Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Side Story ( Menjaga Cinta)


__ADS_3

Cinta mereka terjalin setelah pernikahan. Mas Gilang meraih tangan


istrinya setelah menjabat erat tangan mertuanya melalui akad ijab qobul.


Disaksikan semua wali, para tetamu dan kerabat. Mereka merayakan jatuh cinta


hari itu. Malu-malu menyibak kerudung di malam pertama mereka. Mungkin


terdengar mustahil, tapi kedua pasangan itu melewati takdir pertemuan mereka


dengan indah. Membuat semua orang yang mengenal mereka iri dengan proses


pernikahan mereka.


Itulah kakak laki-laki Ayana. Karena sibuk mengurus ketiga adiknya, dia


tidak pernah terlibat hubungan apa pun dengan perempuan sebelum dia menikah.


Jomblo sejati.


Pekerja keras, pejuang nafkah keluarga.


Sore hari seperti biasa, para pekerja kantoran akan menutup aktivitas


dengan antrian absent pulang kerja.


Setelah merampungkan semua pekerjaan hari ini,  Mas Gilang mulai membereskan meja. Merapikan


lembaran draff memasukannya ke dalam laci. Menjawab beberapa salam sesama teman


kantor yang sudah selesai berkemas. Meraih hpnya kemudian.


“ Hallo Dek Assalamualaikum, Mas udah mau pulang. Mau di belin sesuatu


nggak?” Mendengarkan sambil menempelkan hp yang ia kapit di bahunya. Tangannya


masih mematikan komputer. “  Baiklah.


Waalaikumsalam.”


Mengemaskan banget si istriku, bilangnya terserah, terserah aja.


Membayangkan wajah istrinya sesaat, lalu beranjak. Lelahnya belum


selesai hari ini. Jalanan padat sebentar lagi akan ditemui.


Wahh ternyata antri ya. Mas Gilang bergumam ketika turun dari motor. Ada


beberapa orang yang sedang duduk menunggu sambil memainkan hp masing-masing. Dilihatnya jam


tangan, sepertiya masih terkejar sholat magrib di rumah walaupun dia menunggu


antrian.  Mas Gilang  menuliskan pesanannya lalu menyodorkan kertas


yang kemudian di tempelkan asisten penjual di depan deretan pesanan.

__ADS_1


Meraih kursi plastik dan ikut menikmati keramain jalanan. Wajah lelah


para pencari nafkah yang sebentar lagi tergantikan senyuman saat langkah kaki


mereka di sambut pasangan tercinta. Atau tawa anak-anak yang berlarian berembut


untuk cium tangan. Seketika sebanyak apa pun lelah pasti akan menguap. Karena


yang menunggu di rumahlah alasan para pejuang nafkah keluarga bekerja keras.


Hp yang dipegangnya berdering.


“ Assalamualaikum, apa kabar Mas?” Suara di sebrang menyambut dengan ceria.


“ Waalaikumsalam. Alhamdulillah, kamu gimana? Kuliah lancar? Semua sehat


kan?” Mas Gilang menyahut, sambil bangun dari duduk. Menjauh dari antrian


pembeli. Memilih duduk di motornya yang terparkir. Sambil menatap jalanan yang semakin ramai.


“ Alhamdulillah Mas  semua sehat,


kecuali dompetnya Haikal.” Tekekeh tidak tahu malu.


“ Haha.” Pantas saja sore-sore begini menelfon, biasanyaa Haikal hanya


suka berkirim pesan dengan Mas Gilang. “ Kenapa?” Sudah tahu ujung pembicaraan Haikal ke mana.


“ Mau memenuhi janji sama Kirana Mas,  nemenin dia nonton konser idolanya.” Haikal melanjutkan.


“ Terus?”  Apa hubungannya


Haikal bergumam-gumam.


“ Apa?”  Mas Gilang memancing lagi.


“ Tiketnya mahal banget Mas!” Terdengar nestapa. “ Tabungan Haikal


ludes seketika Mas, udah gitu Ki minta beliin souvenir original lagi.” Merengek semakin tidak tahu malu. “ Haikal sudah janji. Hiks.”


“ Kapan konsernya?”


