
Cinta mereka terjalin setelah pernikahan. Mas Gilang meraih tangan
istrinya setelah menjabat erat tangan mertuanya melalui akad ijab qobul.
Disaksikan semua wali, para tetamu dan kerabat. Mereka merayakan jatuh cinta
hari itu. Malu-malu menyibak kerudung di malam pertama mereka. Mungkin
terdengar mustahil, tapi kedua pasangan itu melewati takdir pertemuan mereka
dengan indah. Membuat semua orang yang mengenal mereka iri dengan proses
pernikahan mereka.
Itulah kakak laki-laki Ayana. Karena sibuk mengurus ketiga adiknya, dia
tidak pernah terlibat hubungan apa pun dengan perempuan sebelum dia menikah.
Jomblo sejati.
Pekerja keras, pejuang nafkah keluarga.
Sore hari seperti biasa, para pekerja kantoran akan menutup aktivitas
dengan antrian absent pulang kerja.
Setelah merampungkan semua pekerjaan hari ini, Mas Gilang mulai membereskan meja. Merapikan
lembaran draff memasukannya ke dalam laci. Menjawab beberapa salam sesama teman
kantor yang sudah selesai berkemas. Meraih hpnya kemudian.
“ Hallo Dek Assalamualaikum, Mas udah mau pulang. Mau di belin sesuatu
nggak?” Mendengarkan sambil menempelkan hp yang ia kapit di bahunya. Tangannya
masih mematikan komputer. “ Baiklah.
Waalaikumsalam.”
Mengemaskan banget si istriku, bilangnya terserah, terserah aja.
Membayangkan wajah istrinya sesaat, lalu beranjak. Lelahnya belum
selesai hari ini. Jalanan padat sebentar lagi akan ditemui.
Wahh ternyata antri ya. Mas Gilang bergumam ketika turun dari motor. Ada
beberapa orang yang sedang duduk menunggu sambil memainkan hp masing-masing. Dilihatnya jam
tangan, sepertiya masih terkejar sholat magrib di rumah walaupun dia menunggu
antrian. Mas Gilang menuliskan pesanannya lalu menyodorkan kertas
yang kemudian di tempelkan asisten penjual di depan deretan pesanan.
__ADS_1
Meraih kursi plastik dan ikut menikmati keramain jalanan. Wajah lelah
para pencari nafkah yang sebentar lagi tergantikan senyuman saat langkah kaki
mereka di sambut pasangan tercinta. Atau tawa anak-anak yang berlarian berembut
untuk cium tangan. Seketika sebanyak apa pun lelah pasti akan menguap. Karena
yang menunggu di rumahlah alasan para pejuang nafkah keluarga bekerja keras.
Hp yang dipegangnya berdering.
“ Assalamualaikum, apa kabar Mas?” Suara di sebrang menyambut dengan ceria.
“ Waalaikumsalam. Alhamdulillah, kamu gimana? Kuliah lancar? Semua sehat
kan?” Mas Gilang menyahut, sambil bangun dari duduk. Menjauh dari antrian
pembeli. Memilih duduk di motornya yang terparkir. Sambil menatap jalanan yang semakin ramai.
“ Alhamdulillah Mas semua sehat,
kecuali dompetnya Haikal.” Tekekeh tidak tahu malu.
“ Haha.” Pantas saja sore-sore begini menelfon, biasanyaa Haikal hanya
suka berkirim pesan dengan Mas Gilang. “ Kenapa?” Sudah tahu ujung pembicaraan Haikal ke mana.
“ Mau memenuhi janji sama Kirana Mas, nemenin dia nonton konser idolanya.” Haikal melanjutkan.
“ Terus?” Apa hubungannya
Haikal bergumam-gumam.
“ Apa?” Mas Gilang memancing lagi.
“ Tiketnya mahal banget Mas!” Terdengar nestapa. “ Tabungan Haikal
ludes seketika Mas, udah gitu Ki minta beliin souvenir original lagi.” Merengek semakin tidak tahu malu. “ Haikal sudah janji. Hiks.”
“ Kapan konsernya?”
