Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Pertemuan Wali Murid


__ADS_3

Hari yang sudah aku prediksi tidak akan mudah aku lewati. Aku sudah menghadapi Ren yang seperti ibu melepas anak gadisnya merantau. Tidak rela. Aku  mendapat petuah panjang ini dan itu selama perjalanan menuju sekolah. Tidak  boleh begini, tidak boleh begitu. Pokoknya aku marah kalau sampai bla....bla....


Dia pandai sekali merangkai kata.


Hah! Baiklah, aku sudah menyiapkan mental sepanjang perjalanaan menuju


sekolah sambil mendengar Ren berpetuah. Berdoa panjang selepas sholat subuh. Meminta izin Ren, ini yang utama, agar semua


berjalan dengan baik. Dan sekarang, aku sudah duduk di ruangan BK khusus jika


ada pemanggilan wali murid. Ruangan yang ada di ujung ruang kepala sekolah.


Kubersihkan meja mengusir ketegangan. Ini kali pertamanya aku memanggil wali


murid seorang siswa karena alasan selain kegiatan atau pelajaran sekolah, karena selembar surat. Surat yang ditujukan untukku. Andai saja Andrian ketahuan pacaran saat jam pelajaran, mungkin hatiku tidak akan sekacau ini mempersiapkan diri.


Tarik nafas pelan Ayana, semua akan baik-baik saja. Yang harus kamu


cari tahu, adalah seperti apa Andrian di rumah. Mari bicara antara sesama


wanita. Sesama ibu. Walaupun aku belum jadi ibu, hehe. Aku sudah menyiapkan beberapa pertanyan di rumah. Ku ambil


tisyu dan membersihkan meja lagi, membunuh waktu. Kulihat jam di layar hp. Belum bell masuk kelas.


“ Kenapa ikut ke sini, pergi ke kelasmu sana!” Sebuah suara terdengar


dari pintu langsung membuyarkan lamunanku. Sepertinya mereka  sudah


datang gumamku. Apa itu ibunya Andrian. Aku menyimak suara yang kembali terdengar.


“ Aku ikut masuk sebentar.” Itu pasti Andrian.


“ Hei bocah, sebentar lagi bell masuk.” Haaa...aku kaget dengan ucapan wanita di luar sana.


“ Aku hanya mau melindungi guruku dari Kak Mita.” Andrian lagi.


“ Apa! Memang aku mau melakukan apa!” Suara si wanita terdengar kesal. Tunggu,


kenapa Andrian memanggilnya kakak, apa bukan ibunya yang datang. Padahal aku sudah memintanya untuk memberikan surat itu pada ibunya. " Dia itu gurumu, memang aku berani melakukan apa!"


“ Yaaa, Kak Mita kan gitu.” Adu mulut.  Adu mulut. Aku yang mendengar di dalam tergelak. Mirip sekali dengan


sifat keras kepala  Ren kalau sedang


bersitegang denganku. Sampai beberapa saat belum ada ketukan pintu. Apa aku


keluar saja ya, mengagetkan mereka. Baru mau beranjak dari duduk, ketukan


pintu menahanku untuk mengangkat tubuh.


Sudah selesai rupanya.


“ Assalamualaaikum.” Pintu berderik terbuka. Pelan. Disusul dua orang yang hanya terdengar suaranya tadi. Aku melihat wali Andrian.  Lho, kok. Lho. Aku


mengenali siapa wali Andrian.


“ Mita,” ujarku masih terkejut. " Waalaikumsalam." Aku sampai lupa menjawab salam.


Hening.


Mita terlihat menatap lekat ke  arahku. Ekspresinya pasti sama sepertiku. Matanya sedikit terbelalak sambil memegang


dadanya.  Apa karena aku menyebut namanya

__ADS_1


dia jadi kaget ya. Eh,tapi kami kan belum pernah bertemu sebelumnya. Pasti dia terkejut. Mereka masih berdiri di depan pintu.


“ Kak Mita kenal dengan wali kelasku.” Andrian menarik lengan Mita. Semetara


gadis itu terlihat  mulai bisa


mengendalikan ekspresinya.


“ Tidak.” Mita mendekat pelan ke mejaku, Andrian mengekor. Dia mengulurkan tangan untuk


menjabat tanganku. Kuterima tangannya.


“ Miripnya.” Menoleh pada Andrian. Hah! Mirip siapa. Aku, mirip dengan siapa? Sekarang gadis itu kembali mengfokuskan pandangan ke arahku. Mungkin sedang melakukan analisa garis wajah. Tidak, sepertinya lebih rumit dari itu. Jarinya bergerak-gerak menghitung.


“ Mita ya?”


“ Ia bu.”  Bingung, karena di


kenali orang asing yang baru pertama kali di temui. “ Maaf, apa kita sebelumnya


pernah bertemu.” Menoleh pada Andrian. “ Mirip banget!” memukul bahu siswaku itu. Andrian seperti merasa


bangga dia berdecak. Ini mereka sedang bicara apa coba. “ Maaf bu.” Tersadar dan melihat


ke  arahku lagi.


Aku mempersilahkannya duduk dan menatap Andrian.


“ Kembalilah ke kelas, sebentar lagi bell.” Masih berdiri tidak


bergeming. Lalu bell tanda masuk memenuhi udara di sekitar sekolah. Aku menunjuk langit-langit ruangan. " Sudah masuk. Pergilah ke kelas." Aku ada pelajaran kedua nanti. Jadi tidak boleh mengulur waktu.


