
Siapa pun yang mendengar, pasti akan merasakan keanehanya. Murid memberi surat
cinta pada gurunya, yang sudah menikah lagi. Ini kalau mau dibuat judul novel apa ya kira-kira judul pasnya.
Dan itu Andrian, anak popular di sekolah yang bahkan punya fansclub.
Apa dia terobsesi pada wanita yang lebih tua dengan usianya. Itu bukan dosa si, selera orang kan beda-beda. Standar kecantikan saja relatif, apa lagi alasan untuk mencintai. Tapi kenapa, kenapa harus padaku, guru yang sudah
bersuami. Masih tidak habis pikir. Di sekolah juga ada guru yang cantik-cantik dan statusnya masih
single. Kenapa tidak pada mereka. Walaupun tetap cinta tidak biasa, tapi tidak seaneh ini kan.
Aku mendesah berkali-kali saat memberi prolog pada Mas Gilang dan kakak
iparku.
Aku menceritakan semuanya. Sumber kegalauanku di malam di mana aku
merasa mengkhianati kepercayaan Ren padaku. Kepercayaan yang di ikat oleh cinta
kami.
Murid di kelasku yang sudah secara terang-terangan memberiku surat,
walaupun aku tidak tahu, surat cinta atau bukan, tapi aku merasa itu tidak
wajar sama sekali. Mas Gilang dan kakak ipar mendengarkan, menyela sesekali
dengan beberapaa pertanyaan. Kujawab sesuai fakta yang ada. Mereka terdengar
bicara antara mereka sendiri.
Aku dengar semua yang kalian katakan.
Aku menjelaskan semuanya. Siapa Andrian, seperti apa dia di dalam kelas. Bagaimana populernya dia di
sekolah baik di kalangan perempuan atau laki-laki. Dia yang biasanya terlihat
cool dan tenang tiba-tiba berkelahi dengan ketua kelas. Aku yang sampai hari
ini belum tahu sebenarnya alasan apa yang melandasi pertengkaran mereka.
“ Dia memang terkadang menatapku dengan pandangan yang cuma dia yang
tahu artinya,” ujarku lagi. Tentu aku tidak lupa mengatakaan tentang kebiasaanya
makan siang sendirian di depan lab kimia. Aku masih melihatnya di sana. Sampai
siang tadi.
Dia tidak merasa malu ketika aku memergokinya.
“ Sudah kamu baca suratnya?” kakak ipar kembali menyela ceritaku. Aku
langsung melirik amplop yang belum berani kusentuh itu.
“ Belum Kak, aku takut.”
__ADS_1
Takut isinya akan membuat hubungan guru dan murid menjadi canggung. Aku
adalah wali kelasnya, bagaimana aku akan menghadapinya kalau sampai surat
itu berisi pernyataan cinta. Setidaknya aku masih punya urat malu untuk berdiri di depannya.
“ Bagaimana latar belakang keluarga Andrian?” Kakak ipar sedang mencoba membantuku menemukan alasan.
Aku tidak tahu apa-apa soal ini. Karena aku membuat ruang yang jelas,
membuat jarak kehidupan pribadi dan pekerjaanku.
“Coba cari tahu latar belakang keluarganya, mungkin dia anak laki-laki yang butuh
perhatiaan. Dan dia menemukannya darimu.”
“ Sayang, aku akan marah lho kalau kamu bersikap melebihi batas dengan
laki-laki seperti itu. Apalagi Renan.” Suara Mas gilang seperti menguyur
kesadaranku yang sedikit terlena. Ah,kakak ipar juga kan perempuan. Pasti
pendapat dan penilaiannya tidak jauh sepertiku. Aku yang awalnya sudah
mencatat idenya di kepala, langsung menghapusnya lagi.
“ Sayang, inikan cara untuk mencari tahu latar belakang Andrian mengirim
surat.”
" Tetap saja, aku tidak rela istriku melakukan hal seperti itu. Itu hanya membuka celah untuk dia semakin mendekati Aya." Mas Gilang dengan argumen laki-lakinya yang tegas bicara pada kakak ipar.
isinya. Dek, kamu tahu sendirikan bagaimana sifat suamimu.” Sekarang beralih padaku. Sekali lagi aku
tersadar.
