidak bisa berdiri sendiri saat ini. Mencari pembela adalah jalan yang dia pilih. Renan tidak berkutik di hadapan Mas Gilang ketika beberapa pertanyaan kembali terlontar bak menyudutkannya. Menelfon semua kakak dan mamanya. Mengadu. Tentunya dengan suara yang sedikit didramatisasi. Adalah hal paling masuk akal yang dia pilih.
Demi Ayana, karena Ayana dan untuk Ayana.
Dengan menyebut nama itu, seperti terkumpul pijaran tenaga di sekelilingnya. Karena dia spesial, maka tidak mudah mendapatkannya. Karena dia spesial, maka harus dengan perjuangan untuk meraihnya.
Semakin spesial sesuatu, membutuhkan upaya yang spesial juga pastinya.
Untuk itulah Renan membutuhkan bala bantuan untuk berdiri di depannya sekarang.
Tapi yang membuatnya mengerutu saat sedang berdiri di depan restoran karena
menunggu adalah, kenapa harus kakak kedua saja yang bisa datang. Satu kakaknya
ternyata sedang di luar negri, satunya sedang di luar kota. Benar-benar moment yang
tidak tepat. Sedang mama, mama bilang akan menyerahkan semuanya pada kakak
kedua. Orangtua tidak mau ikut campur, karena Ibu Ayana juga tidak ikut campur
katanya. Dia memegang teguh ikatan suci persahabatan mereka. Soulmate forever yang tidak ada matinya, begitu mama berorasi.Sebelum menutup sambungan telefon.
Cih, awas saja kalau dia malah terpesona dengan Mas Gilang dan cuma iya,
iya menjawab.
Kenapa sampai Renan berfikir begitu? karena dia tahu betul kelemahan kakak keduanya.
“ Kak !” Renan melambaikan
tangan tinggi-tinggi, agar kakak keduanya yang baru keluar dari area parkir melihatnya. Dibalas dengan lambaian tangan yang sama,
sambil berjalan cepat menghampiri. Udara mulai terasa panas di luar restoran berAC, tapi saat Renan melirik pintu masuk, sepertinya tempat nyaman itu justru yang berkobar. Ada api tidak terlihat yang bisa menghancurkan harapannya.
Kak, aku mengandalkanmu!
“ Kakak datang sendiri? Anak-anak mana?” Renan mengambil tas yang di
pegang kakaknya. Keponakan yang biasanya mengikuti kemana pun mamanya pergi
tidak terlihat.
“ Di rumah sama mama, kenapa harus mengajak mereka, aku kan mau melawan kakak
laki-lakinya Ayana. Kalau aku mengumpat nanti bagaimana.” Mengepalkan tangan
ke udara. Masih cukup tahu diri untuk tidak mengumpat di depan anak-anak. Tapi tidak cukup percaya diri untuk bisa menahan emosi. “ Jangan coba melerai kami ya," menunjukan tangan terkepal di depan wajah Renan. Tanda siap berperang. " Memang dia pikir dia siapa, beraninya
__ADS_1
memojokan adik berharga kesayangan keluarga kami.”
Renan menggelengkan kepala. Penuh sanksi dengan kepercayaan diri kakak perempuannya.
“ Kau tidak mungkin melakukannya.” Bahkan sekesal apa pun Renan yakin,
kalau kakak keduanya tidak akan bisa mengumpat atau memaki. Mas Gilang punya
perisai alami yang sempurna di hadapan kakak kedua.
Aaaaa, kenapa kakakku yang satu ini yang datang si.
“ Kenapa? Apa dia ganteng?” Pertanyaanya sudah menunjukan jati dirinya. Ya, kakak kedua sangat lemah sama orang
ganteng. Semua orang tampan di panggil kakak sama dia, berapa pun usianya. Korban
drama romantis yang dia tonton. Dia orang santai dan suka tidak perduli dengan omongan orang lain.
“ Kakak akan tahu setelah melihat Mas Gilang.” Renan malas menjelaskan.
Dia menarik tangan kakak perempuannya. Mempercepat langkah.
“ Jangan kuatir, seganteng apa pun dia, aku akan membelamu sampai
titik darah penghabisan.” Saudara harus seperti itu bukan.
restoran. Menunjuk meja yang tadi dia duduki. Mas Gilang masih di sana.
Meraih gelas di atas meja lalu memakai sedotan menghabiskan isi gelasnya.
Apa-apaan orang itu, cuma minum pakai sedotan kenapa terlihat keren, kalau begini kakak pasti bisa pingsan.
Kakak kedua berhenti melangkah. Berbalik, ada yang berbinar, tapi bukan pijaran cahaya lampu. Kedua bola mata kakak kedua mengerjap beberapa kali.
