Suamiku Posesif

Suamiku Posesif
Final Episode (Panggilan Kakak)


__ADS_3

Terlewati juga minggu melelahkan ini. Kalian sudah bekerja keras


murid-muridku. Semoga hasil terbaik yang kalian dapatkan. Sama baahagianya


seperti pelajar , aku pun sangat senang minggu ini berlalu dengan baik.


Menunggu Ren pulang kerja, aku duduk di teras rumah sambil bermain hp.


Senja belum datang, masih banyak anak berlarian. Tapi tumben, tidak banyak


ibu-ibu yang berkumpul di sekitar area bermain. Membuatku menahan diri keluar


dan lebih memilih duduk di teras.


“ Mbak Aya!” Safina dan mamanya nongol di depan gerbang. Membawa wadah


makan tertutup. Aku tidak tahu isinya.


“ Safina.” Segera kubuka gerbang, berderik suaranya. “ Masuk mbak Ayu.


Aku tadi nungguin ibu-ibu, kok tumben pada sepi gak kumpul.”


“ Hehe, mereka pada belanja. Katanya ada diskon sembako di supermarket Grand


Mall hari ini. Tadi aku diajakin tapi kalau bawa tiga bocah aku nyerah deh.”


Wahh, berburu sembako diskon, percayalah ini jauh lebih menyenangkan ketimbang


diskon baju lebaran.  Aku saja berbinar-binar


kalau dapat diskon minyak goreng di minimarket depan. Hihi.


“ Mbak Ayu bawa apa.” Sambil meraih Safina dalam pangkuan.


“ Aku buat rujak tadi. Mbak Aya kan suka rujak, hehe, aku bagi.” Potongan-potongan


buah segar dan bumbu kacang yang mengkilap sudah membuatku tergiur.


“ Wahhh, terimakasih.” Nyomot jambu air,  di colek bumbu rujak. Pedasnya mengigit. “ Jangan-jangan mbak Ayu


lagi ngisi lagi ya.” Menepuk kepala Safina. memberinya buah pear yang cukup lembut digigit anak-anak. Lalu kuuyel-uyel pipinya gemas.


“ Tidak!” Memukul bahuku. Hiks sakit. “ Mbak Aya ini jangan donk, mbak


Aya duluan aja. Safina masih kecil.” Bisa kubayangkan bagaimana repotnya Mbak


Ayu kalau Safina punya adik lagi. Namun buah hati adalah rejeki dari Tuhan.


Hadiah indah bagi sepasang suami istri. Dalam kondisi apa pun, aku  yakin setiap ibu akan selalu bahagia


mendapatkan titipannya. Ngomongnya aja udah, udah, giliran di kasih sama Allah,


langsung ucap Alhamdulillah.


“ Mbak Aya duluan aja.”


“ Amiiin.” Sambil makan rujak kami bercerita banyak hal. Aku pun


menanyakan tentang kain penutup kepala yang selalu Mbak Ayu pakai di manapun


berada. Bahkan sekedar keluar dari rumahnya di halaman. Selembar kain yang


menunjukan ketaatan pada Ilaahi, tak pernah ia lepas.


Cerita Mbak Ayu mengetarkan hatiku. Tentang bagaimana Allah menyentuhkan


hidayah padanya. Saat itu ia masih SMU. Berarti sudah berapa lama waktu bergulir,


ia teguh hati memakainya sampai punya 3 anak hari ini.


“ Saat itu aku melihat bayangan kematian di mataku mbak. Kebetulan aku


sudah merantau dan kos waktu SMU.” Mbak Ayu membongkar kenangannya. “ Waktu


tidur sendirian malam aku pernah bangun dengan gelagapan karena takut. Gak


hanya saat tidur, bahkan ketika mataku terpejam saat aku terjaga

__ADS_1


sekalipun bayangan kematian itu tidak pergi. Aku menangis hebat saat itu, apalagi


aku jauh dari orang tuan.” Sudut mata mbak Ayu mulai menganak sungai. Aku


menepuk bahunya. Sepertinya ia masih bisa merasakan dengan jelas ingatan


sentuhan Hidayah itu. Walaupun tahun telah lama berganti.


“ Aku takut, karena aku bahkan belum menunaikan kewajibanku sebagai


wanita dengan menutup auratku.” Deg. Tanganku gemetar di samping tubuhku.


Seperti ikut merasai ujung ketakutan di mata Mbak Ayu. Mendengar ceritanya saja


aku sudah merinding.


Ya Allah kuatkan hatiku.


“ Kenapa? Mbak Aya sudah ada keinginan pakai jilbab ya.” Aku mengganguk


malu. Aku tak punya sentuhan spiritual atau apa pun seperti yang di ceritakan


Mbak Ayu. Keinginan itu pun terprovokasi karena harapan Ren dan ketiga kakak


iparku.