Hal ini akan dia anggap sebagai penghianatan besar. Ren bisa mencabut izin bekerjaku.
“ Mas juga akan marah kalau istri mas menerima surat cinta dari
laki-laki lain. Jadi sekarang buka suratnya dulu dan lihat apa isinya." Benar, tidak ada hubungan yang terjalin kalau kita tidak membuat simpulnya. Mau aku berkilah, aku memiliki andil. Aku tidak bisa begitu saja lepas tangan.
“ Baiklah.” Aku masih ragu ketika menjangkau surat putih itu. Kuangkat
ke udara, menembus di atara cahaya lampu. Terlihat selembar kertas di
dalamnya. Sambil berdoa ku sobek sampul amplop, dan melihat selembar kertas
yang terlipat itu.
Hah! Apa ini. Aku tidak bisa menutupi rasa terkejut sekaligus perasaan
malu yang langsung muncul begitu saja. Sudah kubilang apa, jangan terlalu percaya diri Ayana. Aku
memukul-mukul bantal tertawa geli sendiri.
“ Kenapa dek?” Aku belum selesai tertawa, masih merasa geli sendiri.
__ADS_1
“Aya kenapa? Kok kamu malah tertawa. Isi suratnya apa? ayo bacakan. Kami juga
penasaran.”
“ Haha.”Aku masih tertawa melihat sebaris kata yang tertulis di kertas
putih itu. “ Sudahlah Kak, Aya malu membacanya.”
Dasar bocah, apa dia sedang mengerjaiku. Seharusnya aku tahu dengan gaya cueknya itu.
“ Hei, apa, ayo bacakan aku penasaran. Mas Gilang juga bakal gak bisa tidur.”
“ Bikin malu saja.” Gumam.gumam. “ Dia cuma mengerjai Aya Kak. Dia cuma
menulis satu kalimat."
" Apa? baca Dek."
" Semoga Bu Aya hidup dengan bahagia." Udah gitu aja. Padaahal surat ini sudah membuaatku galau selama seharian.
" Lucu banget si Aya murid kamu."
" Alhamdulillah kalau begitu. Tunjukan suratnya pada Renan besok dan ceritakan semuanya padanya. Sekarang istirahatlah."
Ahhh, malunya aku.
" Ia Mas selamat istirahat. Selamat malem juga Kak, salam ya sama anak-anak." Setelah mendengar kakak ipar mengucap salam sambungan terputus. Surat yang membuatku merasa geli sendiri masih kupegang. Kubuka lipatan di bawahnya. Eh, masih ada tulisannya kecil di ujung paling bawah.
Apa-apaan ini bocah.
Note : Kalau ibu tidak bahagia bersama suami ibu datanglah pada saya.
Ini artinya benar surat cinta kan!
***
Aku jatuh tertidur saat masih berfikir keras bagaimana menunjukan surat Andrian pada Ren besok. Menunjukan dengan cara paling bijaksana.Supaya suasana tetap damai dan tenang adanya.
Aku mengeliat antara sadar dan tidak, merasai ciuman di leher dan juga
pipiku.Masih terasa, akupun mencium aroma segar sabun mandi. Aku memiringkan tubuh. “ Sudah pulang ya sayang. Hemm. Hem. Hemm” Masih dengan
mata terpejam. Mulut berbicara. Gumam-gumam meraih dekapan tangan Ren. Merasai wangi tubuhnya sehabis mandi. " Tidurlah, Ren pasti lelah." Masih bicara dengan memejamkan mata. Sambil menepuk-nepuk bahu.
“ Kakak merindukanku.” Aku merasakan beberapa ciuman lagi. Lebih dari yang tadi.
“ Hehe, ia. Muridku mengirim surat cinta padaku. Hehe.”
Ren langsung membeku. “ Apa! Kakak bilang apa?”
Gumam-gumam sambil mempererat pelukan. Membenamkan wajahku.
“ Kakak!”
“ Saranghae Ren, aku cinta Ren. Hehe.” Uyel-uyel wajah dalam pelukan Ren.
“ Kakak!.”
__ADS_1
Dan aku membuat Ren nyaris tidak tidur semalaman. Walaupun begitu dia tidak membangunkanku.
Bersambung