Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Muridku (Part 3)


__ADS_3

“ Hanan, kamu tidak sedang ngeprank


ibukan? Kamu  gak lagi ambil vidiokan? Ibu bisa marah lho kalau kamu


diam-diam ambil gambar.” Aku mempertegas kata-kataku. Bahwa kalau sampai dia


sedang mengambil gambar aku akan menghukumnya dengan benar.


“ Haha, Bu Aya saya gak bawa hp


atau kamera kok, lihat, lihat.” Hanan menunjukan kalau semua kantong celana dan


bajunya kosong. Ya, ya, aku gak buta juga kali kalo benda sebesar hp aku juga


pasti melihatnya.


“ Kalau begitu sekarang jelaskan


kenapa kamu gak kumpul PR.” Ku pegang buku yang sudah diletakannya di mejaku lagi.


“ Saya gak ada waktu bu.”


Hei bocah, semua orang juga bakal


jawab seenak itu, gak ada waktu,  atau sibuklah.


Dan apa lantas dengan jawaban itu kamu bisa lari dari tanggung jawab.


“ Terus kenapa sampai kamu gak ada waktu?” tanyaku lagi dengan serius.


“ Saya lagi fokus jadi vlogger bu, subscribe saya sudah banyak, mereka juga menuntut saya posting vidio rutin.” Meyakinkan sekali jawaban Hanan.


“ Waah, Hanan sudah jadi selebriti ya.” Aku bertepuk tangan kecil.


“ Haha, biasa aja bu, lagi merintis.” Bangga. Sambil menunjukan senyum penuh percaya dirinya.


“ Terus, memang bisa gitu, itu jadi alasan.” Seperti sudah disanjung lalu


dijatuhkan ke tanah, senyum di wajah Hanan lenyap.


“ Harus ada prioritaskan, apa yang lebih penting untuk kamu jalani sekarang.” Sekali lagi aku memberinya


pertanyaan standar. Kepada orang yang punya kesibukan atau melakukan sesuatu


bersamaan pada waktu yang sama. Skala prioritas ini penting, supaya kita bisa


mendahulukan apa yang memang harus didahulukan.


“ Prioritas saya mau jadi vlogger bu, saya sudah bisa dapat penghasilan dari sana.”


“ Wahhh, Hanan hebat ya.” Aku bertepuk tangan kecil lagi.


“ Saya tidak akan tersanjung lagi bu.” Ucap Hanan masam.


“ Haha.”


Duh ngambek.


“ Saat inikan prioritas kamu adalah


menjadi pelajar, fokuskan dulu di sekolah. Vlogger jadikan sebagai hobi diwaktu


senggang. Kamu bisa buat vidio diwaktu-waktu gak sekolah. Tapi tetap semua

__ADS_1


tanggung jawab kamu di sekolah harus dijalankan.”


“ Gak ada waktu bu, abis syuting, saya musti edit vidio juga, jadi benar-benar gak ada waktu.”


“ Wahhh, Hanan sibuk banget ya. Hebat lho, masih SMU, vlogger populer, bisa editing vidio juga. Oh keren,


keren.” Aku bertepuk tangan. Yang ini benar-benar tulus lho. Aku senang anak


muda sepertinya. Dia sudah tahu apa yang dia mau, mimpinya apa, dan dia bekerja


keras untuk mewujudkan impiannya. “ Akan lebih keren kalau Hanan juga sukses di


pendidikan.” Aku bertepuk tangan lagi. Sepertinya kalimat terakhirku mengena


ke hatinya. Sukses dalam pendidikan itu sudah seperti harga mati buat pelajarkan.


“ Bu aya boleh minta peluk gak.” Wajahnya


penuh harap. Dia sudah merentangkan tangannya lebar.


“ Usaha yang bagus nak.” Aku cuma tertawa saja membalasnya.


“ Sayakan terharu bu, ibukan sudah seperti ibu saya.” Idih.


“ Tapi maaf ya, gak perlu pakai peluk-peluk juga.” Kalau tahu aku memeluk laki-laki lain, ntah apa yang akan


terjadi nanti.