“ Tapi, aku tidak mengalami hal-hal mendebarkan seperti Mbak Ayu.”


Tangan Mbak Ayu merengkuh ke dua tanganku. Safina yang ada dipanguanku


diam saja dengan tenang.


“ Mbak Aya keinginan yang terbersit di hati Mbak Aya saja sudah lebih


cukup sebagai pertanda hidayah Allah datang sama Mbak Aya. Pegang itu, jangan


dilepaskan. Pegang yang kuat keinginan itu sambil mengucap bismillah.”


Aaaaa, ntah kenapa aku jadi menitikan airmata.


Suara klakson mobil, senja tak terasa sudah datang. Aku menyeka ujung


“ Safina,Om Renan sudah pulang, ayo dada.” Aku mencium pipinya, dia belum


turun dari mobil. Melihatku dengan seksama.


“ Mas Renan sudah pulang ya. Kalau gitu kita pulang yuk Fina.”


“ Makasih rujaknya ya Mbak Ayu, dan makasih sudah berbagi pengalaman luar biasanya


tadi.” Mbak Ayu mengangguk, menepuk bahuku pelan. Tersenyum sekedarnya pada Ren


yang turun dari mobil.


“ Kenapa kakak menangis? Apa mamanya Safina menyakiti kakak.” Meraih kedua pipiku. Masih menyisa jejak di ujung mata karena keharuanku mendengar cerita Mbak Ayu.


Padahal sudah kuseka airmataku. Tapi tetap ketahuan juga.


“ Ayo masuk sayang.”


“ Kakak menangiskan?”


“ Ia, ia. Tapi aku menangis karena bahagia kok, Sungguh.”


“ Kenapa? karena mamanya Safina Kakak menangis.”


" Bukan, ya memang si karena ceritanya."


" Gimana si, jadi apa yang buat Kakak menangis?" Pertanyaanya akan terus berputar-putar di situ sebelum kujawab dengan jelas.


***


Aku menunggu di atas tempat tidur.


“ Kakak sudah libur ya?”


“ Belum sayang kan belum bagi rapor. Masih koreksi nilai siswa.” Setelah

__ADS_1


menggantung handuk dia loncat ke tempat tidur. “ Cape ya Ren, ” tanyaku menyentuh


rambutnya.


“ Heem.” Menelungkupkan wajah di kakiku. “ Demi cuti tahunan aku harus


menyelesaikan semuanya.” Sepertinya kami benar-benar akan pergi bulan madu. Dia


terlihat sangat bersemangat dan bekerja keras mengejar target pekerjaannya.


“ Ren.”


“ Hemm.” Tidak mengangkat kepala. memainkan kakiku.


“ Dudulah,aku ingin bicara serius.” Ntah  kenapa bola mata itu berbinar senang. Duduk manis di sampingku. Ikut bersandar. Tangan kami terkait. Dia menyentuhkan punggung tanganku di pipinya.


" Tangan kakak memang hangat. Aku suka."


Ya Tuhan, kenapa semua yang dia katakan membuatku berdebar senang si. Aku kembali menguasai debaran jantungku. Karena yang mau aku sampaikan adalah perihal penting.


“ Ren aku siap untuk memakai


jilbab.”


“ Aaaaa.” Dia langsung memeluk tubuhku dari samping. “ Kakak, terimakasih. Aku senang sekali.”


" Maaf ya membuatmu menunggu lama."


Ren menggelengkan kepala. Duduk bersandar dan meletakkan tubuhku di pangkuannya.


" Itu kan hidayah Allah buat Kakak." Menyentuh leherku. " Aku tugasnya berdoa dan mengingatkan Kakak, dan aku akan melakukan itu sampai kakak siap."


" Terimakasih ya." Aku benar-benar bersyukur memiliki suami seperti Ren. Dia manis padaku dalam segala hal. Wajahnya memang menyempurnakan penampilan. Tapi percayalah, hatinya jauh lebih indah daripada wajah tampannya itu.


" Ayana." Eh, kenapa memanggilku begitu. Aku melihatnya tersenyum mencurigakan. Kenapa ini. " Masih ingat kalau aku akan memberi hadiah padamu." Hah! hadiah yang katanya rahasia yang aku sembunyikan itu.


Tuhan, keharuan sudah menguap. Aku jadi bertanya-tanya sekaligus takut.


" Apa?"


