
Panti yang kami pilih dari sekian banyak panti di kota kami. Kapasitas
tempat ini cukup lumayan besar, dengan fasilitas cukup mumpuni. Tidak terlalu
wah, sederhana, namun terawat dan bersih. Para pengurus di panti bekerja dengan
sepenuh hati. Baik mengurus fasilitas ataupun memperlakukan anak-anak. Aku benar-benar jatuh hati dengan sikap
mereka, padahal nyata-nyata anak-anak di tempat ini bukan darah daging mereka.
Suara teriakan dari arah lapangan. Bisa kulihat di kejauhan, semakin aku dan ibu kepala panti
berjalan mendekat semakin keras suara terdengar. Bahkan ekspresi wajah mereka
sudah terlihat dengan jelas. Peluh sudah terlihat membanjir dan membasahi
pakaian. Untung saja matahari cukup bersahabat. Setidaknya mengurangi tetesan
keringat di dahi mereka.
“ Om Renan! Ayo dong kenapa lemas begitu!” teriak seorang anak
memprovokasi harga diri Ren. Padahal mereka sudah sama-sama kelelahan. Tapi anak-anak selalu punya energi ekstra. “ Masak kalah sama kita yang anak-anak.” Kata-kata
yang ditujukan kepada Ren semakin terdengar jelas menodai harga dirinya. Kalau denganku dia pasti sudah melemparkan
barang yang dia pegang. Lalu memasang wajah kesal sekaligus mengemaskan.
Aaaaa, aku benar-benar fans setia Ren sepertinya. Dalam wujud apa pun dia terlihat mengemaskan.
“ Hei jaga bicara kalian ya. Kalian tidak lihat!” berteriak sambil
menunjuk satu persatu pemain yang di lawannya. “ Apa adil lima lawan tiga.
Kalian dari awal sudah main curang,” teriaknya
lagi. Wajahnya menyiratkan tidak mau mengalah. Sambil menendang bola di dekat
kaki pada pemain satu timnya.
Padahal ya memang begitu biasanya, mereka membentuk tim tidak berimbang.
Karena jumlah anak laki-laki yang lebih sedikit. Team yang lain menjadi pedukung. Mendukung siapa, tentu saja Ren. Karena
yang lain adalah para wanita. Mereka menjadi penyemangat di pinggir lapangan.
Bersorak baik untuk kemenangan atau kekalahan om Renan. Bagi mereka tidak penting. Yang utama bersorak untuk Ren.
“ Om Renan kan sudah gede. Masak gak mau ngalah sama anak-anak.”
Dasar kalian! Aku melihat arti sorot mata Ren membara. Tadi bilangnya kalah sama anak-anak,
terus lanjutannya kenapa tidak mau
mengalah dengan anak-anak. Sekali lagi mereka menang dari Ren.
__ADS_1
“ Sudah, aku menyerah. Kalian mau apa?” Melemparkan bola tanda menyerah.
“ Hore!” tidak perduli keringat satu sama lain, mereka berpelukan dan
bersorak gembira. Lelah di wajah Ren juga menguap. Lari dan pergi, berganti
tawa juga. Tim pengembira juga bersorak riang. Mereka mendapatkan apa yang mereka mau sebagai hadiah kemenangan mereka.
Semua berkerumun mengelilingi Ren, duduk melingkar dengan tertib.
Lalu satu persatu mereka bicara. Berceloteh tentang apa yang mereka inginkan. Ren menyimak.
Aku dan ibu kepala sengaja hanya duduk di pinggir lapangan memperhatikan
mereka. Membiarkan Ren menangani anak-anak. Kalau separuh saja sikap dewasamu itu muncul saat bersamaku.
Ah, tapi ntah kenapa Ren yang sekarang kulihat tetap sama mengemaskannya.Walaupun dia terlihat dewasa.
“ Mas Renan memang lucu ya Mbak Aya. Dia selalu kesal tapi pada
akhirnya selalu mengalah pada anak-anak”
" Haha. Ia Bu."
" Tapi kalo di dekat Mbak Aya, Mas Renan bisa manja kayak anak kecil gitu ya."
Haha, aku harus menjawab apa ini. Tolong!
Kapan ya Ren bersikap dewasa saat di sampingku?
