Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
6. Selamat Pagi


__ADS_3

Pagi yang  syahdu. Aku bisa mendengar angin pagi yang berhembus di luar, diiringi gerimis kecil. Udara pun agak sedikit dingin dari biasanya. Apalagi ditambah dengan akhir pekan, suasana yang sangat mendukung untuk bermalas-malasan. Selesai mandi dan sholat subuh aku memilih ke dapur. Ren sudah masuk ke dalam kamar. Bergulingan dengan selimut di tempat tidur. Aku hanya mengintip dari luar, lalu kabur ke dapur.


“Kakak!”


Suamiku  memanggil. Sengaja tidak menyahut. Aku memilih memasak nasi dulu sebelum melanjutkan yang lain.


“Kakak!” Suaranya meninggi. “Kakak!”


“Apa! Aku mau masak. Tidurlah kalau mau tidur lagi.” Klik, kujentikan mesin penanak nasi ke tanda cook. Suaranya berhenti sesaat. Apa sudah menyerah dia.  Aku berjalan menuju kulkas untuk mengambil bahan makanan yang akan ku masak. Baru saja membuka kulkas.


“Kakak!” suaranya sudah berteriak, jauh lebih keras dari tadi.


“Ren kamu bisa membangunkan seluruh kompleks.” Aku setengah berteriak juga, supaya dia menyerah. Tapi, tidak semudah itu Santiago.


“Kakak!” nah benar kan.


Ku tutup pintu kulkas dan berbalik ke kamar. Aku tidak akan menang kalau dia sudah setengah berteriak seperti itu.


“Apa sayang?” Aku melongok di pintu, belum masuk. Dia meringkuk di bawah selimut.


“Dingin.” Padahal dia sudah ada di bawah selimut.


“Tarik selimutmu sampai ke leher.”  Aku masih berdiri di dekat pintu.


“Kakak.”


“Apa?”


“Mau peluk.”


“Aku mau masak sayang.” Rayuan level 2.


“Mau peluk.”


“Mau sarapan nggak?”


“Mau peluk.”


“Aku gak mau masak ya nanti.”


“Ia. Sini peluk.” Dia menyibakkan selimut. “Kita pesan sarapan aja nanti, atau aku yang masak.”


“Peluk aja ya.” Kataku sebelum mendekat ke tempat tidur.


“Ia.” Cepat Ren menjawab.


“Janji?”


“Ia, gak janji. Haha.”

__ADS_1


...***...


Suara keran kamar mandi terdengar dari luar. Ku ketuk pintu kamar mandi berulang, suara air berhenti. “ Ren aku keluar sebentar ya?”


“Kemana?” wajahnya muncul di balik pintu. Dasar nggak tahu malu. Dengan dada terbuka dan rambut dipenuhi sampo.


“Ke rumah Safina. Mamanya pasti repot, biar aku bawa main ke sini ya?” Minta persetujuannya dengan kalimat tanya.


“Jangan lama-lama.” Eh jawabannya perintah.


“Ia sayang.” Kutowel dagunya, mengalah saja. “Pergi dulu ya?”


“Jangan lama-lama.” Mengulangi lagi perintahnya, tahu kalau aku sudah main ke rumah Safina biasanya lama. Hehe, emak-emak berdiskusi tentang biaya dapur yang semakin tinggi dewasa ini, kadang tidak ada ujung pangkalnya. Selalu ada saja yang dibahas.


“Kakak!”


Apalagi anak ini! Kepalanya keluar dari pintu.


“Lepas ikat rambutmu!”


Eh, aku meraba rambutku, ia masih ku ikat dengan handuk untuk mengeringkan sehabis keramas tadi.


“Hehe, ia sayang. Lupa. Aku beresin rambut dulu ya.”


Ren membuat aturan yang melarangku mengikat rambut di luar rumah. “ Mau ditunjukan kesiapa lehermu itu. Cuma aku yang boleh melihatnya.” Aku mendebatnya waktu itu, tapi ujung-ujungnya aku tidak punya alasan untuk tidak menyetujui aturan itu.


“Assalamualaikum Mbak.”


“Waalaikumsalam Bude, sudah datang ya. Sarapan dulu Bude.”


“Ia Mbak makasih, sudah sarapan tadi. Mbak Aya mau ke mana?” ia bertanya saat melihatku memakai sandal.


“Mau ke rumah Safina Bude. Ren sedang mandi ya Bude.”


“Oh iya Mbak.”


