
Andrian belum menyelesaikan
suratnya sampai aku selesai menelfon. Ahh, lama juga ya, apa yang ditulisnya.
Sementara dari ruang BK Bagas sudah muncul.
“ Sudah selsai?” tanyaku.
“ Ia bu, sekali lagi saya minta maaf sama bu Aya.” Dia masih terlihat malu.
“ Ia, ibu percaya Bagas anak yang
baik, kedepannya mohon bantuannya ya ketua kelas.” Aku menepuk bahunya.
“ Eh, ia bu. Saya permisi.”
Aku melihat Andrian yang menoleh
saat aku bicara dengan Bagas. Kenapa? Sudah selesai suratmu. Sebentar lagi aku
pulang begitulah pikirku bernafas lega. Tapi saat Bagas keluar ruangan kau
kembali berbalik menghadap meja dan menulis. Apa! Jadi kamu belum selesai juga.
“ Andrian belum selesai juga?”
sepertinya nada suaraku sudah agak terdengar kesal.
“ Belum.” Dia bahkan menjawab tanpa
melihat ke arahku. Dasar bocah. Pah Hasan sudah keluar dari ruangannya, mendekat
ke arahku.
“ Belum selesai juga?”
Pertanyaannya ditujukan untuk Andrian, tapi bahkan anak itu tidak menoleh.
“ Belum pak, sebentar lagi ya.” Aku
yang menjawab. Pak Hasan keluar dari ruangan.
Hpku bergetar lagi di sela menunngu
Andrian menyelesaikan surat penyesalannya. Haikal menelfon. “ Assalamualaikum
kenapa dek?” aku langsung mengerutkan dahi. Kenapa hari ini semuanya pada mau
berantem si. Aku terkejut dengan informasi yang Haikal sampaikan. Kuminta untuk
bicara dengan Kirana. Adikku yang manis yang baru mengenal perasaan suka.
Semoga ini menjadi pelajaran berharga untukmu kedepannya. Aku menghela nafas
panjang. Masalah anak remaja itu banyak banget ya, aku terkadang pusing sendiri
dibuatnya.
Beneran, bicara panjang lebar
dengan Kirana,aku sampai lupa dengan Andrian yang masih di sampingku. Dia sudah
menatapku, dengan sorot mata itu lagi.
“ Belum selesai juga.”
“ Sudah.” Jawabnya singkat.
“ Kalau sudah kumpulkan sini, kamu bisa pulang sekarang.”
“ Siapa yang menelfon ibu barusan?” kenapa nada bicaramu seperti itu nak.
“ Haaa, adiku.” Kenapa juga kamu
mau tahu, lebih-lebih kenapa juga kujawab.
“ Apa dia seumuran dengan saya.”
Lho, lho kenapa malah jadi mengobrol begini.
“ Dia lebih tua dari kamu, sudah
kuliah. Ibu juga punya adik yang masih SMU, tapi dia juga lebih tua dari kamu.
Kelas 2 sekarang.”
“ Hemm, baguslah.”
“ Haa, kenapa?” apalagi maksudnya
anak ini. Aku membaca sekilas surat penyesalan panjang yang dia buat. Tidak ada
tertulis alasan kenapa dia berkelahi dengan Bagas tadi. “ Andrian tetap gak mau
cerita sama ibu kenapa tadi mukul Bagas.” Dia melihatku dengan sorot mata itu
lagi. “ Baiklah kalau tidak mau cerita gak papa, kaliankan sudah saling
berbaikan, kedepannya tolong bantuannya ya.”
“ Baik bu, saya permisi.”
“ Pulanglah. Hati-hati di jalan ya.”
Andrian hanya menganggukan kepala,
lalu aku melihatnya berjalan keluar ruang guru. Aku menghela nafas. Anak-anak
remaja ini memang kadang susah ditebak maunya apa.
***
Aku menungu Ren menjemput.
Setelah kuserahkan surat kepada pak
Hasan, aku pamit pulang. Sekolah sudah sangat sepi, masih ada beberapa siswa. Tidak
tahu apa yang mereka kerjakan kenapa belum pulang. Aku memilih duduk di kursi
taman, menunggu Ren. sambil bermain hp. Aku memeriksa akun sosial media Kirana.