“ Ibu Aya bagaimana bisa kenal dengan Kak Mita.” Ah, dia menunggu ini


“ Ibu Aya!” Mita sedang memutar otak karena sepertinya mengenali namaku.


“ Hehe benar.” Aku merasa malu sendiri. Menyentuh leher. “ Aku sudah melihat foto Mita sama


Ren beberapa kali. Ingat kan?”


Harusnya aku mengabadikan wajah kagetnya Mita.


“ Tunggu, aku mau pingsan dulu.” Menjatuhkan kepala di meja. Lalu mengangkat kepala cepat. Melihatku dengan sangat antusias. “ Jadi ibu


ini Kak Ayana Wijaya, istri Senior Renan!”  Aku


mengganguk. “ Yang itu, Kak Aya yang selalu di telfon senior setiap makan siang


dengan maanja-manja.” Aku menutup mulutku yang tersenyum malu.


Mita mengeluarkan hpnya. Sibuk-sibuk.


“ Kak Aya yang ini?” Menunjukan layar hpnya padaku. Akun social mediaku.


Aku mengangguk. Dia terlihat antusias tapi sekejap berubah depresi. Sekarang dia menoleh pada


Andrian. Tatapannya seperti mau membunuh muridku.


“ Apa!” Dia belum mau masuk kelas.


“ Maaf Kak Aya, eh maaf Bu maksudnya, saya bicara sebentar dengan


Andrian.” Aku belum menjawab dia sudah menarik tangaan Andrian. Sudah di luar

__ADS_1


ruangan. Mita memegang handle pintu, sehingga daun pintu tidak menutup rapat.


Aku masih bisa mendengar suara


mereka, walaupun jauh lebih pelan dari yang tadi.


“ Kau sudah gila ya?”


“Apa!”


“ Kau sudah tahu kan, siapa suami Kak Aya.” Mita memanggiku dengan sebutan kak.


“ Tahu.”


“ Dan kau masih berani mengiriminya surat cinta. Kalau kau gila


sewajarnya saja kenapa si.”


“ Aku kan tidak bisa mencegah perasaanku.”


“ Kau pikir aku akan iba kalau kau mengatakan itu.”


“ Dasar jomblo tidak punya hati nurani, tidak tahu rasanya perasaan suka ya” Apa! masih sempat-sempatnya anak itu meledek kakaknya.


“ Aku adukan mama beneran nanti.”


“ Aku traktir Kak Mita sepulang kerja. Ambil yang Kak Mita mau di butik


yang Kak Mita tunjuk waktu itu. Kak Mita naksir baju warna biru itu kan” Aku ternganga, menemukan satu lagi karakter Andrian yang tidak pernah ditunjukannya di kelas. Dia pikir kakaknya akan terbujuk apa. " Papa baru mengirimiku uang bulanan."


“ Kau tahukan aku bukan orang yang suka mengadu." Aku mendengar suara tawa Mita." Sudah ke kelasmu sana.” Dia luluh ternyata.


Tidak lama Mita masuk lagi ke dalam ruangan. Aku mengeryit karena auranya berbeda dari yang aku lihat tadi. Dia mendekat, langsung duduk di kursinya. Tersenyum mencurigakan. Mulai memberondongku dengan pertanyaan. memanggilku Kak Aya. Hei, hei, kamu kan datang bukan sebagai temannya Ren, tapi wali dari muridku.


" Hemm. Hemm." Berdehem. " Maaf Bu saya lupa tujuan utama ke sini." Duh, benar-benar deh. Mirip dengan Andrian.


Semua pertanyaan yang sudah aku siapkan di rumah, yang ada di kertas di depanku sama sekali tidak berguna. Karena Mita menceritakan semua hal. Bahkan yang seharusnya tidak perlu aku ketahui. Semirip apa aku dengan mamanya Andrian aku tidak mau menduga-duga. Kukatakan apa yang seharusnya kusampaikan sebagai seorang guru.


Aku menyayangi semua muridku tanpa terkecuali. Di sekolah, akulah orangtua bagi mereka. Tapi, aku harus membuat batas yang jelas.


" Terimakasih ya Mita sudah cerita semuanya." Dia menggenggam tanganku sepanjang bercerita. Aku menepuk tangannya lembut.


" Maaf ya Kak Aya." Dia tidak mau memanggilku Bu. " Aku akan menasehati Andrian." Menatapku lagi. " tapi, Kak Aya memang memang mirip sama mamanya Andrian." Aku hanya tersenyum membalas perkataannya. " Bagaimana aku menghadapi senior di kantor nanti ya." Ah, aku sampai tidak kepikiran ke sana. Tapi ujungnya Ren tetap akan tahu. Dengan siapa aku bertemu hari ini.


Simpati dan rasa suka Andrian padaku hanyalah ruang kosong kerinduannya pada mamanya. Seiring bertambahnya usia aku yakin akan berubah. Aku tidak boleh merangkulnya lebih dari ini.


Masalah Andrian selesai sampai di sini. Semoga.Tapi masalahnya sekarang, gadis ceria di depanku ini. Yang seperti mendapat berkah dari langit bertemu denganku.


" Kak Aya gimana si supaya punya suami seperti senior Renan."


" Dia yang diomongin cuma Kak Aya aja."


" Aku mau punya suami seperti senior, tapi bukan senior lho. Sumpah, senior kan punya Kak Aya."


" Gak perlu sebucin senior si, setengahnya aja cukup."


" Kak Aya, Kak Aya."


" Kak Aya pernah menyelamatkan negara ya?"


Ren tolong selamatkan aku.


Bersambung

__ADS_1


Bucinnya Kak Aya nambah satu lagi ^_^


__ADS_2