Aku sedang menggendong Safina di sore yang damai. Mama Safina sedang ada
di dalam mengurus ke dua anaknya untuk mandi. Karena kalau tidak ditunggui,
kedua anak itu akan selalu punya caranya sendiri melakukaan perang air di
kamar mandi. Tidak tahu kenapa, anak-anak selalu senang bermain air.
“ Mbak Aya, minta tolong sebentar ya.” Keramaian dua anak terdengar
bahkan sampai halaman, bersahutan, menimpali suara mbak Ayu.
“ Ia Mbak gak papa, selesaikaan saja. Aku lagi gak ada kerjaan kok.”
Balasku setengah berteriak. Kalau di rumah paling aku hanya menonton drama. Ren belum pulang juga.
“ Ehemm.” Suara deheman dari belakangku mengagetkanku. Apalagi saat aku
menoleh ternyata Ren sudah memegang gerbang, membuka dan menutup dengan
taangannya. Pantas aku mendengar suara
berderik pelan tadi. Tapi aku tidak mengubrisnya.
“ Haha.” Ntah kenapa aku tertawa, aku sendiri tidak tahu, kenapa reaksiku tertawa saat melihat
__ADS_1
wajah Ren yang cemberut. “ Kenapa?” pura-pura polos lagi, padahal aku tahu kenapa dia berwajah masam begitu..
“ Padahal aku sudah lima menit di sini, tapi kakak tidak merasakan
keberadaanku ya.” Sedih campur protes.
Hah! Apa! Protes apa kamu, tidak jelas. Aku kan sedang main sama Safina
tadi. Dan posisiku ada di depanmu.
“ Kadar cinta kakak memang hanya selebar daun kelor ya.” Protesnya semakin menjadi, dengan memasang bola mata yang mulai berkaca.
Gila ya! aku seperti sedang melihat idol kesukaan Kirana membuat gaya pura-pura marah dengan tampang imut. Mereka kan idol, semua gayanya selalu cute dan mengemaskan. Tapi inikan suamiku sendiri, dan parahnya aku terkapar dengan pesonanya.
“ Hei, apa-apaan coba.” Aku mendekatinya, masih menggendong Safina. Ren tidak mau masuk ke halaman rumah Safina.“ Akukan duduk membelakangimu, mana aku tahu kamu datang. Lagian gak
bersuara.” Masak bawa-bawa cinta selebar daun kelor segala.
“ Memang tidak dengar ini.” Daun pintu gerbang berderik saat tangannya
membuka dan menutup. " Memang kakak tidak merasakan aura orang yang kakak cintai."
Memang aku pembaca aura. Aku terpingkal mendengar penjelasan Ren.Tapi langsung menutup mulutku, melihat wajah kesalnya.
“ Dengar si, tapi aku pikir angin. Fina, sapa Om Renan tu,baru pulang
ya Om.” Aku menoel dagunya.
“Jangan memakai anak kecil untuk merayuku.”
Idih, dia tahu aja strategiku.
" Ia,ia maaf. Besok lagi, aku akan merasakan keberadaan Ren bahkan di radius satu juta kilo meter." Cintaku sudah seluas samudra itu. Lagian apaan coba, itukan hanya ada di drama. Merasakan aura orang yang dicintai.
" Kakak!"
Eh kemana itu aura sok dewasa orang yang duduk di tengah lapangan tadi.
" Panas! Haus!" Dia mengibaskan rambutnya. Langsung duduk menempel ingin aku ikut merasakan penderitaannya. Ibu kepala sudah menyingkir ketika Ren mendekat, memanggil anak-anak untuk membersihkan diri karena sebentar lagi makan siang.
Selagi dia minum aku membersihkan keringat di pipi dan lehernya dengan handuk kecil.
" Kenapa tidak bergabung tadi, malah menonton dari sini," ucapnya sambil menyandarkan kepala.
" Tegakan kepalamu, aku masih membersihkan keringat di lehermu."
" Tidak mau." Malah semakin menempel erat.
" Memang tahu kapan aku datang?" Karena sepertinya tadi dia tidak terlihat melirikku sama sekali.
" Memang kakak pikir cintaku selebar daun kelor, sampai tidak merasakan kehadiran kakak." Ucapnya sambil mencium leherku.
Aaaaa, kenapa kamu bawa-bawa daun kelor lagi si, salah itu daun apa coba.
Panggilan dari ibu kepala untuk ikut makan siang membuatku tidak bisa membantah kata-kata Ren.
__ADS_1
Bersambung