Akun pribadinya belum ada postingan terbaru. Kuperiksa satu persatu, tidak ada
__ADS_1
foto laki-laki yang tidak aku kenal. Ah, rumitnya percintaan remaja. Aku belum
mengenal pacaran saat SMU dulu. Habis kemana-mana selalu sama mas Gilang atau
Haikal, jadi punya pacar itu gak penting-penting amat diusiaku yang segitu.
Chat masuk. “ Kakak aku sudah
di depan.” Aku langsung setengah berlari melewati gerbang kecil menuju halaman
depan sekolah. Ren sudah menunggu, berdiri bersender di pintu mobil.
“ Sayang, makasih ya sudah
dijemput.” Aku menghambur kepelukannya, masih melingkarkan tangan di pingangnya.
Muah, muah, aku bersuara seperti memberinya ciuman. Haha, ini jurus jitu supaya
dia tidak mengungkit masalah aku mau naik ojek tadi.
“ Kakak pasti cape ya.” Dia
menyentuh kepalaku lembut. “ Masuklah, kita pulang.” Sebenarnya senang dia
menjemputku begini, kalau aku mengesampingkan fakta dia harus izin pulang
cepat. Gak papa deh sekali-kali. “ Memang kenapa murid kakak berantem?”
Mobil mulai keluar gerbang sekolah.
Masih ada penjaga sekolah dan beberapa murid masih terlihat.
“ Gak tau, mereka gak ada yang mau bilang alasannya.”
“ Rebutan pacar kali.” Ya, masuk
akal juga, kadang urusan percintaankan bisa dibawa runyam.
“ Sepertinya bukan, satunya namanya
Andrian dia anak populer di sekolah satunya ketua kelas. Kalau rebutan pacar
sepertinya nggak. Tadi aku tanyakan kenapa berantem, Andrian jawab, tanya aja
Bagas kenapa saya memukul dia. Terus aku tanya, kenapa Bagas dipukul. Dia malah
yang minta maaf dan mengaku salah.”
“ Bikin bingung aja dasar bocah.
Tapi cukup sampai disini saja ya, aku gak mau kakak sampai mikirin mereka
berlebihan. Apalagi kalau sampai berhubungan diluar jam sekolah.” Duh, inget
aja untuk memberiku peringatan tegas masalah ini.
“ Ia sayang.” Kutowel pipinya meyakinkan.
“Tapi kalau kakak pulang telat
begini suruh temen kakak itu nunggu kenapa.” Sewot lagikan menemukan fakta
kalau bu Ari gak bisa nungguin kalau aku pulang telat.
“ Gak enak sayang, merepotkan dia.”
dibilang bukan masalah uang. Akunya yang gak enak.
“ Bukan itu masalahnya.” Sudah lemes aku ngomongnya.
“ Kalau gitu kakak mau aku beliin mobil. Kakak bisa bawa mobilkan.” Apa mobil, sembarangan, ngomongin beli mobil udah kayak beli kuaci di warung tetangga aja. “ Ya, aku memang gak punya uang
si buat beli mobil, tapi kalau aku merengek sama mama setiap hari, kurang dari
sebulan pasti dibeliin. Haha.” Anak ini, tapi dia gak bercanda lho. Mama bahkan punya
toko perhiasan di Grand Mall yang harga perhiasan yang dijual bisa setara dengan mobil.
Kucubit pinggangnya. “ Awas lho
kalo beneran bilang sama mama aku bakalan marah.” Ren tergelak. Beruntung aku
bukan istri yang suka merengek beli ini dan itu.
“ Ia gak akan minta mobil sama
mama, minta uangnya aja. Haha. Bolehkan?” eh anak ini.
“ Eh awas ya. Gak boleh bilang mama ya.” Aku meyakinkan dua kali.
“ Ia, ia.” Tapi dia menjawab masih
dengan tertawa, membuatku kuatir saja. “Kakak mau makan apa? Beli makan malam
sekalian ya?”
“ Boleh mau makan apa?”
“ Kakak mau makan apa?”
Yah gitu ditanya balik nanya.
Akhirnya kami memutuskan makan sate saja. Mampir di tempat sate yang sudah jadi
langganan kalau ingin makan sate. Dibungkus makan di rumah. Aku sudah ingin
mandi dan rebahan di karpet sambil meluruskan kaki dan merehatkan otak.