“ Bulan depan. Tapi tiketnya besok mulai penjualannya. Mas Gilang traktir tiketnya aja deh, biar aku yang beli souvenirnya.”


“ Ya udah jangan lupa sholat ya nanti pas nonton konser. Jangan ninggalin


sholat gara-gara nonton konser.”


“ Siap  Mas. Makasih ya Mas." Masih batuk berdehem, belum mengakhiri panggilan. " Sayang Mas Gilang yang baik hati,” ujar Haikal lagi.


“ Banyak maunya apa lagi?”


“ Hehe.  Mas memang yang terbaik.”


“ Sudah mau apa lagi?”

__ADS_1


Kalau Haikal sudah muji-muji pasti ujungnya ada maunya. Mas  Gilang menutup hp dengan senyuman mendengar permintaan Haikal yang terakhir.


Tepat sebelum magrib sampai di rumah.


Istri tercinta membukaa pintu setelah terdengar suara gerbang tertutup.


Anak-anak langsung berlarian menyabut ayah mereka.


“ Martabak ya. Mas memang yang terbaik  deh, tadi aku memang pengen martabak.” Tertawa senang sambil meraih


plastik di tangan Mas Gilang. Setelah itu mencium tangan suaminya.  Mas Gilang sudah meraih si bungsu dalam pelukannya. Mendaratkan ciuman dan mendengar celoteh anak-anak. Masuk ke dalam rumah.


Nahkan gemes kan, tadi bilangnya terserah-terserah, padahal lagi pengen martabak.


“ Mas percaya gak kalau aku lagi pengen sesuatu cuma memikirkannya aja


tau-tau mas pulang bawain.” Sang istri tersenyum malu.


“ Itukan karena kita sehati.”


“ Ayah, ayah mau cium juga. “ Si bungsu di gendongan iri melihat ibunya dicium.


“ Ia, sini,sini semua dapat ciuman dari Ayah.”


***


Mas Gilang keluar dari kamar setelah anak-anak pulas tertidur. Di dekap cerita pengantar tidur. Ciuman di kening, dan tepukan bangga telah menjadi anak yang baik hari ini. Dia mendapati istrinya sedang tiduran di karpet di depan tv. Bermain dengan hp.


" Anak-anak sudah tidur Mas?" Saat melihat suaminya mendekat. Laki-laki itu mengangguk dan tersenyum. Lalu ikut duduk di sebelah istrinya. Meraih jemari


istrinya yang sudah meletakan hp yang dia pegang tadi.  Memainkannya satu persatu. Menekan kuku-kuku lalu mencium tangan itu.


Tangan ini sudah bekerja keras seharian ini.


Diletakan tangan itu di pipinya.  Membuat wajah istrinya merona.


“ Mas cape ya?”


“ Kamu kan lebih cape.” Mencium punggung tangan yang masih menempel


di pipi. “ Tangan ini pasti lelah kan sudah bekerja seharian.” Sekali lagi mencium setiap sudut tangan istrinya. "Ini karena sudah merawat anak-anak dengan baik." Meraih kedua tangan istrinya. Menciuminya lagi. " Ini karena sudah menyiapkan bekal paling enak setiap hari untukku."


" Aaaa, Mas Gilang apa si, buat orang malu aja." Tapi moment saat Mas Gilang menyentuh jari-jarinya, menciumnya. Selalu membuat hatinya bergetar dan bahagia. " Besok Mas mau bekal makan siang apa? aww!"


" Sakit ya. Hehe." Mendongak sementara jemari istrinya masih menempel di bibir. Tertawa setelahnya.


" Apa si, gigit-gigit."


" Abis kamu mengemaskan."


" Aww, aww."


Begitulah kedua pasangan suami istri ini menjaga cinta mereka. Berbagi tawa setelah di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Bercerita seharian mereka melakukan apa. Hal-hal sepela, namun membuat ikatan hati di antara mereka tak memudar. Walaupun semakin banyaknya bilangan angka saat perayaan ulang tahun pernikahan mereka.


Bersambung....

__ADS_1


Mas Gilang ^^


Sayang kalau cuma aku yang tahu kisah ini, hehe ^^


__ADS_2