Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Cerita 2 tahun lalu (Part 4 end)


__ADS_3

Pagi hari dihari minggu, aku belum mandi,  baru saja membereskan kamar dan keluar kamar setelahnya. saat mendengar ketukan pintu aku berjalan membukakan pintu.


“ Kenapa kamu disini?” aku


mematung setelah membukakan pintu. Ren berdiri di luar pintu dengan senyum


ceriah dan wajah tampannya. Sementara aku, aku ingin menutup pintu lagi tapi


dia sudah menahan dengan kakinya.


“ Hehe, kakak belum mandi ya.”


Boleh aku tenggelam ke dasar bumi sekarang.


“ Kenapa kamu disini, kitakan gak janjian.”


“ Memang, hari ini memang gak mau


ketemu kakak kok. Aku mengantar mama mau bertamu ke rumah teman lamanya.” Dari


halaman muncul seorang wanita yang luar biasa cantiknya. Begitu aku


menyebutnya. Mamanya Ren cantik banget. Aku langsung mengusap bibirku. Jadi ini


kenapa kamu bisa punya wajah begitu, garis keturunan kalian bibit unggung ya.


“ Ayana ya.” Mama Ren menghambur


langsung memelukku. Hei, hei, ada apa ini. Aku bertanya dengan sorot mataku


bingung. Ren hanya mengangkat bahu. “ Senangnya bisa ketemu  menantu mama.”


Hei tunggu, sejak kapan aku sudah


jadi menantu, akukan masih jadi calon menantu. Kenapa ibu dan anak bisa punya


kebiasaan bicara dan memutuskan sesuatu seenaknya.


“ Ayo masuk, mana ibumu.” Setelah memelukku


erat, mama Ren menarikku masuk seperti ini rumahnya. “ Renan turunkan


barang-barang di mobil ya.”


Sebentar, sebentar, apa-apaan si ini.


***


Aku keluar dari kamar setelah mandi


dan merias wajah. Aku tidak mau berdandan terlalu mencolok atau apa, jadi aku


hanya mengusapkan bedak tipis di wajahku.


“ Ya Tuhan menantu mama memang cantik sekali ya.”


Mama Ren kembali memeluku. Aku sebenarnya


bingung harus bersikap bagaimana jadi aku hanya tertawa saja. Ibu juga cuma nyengir


saja melihat kelakuan teman lamanya. Sepertinya dia sudah terbiasa, ungkapan


soulmate forever sepertinya benar-benar nyata. Aku mengedarkan pandangan


mencari Ren.


“ Cari Renan ya, dia sedang di luar,


susul sana. Mama sama ibu kamu mau siapkan makanan.”

__ADS_1


“ Eh ia tante.”


“ Kok panggil tante, panggil aja mama. “


Kepalaku berdenyut, sepertinya


selain kesempurnaan fisik dalam darah mereka mengalir gen seenaknya ya. Aku angkat


tangan menghadapi mama Ren, jadi aku memilih ke luar rumah. Di teras Ayah, Haikal


dan Ren sedang duduk berbincang. Apa ya yang diobrolin para lelaki ini.


“ Kakak sudah selesai mandi?” Haikal tahu kemunculanku.


“ Hemm.”


“ Duduklah sini.” Ren menepuk kursi


di sebelahnya yang kosong. Aku menurut dan duduk di sampingnya.


Ayah bangun dari duduk tanpa


aba-aba, Haikal menyusul meliriku seperti dia melakukan hal terpuji. “ Dek mau


kemana kamu? Ayah juga mau kemana.”


“ Mau maen game.” Jawab Haikal tidak perduli.


“ Mau nonton tv.” Jawab Ayah sama tidak masuk akalnya.


Akhirnya tertinggalah kami berdua. Aku


ataupun Ren masih terdiam, aku memilih menatap bunga dan pohon di halaman


rumah. Menyisir daun-daun hijau yang memberi nuansa kesejukan dan kesegaran di


rumah ini.


“ Sengaja.” Tertawa Ren menjawab. “Mau lihat wajah kaget kakak.” Anak ini ya. “ Bagaimana?” dia melanjutkan pertannyaanya.


