
Ketika mobil baru saja melewati gerbang, dari kejauhan anak-anak sudah
terlihat. Tawa mereka sudah terdengar memenuhi udara, kebahagiaan di wajah
mereka sudah terpancar. Aku bisa melihat mereka tertawa sambil menunjuk mobil
kami yang menepi di area parkir.
“ Sayang.” Aku meraih tangan yang masih menempel di kemudi. “ Mereka
pasti sudah menunggumu.” Ren tertawa penuh makna. Aku sendiri sudah tahu apa
yang dia pikirkan. Rutinitas tidak terjadwal yang kami lakukan di tepat ini
selalu memberi warna berbeda dalam hidup kami. Mengajarkan banyak makna
kehidupan. Tentang bersyukur, tentang berbagi, tentang mencintai sesama
manusia. Bagi Ren tentang arti menjadi dewasa.
Aku akan tersenyum sepanjang pulang nanti, melihatnya kehabisan energi.
“Om Renan!” teriakan dari anak-anak memanggil nama Ren. Disusul namaku bersahutan.
Beberapa anak lompat-lompat sambil membawa bola basket dan bola kaki. Aku
sangat mengenal kedua anak itu, sepanjaang jalan pulang Ren akan mengatakan
merepotkannya mengurus dua bocah itu. Tapi dia bukan kesal atau marah, namun
terpancar kebahagiaan tersendiri di matanya.
Aku memeluk ibu kepala yayasan dengan hangat. Dua orang pengurus panti
mengeluarkan apa yang kami bawa dari mobil. Anak-anak sudah tertawa riang
menunggu hadiah mereka. Aneka camilan di simpan setelah makan siang nanti.
“ Apa kabarnya Bu? Anak-anak juga bagaimana kabarnya?” tanyaku sambil
menggandeng tangannya menuju ruangan yang disulap menjadi kantor di dalam rumah
panti. Sementara teriakan anak-anak terdengar sampai ke dalam.
Celotehan mereka tentang hadiah yang kami bawa terdengar sampai di
dalam ruangan di mana aku sekarang berada. Aku menyerahkan amplop yang sudah
kusiapkan tadi. Ibu kepala yayasan menepuk tanganku berkali-kali.
“ Terimakasih Mbak Aya.”
__ADS_1
“ Sama-sama Bu, ini juga tidak seberapa.”
Obrolan kami berlanjut dengan penjelasan ibu kepala panti tentang perkembangan
anak-anak. Aku hampir bisa menghafal nama-nama anak yang ada. Ada dua anak baru
yang baru seminggu masuk. Sudah mau kelas enam SD. Mereka harus tinggal di panti
karena telah kehilangan kedua orang tua. Dia bercerita banyak hal, aku menyimak dan sesekali menjawab apa yang ditanyakannya.
Dalam hati aku mengucap banyak syukur dengan keadaanku.
“ Gimana Mbak Aya, sudah ada tanda-tanda hamil?” Kehamilanku adalah
kabar yang ditunggu bahkan oleh orang luar di keluarga inti. Aku hanya tertawa kecil menanggapi sambil
menggelengkan kepala. Jawaban itu sudah cukup, kuberikan pada siapa pun yang menanyakannya.
“Kakak!” Ren muncul dari balik pintu, dengan wajah cerah. “ Aku ke lapangan bola ya, main sama
anak-anak.” Melihatku duduk berhadapan dengan ibu kepala panti, dia mengurungkan niatnya untuk pergi. Malah menghampiri
kami, duduk menempel di sampingku sambil melingkarkan tangannya.
“ Kalian bicara apa? Membahasku ya.” Dia menempelkan kepalanya di
bahuku. Curiga. Berbisik dengan suara pelan. Aku menengok dan memamerkan senyum. Dalam artian kami tidak membahasmu sama sekali. " Bohong! mau kucium supaya jujur." Senyumanku tidak mempan.
Idih anak ini, tidak tahu tempat. Sudah sana, katanya mau main bola.
“Gak papa Mas Renan, hanya membahas Mbak Aya sudah mulai ngidam apa belum.”
Ren langsung bangun dari duduk, setelah ibu kepala selesai bicara.
“ Aku mau main bola sama anak-anak.” Dasar, dia pasti malas membahas hal
itu lagi. Setiap datang kemari, ibu kepala memang tidak pernah bosan menanyakannya.
Sebenarnya aku paham, itu bentuk keperdulian dan doanya untuk rumah tangga
kami. Tapi Ren sudah jengah mendengarnya. Karena dia tidak pernah mendapat tuntutan dari keluarga besar kami,
mendengar orang lain menanyakan ini dan itu tentang hidup dan rumah tangga kami
membuatnya kesal sendiri.
Seperti itu terkadang hidup. Orang lain merasa paling tahu kehidupan
kita. Percaya tidak, kalau masa kanak-kanak pertanyaan yang akan muncul
biasanya adalah adek sudah makan atau belum, sudah mandi atau belum. Naik
__ADS_1
tingkat SD pertanyaan orang sudah berubah, gimana sekolah, rangking berapa di
sekolah. Semakin naik jenjang lagi pertanyaan akan bercampur menjadi
tuntutan. Sekarang sudah SMP ya, sudah besar harus tahu mana yang baik dan
tidak. Begitu seterusnya. SMA, yang ditanya mau kuliah di mana? Bagaimana persiapan ujian. Sudah punya pacar belum.
Dan anehnya orang lain merasa perlu untuk membahasnya melebihi diri kita
sendiri.
Sebelum menikah, ditanya kapan menikah, setelah menikah ditanya kapan
punya anaknya, setelah punya anak akan muncul pertanyaan baru, kapan ni mau
kasih adek buat si kakak. Haha, aku hanya bisa tertawa, karena aku melewati semua
fase itu.
“ Memang kalian menunda kehamilan?” Aku terjaga dari lamunan setelah kepergian Ren tadi, mendapati
diri masih ada di mana. Aku menggeleng pelan memberi jawaban.
“ Belum diberi kepercayaan bu.” kujawab sekenanya saja. Walaupun memang itu jawaban sebenarnya.
“ Semoga segera ya, kalau punya anak pasti akan secantik Mbak Aya atau
seganteng Mas Renan.”Aku mengamini doa ibu kepala.
“ Kita ke lapangan bola lihat anak-anaak main bu.” Harus keluar dari ruangan, menghindari deretan pertanyaan lainnya. Kami keluar dari
ruangan. Dengan pikiran kami masing-masing.
Menjadi perduli itu memang boleh, namun terkadang kita pun harus belajar
menjaga kata-kata. Bagiku mungkin ketika aku ditanya kenapa belum punya
momongan, kenapa belum punya anak juga? aku akan menjawab dengan senyum tanpa terbebani. Namun bisa jadi, ada seorang ibu yang sudah berusaha sekuat yang ia bisa bersama suaminya untuk mendapat
momongan. Namun ternyata Tuhan selalu punya rencanya sendiri. Hingga kata-kata yang tampak sederhana
ternyata menyayat hati dan membekas luka.
Seperti pertanyaan sederhana di bawah ini.
“ Memang sudah berapa tahun menikah? Belum punya anak ?”
Bersambung
__ADS_1
Epilog
Aku siapa? aku di mana? Aaaaaa, indahnya masa muda. Suara hati ibu kepala panti, melihat dua orang yang ada di depannya.