***
Sampai di rumah aku beneran ambruk
diatas karpet, masih memakai pakaian kerjaku. Ren membiarkanku, dia pergi
ke dapur dan membereskan dapur dari bekas sarapan kami tadi. Aku sebenarnya
belum tidur, karena aku masih mendengarnya masuk kamar mandi. Tapi setelahnya
aku benar-benar terlelap.
Aku terbangun karena ciuman lembut di pipiku.
“ Sudah bangun, mandi dulu sana.”
__ADS_1
“ Hemmm.”
Ren menyalakan tv sambil tiduran
di sampingku. Tapi alih-alih melihat tv dia malah memeluku. Katanya menyuruhku
mandi, kenapa malah memeluku erat begini.
“ Kakak sebentar lagi ulang tahun
pernikahan kita yang ke dua, kakak mau minta hadiah apa?” singkirkan tanganmu
Ren.
Hadiah ulang tahun ya. Aku belum memikirkannya.
“ Aku mandi dulu ya, nanti baru
kita ngobrol lagi, ya sayang ya.” Ren mencium leherku dua kali lalu melepaskan
pelukannya. Aku bangun dengan cepat sebelum dia berubah pikiran. Mandi benar-benar membuat kepalaku menjadi segar.
Aku keluar dari kamar Ren sudah
membawa makanan yang kami beli tadi di depan tv. Sepertinya dia menemukan acara yang menarik
untuk ditonton.
“ Gak ada sambel ya, aku baru pesan hari ini tadi.”
“ Kakak mau sambel kecap, aku buatin ya.”
“ Boleh sayang.” Aku duduk di depan
tv, sementara Ren ke dapur membuat sambal. Sebentar dia sudah kembali.
Mari makan....
“ Tadi Haikal nelfon.” Aku bercerita sambil makan.
“ Kenapa dia?”
“ Dia di sekolah Kirana, katanya
Kirana baru putus sama pacarnya karena diselingkuhi. Terus mau minta izin buat
berantem sama mantannya Kirana.”
“ Terus kakak izinin.”
“ Ia donk.” Jawabku sok imut.
“ Haha, tapi bohong.” Ren menjawab lalu terbahak, tau aku asal jawab.
“ Ya iyalah, masak aku kasih izin.
Memang ini hari berantem sedunia apa, pada mau berantem semua.” Di sekolah ada
murudku yang berantem, lalu Haikal menelfon minta izin berantem juga.
“ Kurang ajar itu cowoknya Kirana,
kalau mau putus ya putus aja dulu, kenapa malah selingkuh duluan baru putus.
Gak berguna.” Ren berkomentar membela adikku. Benar, walaupun sesama laki-laki
tapi membela lelaki selingkuh itu perbuatan tercela.
“ Ia aku juga paling benci sama
cowok yang suka selingkuh.” Kataku bersemangat, sambil mengunyah.
“ Sama aku juga gak suka sama istri
yang mau selingkuh.” Seringai sejuta makna di bibir Ren sambil menatapku tajam
begitu.
Haha, apa ini, pasti mengungkit
ojek tadikan, aku bahkan belum naik ojeknya sudah disebut mau selingkuh. Duh,
standar selingkuhmu itu apa si. Jangan-jangan aku ngelirik laki-laki sudah
disebut selingkuh.
“ Haha sayang, kalau begitu boleh gak aku bawa motor sendiri.”
“ Usaha yang bagus kak.”
Aku manyun, jadi areaku boleh membawa motor itu cuma rumah sampai minimarket di depan aja. Udah cuma sampai situ aja. Kenapa? karena aku pernah jatuh dari motor, yang jatuh aku tapi yang trauma
dia. Sejak saat itu aku tidak ada izin membawa motor sendiri. Agak merepotkan
memang, apalagi aku gak boleh naik ojek yang drivernya laki-laki.
“ Sayang, aku akan sangat berhati-hati.”
“ Tidak.” Menjawab tegas.
“ Sungguh.” Masih berusaha merengek, supaya dia luluh.
“ Jangan memancingku untuk melarangmu ke sekolah.”
Duarrr!
“ Ia sayang, aku masih bisa nebeng
sama bu Ari atau dijemput kamukan.” Aku mengedipkan mata. Menghentikan topik
izin untuk membawa motor sendiri. Alih-alih berhasil malah membuatnya kesal dan
melaraangku pergi ke sekolah. Bisa gawat itu. Kami menyelesaikan makan sambil
berkomentar tentang acara tv yang kami tonton.
BERSAMBUNG................
__ADS_1