“ Bulan depan. Tapi tiketnya besok mulai penjualannya. Mas Gilang traktir tiketnya aja deh, biar aku yang beli souvenirnya.”
“ Ya udah jangan lupa sholat ya nanti pas nonton konser. Jangan ninggalin
sholat gara-gara nonton konser.”
“ Siap Mas. Makasih ya Mas." Masih batuk berdehem, belum mengakhiri panggilan. " Sayang Mas Gilang yang baik hati,” ujar Haikal lagi.
“ Banyak maunya apa lagi?”
“ Hehe. Mas memang yang terbaik.”
“ Sudah mau apa lagi?”
__ADS_1
Kalau Haikal sudah muji-muji pasti ujungnya ada maunya. Mas Gilang menutup hp dengan senyuman mendengar permintaan Haikal yang terakhir.
Tepat sebelum magrib sampai di rumah.
Istri tercinta membukaa pintu setelah terdengar suara gerbang tertutup.
Anak-anak langsung berlarian menyabut ayah mereka.
“ Martabak ya. Mas memang yang terbaik deh, tadi aku memang pengen martabak.” Tertawa senang sambil meraih
plastik di tangan Mas Gilang. Setelah itu mencium tangan suaminya. Mas Gilang sudah meraih si bungsu dalam pelukannya. Mendaratkan ciuman dan mendengar celoteh anak-anak. Masuk ke dalam rumah.
Nahkan gemes kan, tadi bilangnya terserah-terserah, padahal lagi pengen martabak.
“ Mas percaya gak kalau aku lagi pengen sesuatu cuma memikirkannya aja
tau-tau mas pulang bawain.” Sang istri tersenyum malu.
“ Itukan karena kita sehati.”
“ Ayah, ayah mau cium juga. “ Si bungsu di gendongan iri melihat ibunya dicium.
“ Ia, sini,sini semua dapat ciuman dari Ayah.”
***
Mas Gilang keluar dari kamar setelah anak-anak pulas tertidur. Di dekap cerita pengantar tidur. Ciuman di kening, dan tepukan bangga telah menjadi anak yang baik hari ini. Dia mendapati istrinya sedang tiduran di karpet di depan tv. Bermain dengan hp.
" Anak-anak sudah tidur Mas?" Saat melihat suaminya mendekat. Laki-laki itu mengangguk dan tersenyum. Lalu ikut duduk di sebelah istrinya. Meraih jemari
istrinya yang sudah meletakan hp yang dia pegang tadi. Memainkannya satu persatu. Menekan kuku-kuku lalu mencium tangan itu.
Tangan ini sudah bekerja keras seharian ini.
Diletakan tangan itu di pipinya. Membuat wajah istrinya merona.
“ Mas cape ya?”
“ Kamu kan lebih cape.” Mencium punggung tangan yang masih menempel
di pipi. “ Tangan ini pasti lelah kan sudah bekerja seharian.” Sekali lagi mencium setiap sudut tangan istrinya. "Ini karena sudah merawat anak-anak dengan baik." Meraih kedua tangan istrinya. Menciuminya lagi. " Ini karena sudah menyiapkan bekal paling enak setiap hari untukku."
" Aaaa, Mas Gilang apa si, buat orang malu aja." Tapi moment saat Mas Gilang menyentuh jari-jarinya, menciumnya. Selalu membuat hatinya bergetar dan bahagia. " Besok Mas mau bekal makan siang apa? aww!"
" Sakit ya. Hehe." Mendongak sementara jemari istrinya masih menempel di bibir. Tertawa setelahnya.
" Apa si, gigit-gigit."
" Abis kamu mengemaskan."
" Aww, aww."
Begitulah kedua pasangan suami istri ini menjaga cinta mereka. Berbagi tawa setelah di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Bercerita seharian mereka melakukan apa. Hal-hal sepela, namun membuat ikatan hati di antara mereka tak memudar. Walaupun semakin banyaknya bilangan angka saat perayaan ulang tahun pernikahan mereka.
Bersambung....
__ADS_1
Mas Gilang ^^
Sayang kalau cuma aku yang tahu kisah ini, hehe ^^