Aku meninggalkannya di teras. Berjalan di jalanan komplek yang ramai oleh anak-anak. Mereka sedang bermain di hari libur. Mereka memanggilku, haha, aku memang populer di kompleks rumah. Mereka mengenalku sebagai tante cantik yang ramah, suka bagi-bagi mainan dan makanan.


“Besok ya mainnya om Renan sedang di rumah, tante mau ke rumah Safina dulu ya.” Mereka berdada ria dan melepaskanku pergi.


Sambil ku gendong Safina di pelukanku. Aku masuk melalui pintu samping.


“Assalamualaikum. Mana Om ganteng ya. Hallo Om Safina imut datang.” Ekor mataku menyapu ruangan. “Om ganteng sudah selesai mandi ya?” Kubawa Safina ke ruang tv. Ren sudah duduk dengan merebahkan punggungnya di bantal sofa.


Sial, dia tampan sekali. Ia, suamiku jauh terlihat tampan setelah selesai mandi. Eh tunggu, dia memegang hp. Hp. Oh hp. Aku mau hpku. “Ren coba lihat!” Aku mengendong Safina mendekat. “Imut kan, imut kan? Lucu banget ya.”kucium pipi Safina berulang.


“Yang gendong Safina lebih imut, sini kucium juga.”


“Apaan.” Cuek tidak ku terima tangannya.

__ADS_1


“Sini Om cium juga.”


“Nghak mau.” Aku meletakan Safina di atas karpet. Mengambil mainan yang kuletakan di dalam boks di lemari bawah, dan mengambil boneka yang.ku pajang berjajar di lemari kaca. Kulirik Ren setelah meletakan boneka. Eh, dia cemberut.


“Kakak aku mau dicium juga.”


“Apaan.”


“Aku mau dicium juga.”


Ini bocah cemburu. Baiklah sini, daripada berbuntut panjang aku mendekatinya. Lagi pula aku juga ingin hpku. Aku ingin merayunya agar mengizinkanku mengambil hp. Hei, hei, hentikan. Kudorong tubuhnya sambil menunjuk Safina dengan ekor mataku. Dia tidak menoleh pada kami memang, dia sibuk dengan mainannya.


“Sayang, aku boleh ambil hp ya?” Ren menyodorkan hpnya. “Hemm...hemmm” aku menggigit bibirku sambil menggelengkan kepala. Kalau ada yang mau muntah silahkan. Hahaha. Aku bergaya imut sampai taraf amit-amit. Ren tergelak lalu mencubit pipiku. Jangan lakukan ini kalau suamimu bukan bucin level dewa ya. Bisa-bisa kamu ditendang nanti. Hahaha, becanda.


“Pakai hpku, kakak cuma mau liat sosmed kan?”


“Aaaaaa, nggak mau, mau hpku sendiri.”


“Kenapa?”


Kenapa tanya, ya jawabannya aku mau hpku, titik. Apa jawab begitu saja ya. Eh, Ren sudah menyentuh rambutku. Menciumnya. Kemudian menempelkan bibir di telingaku. Dia pasti mengigit telingaku kalau jawabanku tidak ia sukai.


“Kenapa?” ulangnya.


“Malas mau login.” Aaaaa. Dia benar-benar mengigit telingaku. Aku berteriak sampai Safina menoleh. “Tuh kan Safina sampai nengok.” Aku menunjuk Safina. “Boleh ya sayang. Hemmm. Boleh ya.” Aku sudah memeluknya, lupa sudah harga diri.


“Kakak baik kalau ada maunya.”


“Haha, sayang.”


“Ambil sana!”


“Hore! Makasih sayang.” Kucium pipi dan keningnya berulang. Setelah itu berlari ke kamar.


“Safina jangan seperti tante ya, lebih senang main sama hp daripada sama kita.” Ren bicara dengan suara cukup keras, setengah berteriak bahkan. Tujuannya jelas, supaya aku mendengarnya.


“Sayang jangan bicara yang tidak-tidak sama anak kecil!” ikut berteriak juga aku dari kamar. Kuambil hp lalu menghidupkannya, sambil duduk di atas tempat tidur.


“Safina om dimarahi tante. Hiks, hiks. Kita main berdua aja yuk.”


Bersambung...


“ Hallo aku LaSheira terimakasih atas dukungan kalian,


tolong terus dukung Ren dan kakak Ayana ya. Tap favorit supaya kalian gak


ketinggalan kelanjutan keseharian mereka. Sekali lagi terimakasih banyak,


semoga kalian terhibur dan jangan lupa selalu bahagia. @LaSheira”

__ADS_1


__ADS_2