“ Hiks. Hiks. Ditolak mentah-mentah.”


Aku menyerahkan  dua lembar kertas kosong dan pena padanya. Dia menatapku dengan memelas. Tahu maksudku apa.


“ Duduk yang benar, buatlah


sekarang.” Aku menunjuk meja kerja milik guru lain di sampingnya yang kosong.


mau tulis apa.” Cari alasan supaya bisa membawa kertas itu pergi, sepertinya


dia ingin mengerjakan di kelas. Kalau perlu bisa mencari bala bantuan untuk


menuliskannya.


“ Pikirkan sekarang, dan buat surat


penyesalanmu. Dua lembar ya buat ibu dan pak Bahar.”


“ Tapi bu....”


“ Sekarang.” Aku mengibaskan


tanganku agar dia berhenti cari alasan.


Pasrah, Hanan mulai menulis surat


penyesalan diri. Sementara aku memeriksa PR karangan murid dari kelas lain.


Sebentar lagi waktu istirahat selesai, kulirik Hanan, sepertinya sudah menyelesaikan


satu surat.


“ Bu Aya suami ibu ganteng juga


ya.” Dia menunjuk foto Ren dan aku di atas meja. Aku nyengir. Sambil menunjuk

__ADS_1


kertas di depannya dengan ekor mataku. “ Ia ini juga sambil dikerjain bu.”


“ Pengen lho punya istri kayak bu Aya.”


Hei nak, kalau kamu beneran lagi


ngeprank aku jewer beneran telingamu nanti. Kenapa aku merasa curiga kalau


sedang dikerjai muridku ini ya.


“ Bu Aya gak pernah berfikir mau punya pacar lagi apa? Aku mau jadi pacarnya bu Aya.”


Hei nak mau aku jitak juga kamu ya. Seenaknya aja. Aku tidak menjawab ocehannya.


“ Gak akan ketahuan bu, nanti aku diam-diam aja.”


Hei nak, memang kamu pikir selingkuh itu indah apa. Yang indah itu menjaga kepercayaan pasangan. Yang


indah itu walaupun kamu tidak diminta tidak melirik orang lain oleh suamimu,


tapi kamu menjaga hatimu untuk berinteraksi dengan laki-laki lain. Untuk


menjaga kepercayaan suamimu.


“ Hanan, jatuh cintalah dengan cara yang benar nak.”


Dia melihatku. Jawabanku membuatnya


membisu, kehilangan bantahan. Surat penyesalan dirinya sudah selesai.


“ Ibukan sudah punya suami, lihat ini.” Aku menyodorkan fotoku dan Ren agar dia melihat lebih dekat. “ Jatuh cintalah dan kejar cintamu dengan cara yang benar. Tahu gak, kalau proses kamu mencari


cintamu dengan cara yang benar itu, insyaallah akan membawamu pada jodoh yang


sudah Tuhan takdirkan untukmu.”


“ Bu Aya becanda bu, becanda bu.


Sumpah.” Dia mengibaskan tangannya berulang-ulang saat aku sudah mengeluarkan


kata-kata yang serius.


“ Ibu tahu kok Hanan Becanda.


Hanankan anak baik.” Dia tersipu. “ Sudah selesai suratnya, mana yang untuk pak


Bahar.” Dia menyerahkan selembar. Kulipat dan masukan ke dalam amplop. “ Temui


pak Bahar dan minta maaflah.”


“ Baik bu.” Baru dua langkah dia berbalik lagi. “ Becanda bu, yang tadi becanda. Sumpah!”


“ Haha, ia bu Aya tahu, sudah sana cari pak Bahar.”


Aku tahu Hanan, walaupun agak ribut dan terlalu


percaya diri aku tahu kamu anak yang baik. Kupandang foto Ren yang menjadi salah


satu penghias meja kerja. Foto ini yang membuat Ren, dia membeli dua bingkai


foto yang sama. Satu untukku dan satu untuknya. Katanya, biar kami selalu


ingat, ada hati orang yang kami cintai yang harus kami jaga kepercayaanya. Dan ini

__ADS_1


berhasil.


BERSAMBUNG..............


__ADS_2