Benar kan. Benar kan!
“ Itu Mas Gilang, kakaknya Ayana?” Renan mendesah tahu apa kelanjutannya.
Dia tersenyum kecut, reaksi kakak kedua sesuai dengan prediksinya. “ Wajahnya tipeku banget,” ucap wanita itu kemudian. Menyusul tindakan nyata.
Merapikan penampilan, rambut dia sisir dengan tangan, mengusir debu di bahu dan bajunya. Reaksi spontan yang dia lakukan. " Bagaimana penampilanku?" Masih berusaha merapikan penampilan, walaupun tidak terlihat ada perbedaan.
Sudah kuduga dia akan mengatakan itu.
“ Kak, mau kuadukan pada kakak ipar?” Walaupun Renan tahu, kalau kakak iparnya sesantai istrinya.
“ Kenapa? Aku kan bukannya jatuh cinta. Aku itu cuma penyuka wajah
__ADS_1
tampan aja. Kakak iparmu yang paling tahu itu.” Tertawa, puas sekali. Padahal sedang membicarakan aib dirinya sendiri. “ Dia cuma menganggap aku
sedang mengidolakan artis drama. Dia bilang asal aku bahagia, ya gak papa. Hehe, suamiku yang terbaik pokoknya. Suamiku yang paling tampan sedunia.” Masih tertawa. " kedua papa, dan ketiga kamu." Skala ketampanan yang seenaknya dia buat.
Cih
Berhenti melangkah lagi. Menepuk dada Renan. “ Tapi, jangan kuatir. Aku pasti akan membelamu.” Berdehem meyakinkan. " Walaupun wajahnya tipeku, tapi kamu adik kesayanganku." Dengan intonasi sangat serius, kalau orang yang tidak mengenalnya pasti percaya. " Hei, percaya padaku."
" Ia, ia aku percaya. Aku mengandalkan kakak. Seperti yang aku bilang di telfon tadi. Restu Mas Gilang sangat penting dalam melanjutkan perjodohan kami."
" Hemm." Masih percaya diri.
" Kak, aku mencintai Ayana dan sungguh-sungguh ingin menikah dengannya. Jadi tolong aku ya." Memalingkan wajah kakaknya dari memandang Mas Gilang. " Lihat aku." Wanita itu malah tertawa. " Kak!."
" Ia adiku sayang, jangan kuatir. Ayo maju, aku siap berperang!" Kakak kedua melangkah dengan gagah di depan Renan.
Masih menyisa harapan untuk Renan, bahwa apa yang dikatakan kakak kedua bukan omong kosong. Tapi, saat duduk dan mengenalkan diri saja dia sudah tersenyum malu. Seperti fans yang bertemu artis idolanya. Obrolan pembuka, selingan basa-basi. Keduanya bisa bicara terbuka dan nyambung satu sama lain. Sesekali wanita itu menoleh pada adiknya dan tertawa.
Apa-apaan kakak ini!
" Benar sekali Mas."
" Itu benar sekali."
" Suami dan istri memang harus terbuka satu sama lain."
" Memang orang ganteng kadang omongannya selalu benar."
Hentikan Kak! Bala bantuan apa kalau begini jadinya.
Bersambung
Di balik layar author :
Siapa si nama kakak kedua Renan?
Namanya Latisia Auren dia dipanggil Lati. Kenapa dia gak dipanggil nama aja, sebenarnya awalnya dia hanya jadi cameo kecil di sini, figuran numpang lewat aja yang sesekali di sebutkan, tapi ternyata perannya cukup penting dalam kehidupan Renan, jadi dia sering muncul juga akhirnya. Aku saja kaget lho, bagimana karakter dia bisa berkembang seperti ini. Tapi sampai sejauh ini, aku akan tetap memanggilnya kakak kedua.
Lati tipe emak-emak santai yang suka nonton drama dan hobi memasak. Walaupun tidak suka sesuatu yang ribet, tapi kalau memasak sangat mendetail. Dia suka membuat cup cake lucu-lucu untuk anak-anaknya. Suka masak soto ayam kesukaan suaminya, saking detailnya menekuni hobinya memasak, dia bisa menghitung jumlah daun bawang di mangkuk soto lho. (Becanda kamu!) ^_^
Kalian masih ingat saat kakak-kakak Renan memberi hadiah untuk ulang tahun pernikahan mereka, nah si kakak
kedua inilah yang memberi mereka uang tunai karena gak mau ribet nyari kado.
Kelemahan ibu muda ini adalah orang ganteng, dan kelemahan terbesarnya dalam hidup ini adalah " Suaminya sendiri". (Dih)
__ADS_1
Sudah ya cerita tentang Kak Lati, kira-kira ada fansnya gak ya di sini ^_^