" Aku mau merubah panggilan untukmu." Deg. Maksudnya apa? Dia mau mulai memanggilku Ayana. Aku menggigit bibirku tidak suka." Ayana." menyentuh pipiku. Tidak tahu Ren menyadarinya atau tidak, tapi aku menghindar, memundurkan kepalaku. Aku tidak suka dipanggil begitu. Aaaa, kenapa ini. Itu seharusnya normal kalau dia memanggilku dengan nama. Bukan kakak, kakak yang selalu dianggap aneh oleh sebagian orang. Tapi aku suka kok. Aku senang dia memanggilku kakak.


" Kenapa tiba-tiba mau merubah panggilan untukku?" Lagi-lagi senyum mencurigakan itu.


" Ahh, karena aku sudah jadi suami keren yang mengizinkan istrinya memakai hijab." Apa hubungannya! Gak ada hubungannya sama sekali.


" Terserah kamulah mau panggil apa." Aku sudah mau turun dari pangkuannya. Aku mau tidur. Dia menahan kakiku. Melihatku lekat. Ntah kenapa aku jadi melengos. Dia jadi tidak terlihat seimut biasanya. " Aya marah?" Aku tidak marah. Aaaaaa, kenapa seharusnya di saat mengharugan begini si. Padahal aku sudah sangat senang tadi saat mengatakan keinginanku berhijab. Dapat ide darimana coba mengganti panggilan untukku. " Atau mau aku panggil apa. My baby, istri tersayangku, sayangku." Menyentuh daguku. Mengoyang-goyangkannya.


Kamu tidak terlihat manis lagi.


" Terserah Ren," akhirnya kujawab singkat. Aku merasa bergetar duduk dipangkuanmu. Benar kan, kamu terbahak. Tanganmu sampaai menutupi wajah. " Apa! Kenapa tertawa?"


" Habis Kakak lucu si." Deg. Apa-apaan si dia, aku semakin tidak tahu mau dibawa kemana pembicaraan kami. " Kakak tahu, rahasia terbesar yang coba kakak sembunyikan dariku." Tanganmu mengusap bibirku lembut. Apa, rahasia apa memangnya. Aku melotot, jangan bilang. Padahal selama ini aku berusahaa menyembunyikannya rapat. " Kakak tahu, kalau kakak malu telinga kakak memerah." Aku merinding saat Ren mengerakan lidahnya di telingaku.


" Apa si Ren." kudorong tubuhnya.


" Awalnya aku memang hanya mau menggoda dengan memanggil kakak padamu saat perjodohan. Aku berencana merubah panggilan setelah kita menikah. Tapi." Kalimatnya yang menggantung membuat wajahku merah padam. Bagaimana dia tahu kalau aku senang dipanggil kakak olehnya. " Tapi setiap melihat wajah kakak yang senang, ujung mata kakak yang berbinar, ujung bibir kakak yang berkedut karena panggilanku."


" Hei hentikan!" Aku berusaha menutup mulutnya. Aku pasti jadi terlihat aneh sekarang.


" Aku jadi tidak perduli dengan yang lain. Terserah orang mau mengatakan aneh. Melihat kakak yang bahagia hanya dengan panggilanku saja aku sudah sangat senang." Aku yang sedang berusaha mengolah pikiranku tanpa sadar sudah tertidur, menempel di kasur. Sementara Ren ada di atasku. Menyangga dengan lututnya. " Jadi sekarang." Menyentuh daguku. " Mengakulah, kalau kakak senangkan aku panggil begitu."


Cih, aku melengos. " Ia, aku senang." Tidak mau menatap wajahnya karena malu.Jadi dia cuma mau mengerjaiku dengan merubah panggilan tadi.


" Kakak." Menarik bajuku. Melemparkannya ntah kemana. " Kakak."


" Berhenti menggodaku." Aku berteriak malu.


" Haha. Bagaaimana ya aku suka melihat telinga merah kakak karena malu." Dia mulai menyusuri lekukan leherku. " Mulai hari ini cuma aku yaang bisa melihat leher kakak," berpindah ke telinga. " Kakak, kakak."


Huaaaa, terserahlah. Karena aku bahagia dengan panggilan itu. Benar, jantungku berdebar sampai hari ini saat dia memanggilku kakak. Karena aku senang Ren bahkan tidak perduli dengan pandangan orang lain. Ah, apa aku yang aneh. Tapi aku sungguh senang saat dia memanggilku kakak. Bahkan kata itu jauh lebih indah dibanding panggilan sayang apapun.


" Kakak. Kakak." Sampai larut, panggilan penuh sayang itu masih terdengar di telingaku.


Aku mencintaimu Ren, terimakasih untuk semuanya.


Tamat

__ADS_1


Yang dipanggil kakak itu Ayana,kenapa aku yang berdebar-debar ya. wkwkwkw.


__ADS_2