“ Apa?”


“ Kakak sudah memantapkan hati.”


“ Jangan bertanya ya, akukan sudah janji akan memberi jawaban lusa.” kataku masih menatap rerumputan dan tidak memandangnya.


“ Tapi aku sudah setengah mati


penasaran lho. Apalagi mama, lihat hari ini saja dia memaksaku mengantarnya


kesini. Sebenarnya gak dipaksa aku juga ingin kesini, bertemu kakak. Kangen.”


“ Hei!”


“ Ayana apa boleh aku melihat kamarmu?” sudah memanggilku dengan nama, nada suaranya serius sekali lagi.


“ Tidak!” aku setengah berteriak,


bicara tegas sekaligus kaget. Mau apalagi dia, melihat kamarku.


“ Pelit!”


Apa, dia bilang apa. Pelit, bodo


amat, aku tidak akan menunjukan kamarku. Lagian kamarku sedang dalam kondisi


tidak sempurna. Alias berantakan, bagaimana aku menujukannya padanya. Kalau dia


melihat kamarku yang kacau balau dia jadi berfikir aneh tentangku bagaimana. Lebih

__ADS_1


lagi kalau dia jadi mengurungkan niatnya menikahiku bagaimana. Eh, barusan apa


yang aku pikirkan. Sudah seyakin itu ternyata hatiku ya.


“ Ren kedepannya apa yang ingin kamu lakukan setelah menikah?”


“ Mencintai kakak.”


“ Hei, aku serius.” bisa ya dia menjawab begitu, tapi ntah kenapa jawabannya itu mengemaskan dan menyentuh hatiku. Bahkan sampai bagian yang paling dalam. Tempatku yang mulai sedikit demi sedikit mengukir namanya disana.


“ Memang bagian mana dari kata-kataku yang kakak anggap bercanda.”


Aku menatapnya, kenapa sorot mata


itu menunjukan kejujuran. Hei, memang sesederhana itu ya jalan pikiranmu. Ya memang


si, kita menikah untuk saling mencintai dan meraih kebahagiaan.


“ Kita akan menjalani kehidupan


kita seperti biasa, aku bekerja, kakak juga begitu. Yang berbeda adalah kita


melakukannya dengan saling menguatkan dan mencintai. Benarkan?”


Wahh, bisa serius juga kamu.


“ Aku kerenkan, hehe.”


Aku tergelak saat lagi-lagi dia


mengatakan itu. Ya kamu keren dan mengemaskan sekaligus, membuatku tidak bisa


menolak pesonamu.


***


Seperti itulah kami bertemu, saling


meyakinkan diri bahwa ini adalah ikatan yang dibuat Tuhan untuk mempertemukan


kami. Aku lupa, bahkan nyaris tidak pernah memikirkan jarak usia kami. Keluarga


tidak mengungkitnya. Mas Gilang yang pulang dari luar kota membantuku


meyakinkan sekerat hati ini.


"Inilah jodohmu Aya. Berterimakasihlah pada Allah


karena mempertemukanmu dengan jalan seperti ini, jagalah prosesnya sampai kau


hahal untuknya." Begitu mas Gilang mengatakannya.


Laki-laki yang menyanyangiku dengan


tulus itu memelukku. Tidak tahu apa yang sudah membuatnya seyakin itu dengan


kata-katanya. Karena hari sebelumnya sebelum kedatangannya dia masih bicara


agar aku jangan mentautkan hati terlebih dahulu. Tunggu mas pulang, walaupun


ibu dan ayah mendukung pernikahan kalian, tapi kalau mas merasa dia tidak


pantas untukmu mas akan mencegahnya. Aku sudah seperti mendengar ancaman. Tapi tidak


tahu apa yang membuatnya mengenggam tanganku dan mengatakan. “ Menikahlah


dengannya, mas percaya dia bisa menjaga dan mencintaimu dengan cara yang


istimewa.”

__ADS_1


BERSAMBUNG.............


__ADS_2